Cerpen : Nurul Jannah*)
“Tidak semua kehilangan membuat kita miskin. Ada yang membuat kita tidak lagi berani menatap diri sendiri.”
Sejak kecil, Ayah selalu mengatakan hal yang sama.
“Kalau tidak punya apa-apa, tidak apa-apa. Tidak masalah. Yang penting jangan kehilangan harga diri.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Ia seperti sumpah yang diulang-ulang, di meja makan, di perjalanan pulang, bahkan saat kami duduk dalam gelap karena listrik padam.
Waktu itu, aku belum benar-benar mengerti.
Aku hanya tahu, kami hidup sederhana.
Rumah kecil. Motor tua yang sering mogok. Ibu yang selalu menghitung uang sebelum belanja.
Tapi Ayah selalu pulang dengan wajah tenang. Ibu pun selalu nampak ceria menyambut Ayah pulang. Tidak pernah membawa pulang cerita yang membuat kami menunduk di depan siapa pun.
Sampai suatu hari, semuanya berubah.
*
Ayah pulang lebih larut dari biasanya. Bajunya rapi. Sepatunya baru.
Di meja makan, ada hidangan berlebih. Bukan sekadar cukup. Ibu diam. Tidak banyak bertanya.
Aku yang masih kecil justru bersorak.
“Wah, Ayah hebat sekarang!” kataku polos.
Ayah tersenyum. Tapi senyum itu berhenti di bibir, tidak pernah sampai ke matanya.
- Sejak hari itu, hidup kami berubah pelan-pelan.
Motor tua diganti. Rumah diperbaiki. Fasilitas rumah mewah mulai dipenuhi. Aku pindah ke sekolah yang lebih mahal.
Orang-orang mulai memanggil Ayah dengan lebih hormat, “Pak…”.
Panggilan Pak lebih sering dilayangkan daripada sebelumnya, hanya memanggil nama.
Aku bangga. Sangat bangga. Aku menyebut nama Ayah dengan dada yang penuh, seolah keberhasilannya adalah juga keberhasilanku.
Sampai suatu malam, aku terbangun. Terdengar suara pelan dari ruang tamu.
Aku mengintip. Ayah duduk sendiri. Lampu redup. Di depannya, amplop tebal. Segepok.
Tangannya menutup wajah. Bahu yang biasanya tegap, terlihat rapuh, seolah sedang memikul beban yang tidak terlihat. Aku belum pernah melihat Ayah seperti itu.
- Beberapa waktu kemudian, orang-orang mulai datang.
Wajah mereka tegang.
Suara mereka dingin.
Rumah kami tidak lagi terasa aman.
Dan suatu pagi, Ayah tidak pulang.
Ibu duduk di ruang tengah. Diam. Diam yang tidak biasa, diam yang terasa seperti sedang menahan seluruh beban hidup agar tidak hancur di depan mata.
“Bu… Ayah ke mana?” tanyaku.
Ibu menatapku lama. Matanya terlihat sembab.
“Tugas,” jawabnya pelan.
Aku percaya.
*
Tapi sejak hari itu, rumah kami seperti kehilangan rasa hangat, meskipun hampir semua benda mewah ada di dalamnya.
Beberapa minggu kemudian, wajah Ayah muncul di televisi. Bukan sebagai sosok yang aku kenal. Namanya disebut, dengan nada yang membuat dadaku sesak.
Tanganku gemetar. Aku menoleh ke Ibu.
Ibu mematikan televisi dengan cepat.
Hari-hari setelah itu terasa berat. Tatapan orang berubah. Bisik-bisik terdengar di belakang kami.
Teman-temanku mulai menjauh.
Aku mulai belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah: bagaimana rasanya membawa nama yang tidak lagi dihormati.
Aku tidak lagi menyebut nama Ayah dengan bangga.
- Suatu hari, aku membuka lemari Ayah.
Di laci kecil… aku menemukan sebuah buku tua. Tulisan tangan Ayah.
Halaman pertama:
“Untuk anakku Rama…,
Kalau suatu hari Ayah tidak ada di rumah, jangan cari Ayah di luar. Cari Ayah di dalam kalimat ini.”
Tanganku bergetar saat membalik halaman.
“Ayah pernah ingin menjadi orang baik…dan Ayah tahu caranya. Tapi Ayah juga pernah lelah menjadi satu-satunya yang bertahan….”
Air mataku mulai jatuh.
“Saat pertama kali Ayah menerima amplop itu, Ayah berkata pada diri sendiri: hanya sekali.”
Napasku makin terasa berat.
“Tapi yang dimulai dari sekali, sering kali tidak berhenti di sana…”
Aku mulai menahan tangis.
“Yang Ayah bawa pulang bukan hanya uang. Ada beban yang ikut masuk, dan perlahan merusak rumah kita.”
Air mataku tidak bisa ditahan.
“Yang paling Ayah takutkan, bukan kehilangan jabatan. Bukan kehilangan nama.”
Tanganku gemetar.
“Tapi kehilangan keberanian… untuk menatapmu tanpa rasa bersalah.”
Aku buru-buru menutup buku itu. Robek rasanya dada ini.
Aku menjadi sangat paham. Kenapa rumah kami akhir-akhir ini terasa hambar dan hampa. Padahal semua perabotan dan fasilitas sudah upgraded. Luxury semua.
Karena ternyata semua keberkahan yang sebelumnya ada, sudah dicabut semua oleh Allah. Akibat ada barang haram yang masuk…
- Beberapa tahun berlalu. Ayah akhirnya pulang, ketika aku baru saja menyelesaikan sidang akhir di Fakultas Hukum salah satu universitas ternama di Indonesia.
Langkahnya pelan. Wajahnya jauh lebih tua. Aku berdiri di depan pintu.
Kami saling menatap.
Lama.
Ayah tersenyum tipis.
Rapuh.
“Maaf…” katanya. Satu kata.
Kata yang terlambat, dan tidak cukup untuk mengembalikan apa yang telah hilang.
Aku ingin marah. Ingin bertanya. Ingin mengembalikan semua yang pernah kami miliki.
Tapi yang keluar hanya suara pelan: “Ayah… kenapa dulu Ayah ajarkan aku tentang harga diri, kalau akhirnya Ayah sendiri yang meninggalkannya?”
Ayah menunduk. Tidak menjawab. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Ayah bukan sebagai orang kuat. Tapi sebagai manusia yang tahu mana yang benar, dan tetap memilih berjalan menjauh darinya.
Sejak hari itu, kami tetap tinggal di rumah yang sama. Kami tetap makan di meja yang sama. Tapi ada yang tidak pernah kembali. Rasa bangga, saat menyebut nama Ayah.
Aku akhirnya memahami: ada uang yang datang dengan cepat, tapi membawa pulang kehilangan yang tidak bisa dibayar dengan apa pun, yaitu kepercayaan. Dan sekali ia hilang, bukan hanya dunia saja yang berubah, tapi cara seorang anak memandang ayahnya, untuk selamanya.
Bogor, 31 Maret 2026❤️
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




