Cerpen : Nurul Jannah*)
“Ada hati yang tidak rusak, hanya terlalu lama dibiarkan sendiri, hingga akhirnya lelah berharap untuk dipeluk.”
Di tempat ini, yang hilang bukan akal. Yang hilang adalah kehangatan yang dulu membuat hidup terasa layak diperjuangkan.
Pagi di Rumah Sakit Jiwa Kota Bogor tidak pernah benar-benar tenang.
Ia hanya tampak sunyi di permukaan, padahal di dalamnya ada riuh yang tidak terdengar oleh telinga biasa.
Udara dingin Bogor merayap pelan, menembus kulit, dan menetap damai di dada.
Koridor panjang itu terlihat ramai seperti biasa. Ia penuh oleh nama yang dipanggil tanpa jawaban. Penuh oleh langkah yang kembali ke titik yang sama.
Dr. Ratih Paramita berjalan perlahan menyusuri koridor panjang itu.
Usianya tiga puluh dua tahun. Wajahnya lembut, matanya bening, dan senyumnya selalu datang lebih dulu dari kata-katanya.
Para pasien menyebutnya “dokter bidadari”, bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tetapi karena ia hadir dengan sikapnya yang hangat, tanpa jarak, tanpa menghakimi.
Ia tidak hanya mengobati pikiran, ia datang dengan hati, menyentuh luka paling dalam yang sering tak terlihat.
“Assalamu’alaikum, Dok…”
Suara itu selalu lebih dulu datang.
Ratih menoleh. Tersenyum.
“Wa’alaikumussalam, Pak Bahrun.”
Bahrun, lima puluh empat tahun.
Rambutnya mulai memutih. Tubuhnya kurus, tapi selalu berusaha rapi.
Di antara banyak pasien, ia yang paling setia menunggu di lorong, duduk di kursi yang sama, seolah hidup akan kembali normal setiap kali Ratih Paramita datang.
“Dok… hari ini cantik.”
Ratih tertawa kecil.
“Bapak ini ya… setiap hari begitu.”
“Karena memang begitu,” jawab Bahrun ringan.
Nada itu bukan hanya pujian, melainkan cara sederhana untuk memastikan dirinya masih hidup.
“Dok…”, Bahrun mendekat sedikit.
“Saya mau minta tolong.”
“Apa, Pak?”
Bahrun menunduk. Menarik napas panjang.
Lalu berkata pelan,
“Carikan saya istri yang sholeh.”
Ratih terdiam.
Di bangsal lain, tawa pecah tanpa arah. Di sudut lain, suara memanggil-manggil nama berulang tanpa balasan.
Namun di hadapannya, tidak ada ketidakwarasan. Yang ada hanya seorang lelaki paruh baya, dengan kesepian yang telah dipendam begitu lama.
“Kenapa ingin menikah lagi, Pak?” tanyanya lembut.
Bahrun tersenyum. Senyum yang terlihat rapuh.
“Biar ada yang menanyakan, kapan pulang. Biar ada yang menunggu saya di pintu. Biar ada teman bicara. Biar saya nggak ngobrol sama dinding lagi…”
Kalimat itu sederhana.
Namun menghantam lebih keras dari jeritan mana pun di rumah sakit ini.
“Dulu saya punya istri, Dok…”
Ratih mendengarkan dengan serius.
“Baik sekali, sabar sekali.
Tapi saya sibuk. Sibuk kerja, sibuk cari uang, sampai terkadang lupa pulang. Lupa duduk di sampingnya…”
Ia tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti penyesalan yang datang terlambat.
“Sekarang saya punya waktu, tapi orangnya sudah tidak ada.”
**
Sejak hari itu, Bahrun sering bercerita.
Tentang rumah kecil yang dulu hangat. Tentang istri yang selalu menunggu di pintu. Tentang anak-anak yang kini tidak lagi pernah datang.
Dan satu kalimat yang terus ia ulang: “Dok… saya ini belum selesai mencintai.”
Dr. Ratih Paramita mendengarkan.
Dengan sabar.
Dengan hati.
Namun tanpa ia sadari,
ia bukan lagi hanya sebagai pendengar biasa, ia sudah menjadi satu-satunya tempat Bahrun merasa pulang.
**
Hari-hari berubah.
Bahrun mulai merapikan diri setiap pagi. Menyisir rambutnya dengan teliti.
“Dok… kalau saya sembuh… saya mau hidup normal lagi.”
“Insya Allah, Pak.”
Bahrun menatapnya.
Lama. Dalam.
Terlalu dalam untuk harapan yang seharusnya tidak dibiarkan tumbuh.
“Dok… saya mau melamar.”
Ratih tersenyum tipis.
“Melamar siapa, Pak?”
Bahrun tidak tersenyum.
Ia hanya berkata datar, “Dokter.”
Udara terasa berhenti.
“Bapak bercanda, ya?”
Bahrun menggeleng.
“Sejak istri saya pergi, saya seperti tidak benar-benar hidup. Tapi setiap dokter datang, rasanya hidup itu hadir lagi.”
Kalimat itu jelas tidak salah. Tidak juga keliru. Namun lahir dari hati yang retak. Dan retak itu, tidak bisa dijadikan tempat bersandar.
- Sejak hari itu, Ratih mulai menjaga jarak.
Ia tetap tersenyum.
Tetap ramah.
Namun tidak lagi duduk dekat. Tidak lagi membiarkan percakapan terlalu dalam.
Bahrun merasakannya.
Karena hati yang pernah hancur, paling peka membaca perubahan sekecil apapun.
“Dok…”, suatu sore ia datang ke ruangan Ratih dan bertanya,
“saya salah ya?”
Ratih menahan napas.
“Bapak tidak salah…”
“Terus kenapa dokter menjauh?”
Hening.
“Apa karena saya pasien?”
“atau karena saya sudah tua?”
Ratih tidak menjawab.
Ia tahu, kejujuran mampu menyembuhkan, namun pada saat yang sama, bisa pula menghancurkan.
Malam itu, hujan turun deras di Bogor.
Air menghantam atap bangsal tanpa henti, seperti pesan yang terus dikirim, namun tak pernah mendapat jawaban.
- Keesokan paginya, suasana berubah.
Lebih sunyi.
Lebih berat.
“Dokter Ratih…”, seorang perawat datang tergesa.
“Pak Bahrun…”
Ratih menoleh cepat.
“Ada apa?”
Perawat itu menunduk.
“Dini hari tadi, beliau ditemukan di kamar mandi.”
Waktu seakan berhenti.
Ratih berjalan pelan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah membawa penyesalan yang datang terlambat.
Di kamar itu, tidak ada lagi Bahrun.
Tidak ada lagi suara memanggil “Dok…”, atau sapaan hangat, “Dok, hari ini cantik…”
Tidak ada pula senyum yang menunggu.
Yang tersisa hanya selembar kertas. Tulisan tangan yang agak berantakan, dari tangan yang gemetar.
“Dokter jangan marah. Saya hanya ingin mencintai, sekali lagi. Walau sebentar.
Terima kasih sudah membuat saya merasa hidup lagi. Maaf kalau saya terlalu berharap.
Bahrun.
Kertas itu jatuh dari tangan Ratih.
Air matanya tidak langsung jatuh.
Karena luka yang paling dalam, tidak selalu datang bersama tangisan.
Di luar, sinar matahari pagi mulai merekah.
Rumah sakit itu tetap berdiri.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun di dalam dada Ratih, ada satu ruang yang tidak akan pernah sama lagi.
Di ujung lorong, seorang pasien lain tersenyum menyapanya.
“Dok… hari ini cantik.”
Ratih membalas senyum itu.
Namun kali ini, ia mengerti
tidak semua senyum mampu menyelamatkan hidup.
Dan, malam sebeluma ia rehat, ia sempatkan menulis dalam catatan pribadinya.
Mereka disebut pasien. Mereka disebut kehilangan kewarasan. Namun yang sering terlupakan, mereka masih tahu bagaimana mencintai, bahkan lebih jujur dari banyak hati yang merasa baik-baik saja.
Dan mungkin, yang benar-benar sakit bukan mereka, melainkan dunia, yang terlalu cepat menilai, terlalu lambat memahami, dan terlalu sering membiarkan orang-orang seperti Bahrun, pergi sendirian.🌹❤️❤️🔥
Bogor, 25 April 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




