Review Lukisan Karya Canting Puji Setya Wilujeng, “Memeluk Mimpi”

Oleh : Nurul Jannah*)

Akrilik di Kanvas | 40 x 50 cm | 2026

Lukisan karya Puji Setya Wilujeng ini tidak memamerkan kemewahan warna yang gaduh. Namun ketika dilihat lebih dalam, ia tidak hanya indah, ia menghentak, menghantam pelan, lalu menetap lama di dada.

Di tengah hiruk-pikuk kota yang digambarkan dengan sapuan warna emas kecoklatan, sebuah becak biru tidak bergerak, ia menepi, seperti memilih berhenti di tengah arus yang tak pernah selesai.

Di dalamnya, seorang pemilik becak, sedang merebahkan tubuhnya dengan tenang, seolah dunia boleh berlari, tapi ia memilih bernapas.

Di titik itulah, lukisan ini mulai berbicara.

Ia sedang berkisah tentang keberanian untuk berhenti, tanpa kehilangan arah. Ia memperlihatkan satu hal yang sering kita lupakan, ketenangan yang lahir dari penerimaan, tanpa harus melepaskan mimpi.

Becak itu bukan hanya kendaraan. Ia adalah perjalanan hidup yang sederhana, namun jujur.

Ia adalah ruang kecil tempat hati belajar berdamai dengan dunia yang tak pernah benar-benar ramah.

Sementara di belakangnya, kendaraan modern melintas.

Cepat.

Bising.

Seolah hidup harus selalu dikejar, bukan dijalani.

Namun ironisnya, yang tampak lebih utuh justru yang memilih berjalan pelan.

Sapuan warna emas pada latar bukan hanya estetika.
Ia seperti waktu yang terus mengalir, mengikis yang rapuh, namun juga mematangkan yang bertahan.

Dan di tengah arus itu, sosok dalam becak tidak hanyut.

Ia tidak melawan.

Ia tidak mengejar.

Ia memilih tetap tinggal, dan itu justru kekuatannya.

Ia memilih diam. Ia memilih berhenti sejenak. Ia memilih memeluk mimpinya sendiri, tanpa perlu menjelaskannya pada siapa pun.

Lukisan ini menjadi sangat personal, karena idenya lahir dari tulisan diri, “Ngopi di Marlboro” dalam Antologi TOMOKO “Langit yang Menyimpan Rindu.” Ada kesinambungan yang halus namun kuat, antara kata dan warna, antara rasa dan bentuk, antara luka dan harapan yang tidak pernah benar-benar padam.

Dan di titik paling dalam, lukisan ini bukan lagi tentang becak.

Ia adalah cermin.

Tentang kita, yang sering merasa terlambat. Yang sering merasa kecil. Yang diam-diam mulai meragukan mimpi sendiri.

Namun lukisan ini berbisik pelan, tidak ada kata terlambat untuk memeluk mimpi. Bahkan dalam usia yang tidak lagi muda, dalam langkah yang mungkin tidak lagi cepat, mimpi tetap berhak hidup. Tetap berhak tumbuh. Dan tetap layak diperjuangkan.

Dan di situlah lukisan ini menjadi lebih dari karya. Ia bukan hanya gambar, ia adalah doa yang sedang dilukis. Ia adalah keyakinan yang menolak menyerah. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang seberapa setia kita menjaga mimpi, meski dunia terus berlari meninggalkan kita.

Di tengah dunia yang sibuk mengejar pengakuan, lukisan ini memilih diam, namun justru dari diam itu, ia menyampaikan suara paling dalam, bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang memiliki segalanya, tetapi tentang berani memeluk apa yang kita impikan, meski hanya dengan tangan sendiri.🌹❤️❤‍🔥

Bogor, 23 April 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *