Oleh : Sumartono*)
TIGA tahun menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Barat 2029, sebagian orang menganggap pembicaraan tentang kontestasi politik masih terlalu dini.
Namun, dalam konteks demokrasi yang sehat dan berdaya, tidak ada istilah “terlalu cepat” untuk mulai menilai, mengenal, dan menguji kualitas calon pemimpin. Justru, proses panjang inilah yang menentukan kedewasaan politik masyarakat.
Pilgub bukan sekadar agenda lima tahunan, melainkan momentum strategis untuk menentukan arah masa depan daerah, terutama bagi Sumatera Barat yang kaya nilai budaya, sumber daya, dan potensi generasi muda.
Dinamika menuju BA 1—simbol nomor kendaraan gubernur—sudah mulai terasa, meski belum tampak secara terbuka. Para tokoh, elit, partai politik, mulai membangun komunikasi, memperluas jejaring, dan mengukur elektabilitas.
Namun, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi subjek aktif yang mampu memilah, menilai, dan bahkan menantang gagasan para calon pemimpin.
Kesalahan terbesar dalam demokrasi adalah ketika pilihan didasarkan pada popularitas semata, bukan kapasitas dan integritas.
Membangun Kesadaran Politik yang Mencerahkan
Kesadaran politik masyarakat Sumbar harus dibangun melalui dialog yang terbuka, kritis, dan berkelanjutan. Pemimpin potensial perlu diuji bukan hanya dari seberapa sering mereka muncul di media atau seberapa kuat dukungan elit di belakangnya, tetapi dari sejauh mana mereka memahami persoalan riil masyarakat.
Mulai dari isu pendidikan, pengangguran, ekonomi kreatif, hingga tantangan global seperti digitalisasi dan perubahan iklim—semua membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara konseptual, tetapi juga adaptif dan solutif.
Dialog publik menjadi sarana penting untuk mencerdaskan masyarakat. Forum-forum diskusi, baik formal maupun informal, harus digalakkan. Kampus, komunitas, bahkan ruang-ruang digital seperti media sosial dapat menjadi wadah pertukaran gagasan.
Masyarakat perlu didorong untuk bertanya: Apa visi calon pemimpin terhadap masa depan Sumbar? Bagaimana strategi mereka dalam menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan kearifan lokal? Apa rekam jejak mereka dalam menyelesaikan masalah nyata?
Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak lagi mudah terpesona oleh citra atau kekayaan kandidat. Sebab, pemimpin yang hanya populer di kalangan elit atau memiliki sumber daya finansial besar belum tentu mampu membawa perubahan signifikan.
Justru, yang dibutuhkan adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat, memahami denyut kehidupan masyarakat, dan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan publik.
Potret Ideal Pemegang BA 1 dan Partisipasi Publik
Pemegang BA 1 ke depan haruslah sosok yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Ia bukan hanya seorang administrator, tetapi juga inspirator yang mampu menggerakkan masyarakat.
Pemimpin ideal Sumbar adalah mereka yang memahami filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” sekaligus mampu menerjemahkannya dalam kebijakan yang relevan di era modern.
Lebih dari itu, pemimpin tersebut harus memiliki visi global tanpa kehilangan akar lokal. Ia mampu membawa Sumatera Barat bersaing di tingkat nasional dan internasional, namun tetap menjaga identitas budaya Minangkabau. Transparansi, integritas, dan keberpihakan pada rakyat kecil menjadi nilai mutlak yang tidak bisa ditawar.
Untuk mencapai hal tersebut, partisipasi masyarakat harus ditingkatkan secara signifikan. Pendidikan politik menjadi kunci utama. Masyarakat perlu dibekali pemahaman tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, termasuk pentingnya memilih berdasarkan pertimbangan rasional.
Media massa dan platform digital harus dimanfaatkan sebagai alat edukasi, bukan sekadar alat propaganda.
Selain itu, keterlibatan generasi muda sangat penting. Mereka adalah pemilih potensial yang jumlahnya besar dan memiliki akses luas terhadap informasi. Jika diarahkan dengan baik, generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang mendorong politik yang lebih bersih, transparan, dan berorientasi pada masa depan.
Pilgub Sumbar 2029 bukan hanya tentang siapa yang akan menang, tetapi tentang bagaimana proses menuju kemenangan itu dijalankan. Apakah penuh dengan intrik dan manipulasi, atau justru diwarnai dengan adu gagasan dan integritas? Jawabannya sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dalam menyambutnya.
Akhirnya, BA 1 bukan sekadar simbol kekuasaan, tetapi amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
Maka, sejak hari ini, masyarakat Sumatera Barat perlu mulai bergerak: mencerdaskan diri, membuka ruang dialog, dan berani menentukan pilihan secara bijak. Karena masa depan daerah ini tidak ditentukan oleh siapa yang paling dikenal, tetapi oleh siapa yang paling layak memimpin. []
Dosen Komunikasi Universitas Ekasakti dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Media dan Komunikasi Kontemporer*)




