Oleh: Shintalya Azis*)
Andra tak pernah membayangkan bahwa luka terdalam dalam hidupnya justru datang dari orang-orang yang selama ini ia sebut sahabat.
Belasan tahun mereka bersama: Andra, Aswan, Frankie, Abdi, dan Fati. Mereka tumbuh dalam organisasi yang sama, melewati berbagai tantangan, saling menopang saat salah satu jatuh. Jika ada yang kekurangan, yang lain membantu. Jika ada yang berhasil, semua ikut bangga.
Setidaknya, begitulah yang selama ini Andra yakini.
Hingga suatu hari, perubahan mulai terasa.
Ketika organisasi berkembang pesat, pimpinan menunjuk Andra untuk memimpin salah satu divisi penting.
Penunjukan itu bukan tanpa alasan. Andra dikenal disiplin, tegas, dan berintegritas. Ia bukan tipe yang mudah berkompromi dengan hal-hal yang menurutnya keliru.
Namun, tanpa disadari Andra, keputusan itu menyalakan bara iri di hati Frankie.
Sudah lama Frankie mengincar posisi tersebut. Baginya, jabatan itu adalah jalan menuju pengaruh, relasi, dan keuntungan yang lebih besar.
Melihat Andra terpilih, rasa kecewa berubah menjadi ambisi yang gelap.
Sedikit demi sedikit, Frankie mulai memengaruhi yang lain.
“Kalau Andra yang memimpin, kita bakal susah bergerak,” katanya suatu malam kepada Aswan, Abdi, dan Fati.
“Dia terlalu kaku.”
“Terlalu lurus.”
“Orang seperti itu tidak cocok memimpin kita. Kita tidak akan bisa maju.”
Awalnya mereka ragu untuk melangkah. Namun rayuan, kepentingan, dan janji kenyamanan perlahan membuat hati mereka bergeser.
Persahabatan belasan tahun mulai kalah oleh silau jabatan.
Mereka mulai menyusun cerita.
Kesalahan kecil Andra dibesar-besarkan. Sikap tegasnya dipelintir menjadi kesombongan. Kejujurannya dianggap sebagai sikap yang kaku, menghambat dan puncaknya terjadi saat evaluasi besar organisasi.
Di dalam ruangan itu, Andra duduk dengan dada berdebar. Ia tak pernah menyangka orang-orang yang selama ini paling ia percaya justru menjadi pihak yang menjatuhkannya.
Fati angkat bicara terlebih dahulu.
“Menurut saya, Andra tidak cocok memimpin,” katanya pelan namun mantap. “Dia terlalu kaku dan terlalu jujur. Sulit diajak bekerja sama. Apa-apa tidak sesuai dengan peraturan. Sedikit-sedikit bilang bahwa kita harus mengikuti peraturan yang ada. Susah maju kalau begini.”
Kalimat itu menghantam Andra lebih keras daripada tuduhan apa pun.
“Terlalu jujur.” Kalimat itu terngiang-ngiang di telinganya.
Sejak kapan kejujuran menjadi kesalahan?
Aswan dan Abdi ikut memberikan kesaksian yang senada. Frankie menjadi penguat utama, seolah semua itu murni demi kebaikan divisi.
Andra tak banyak membela diri.
Bukan karena tak mampu.
Tetapi karena ia terlalu terpukul untuk percaya bahwa pengkhianatan ini nyata.
Tak lama kemudian, posisinya dicopot. Dia digeser ke Divisi lain dan Frankie naik menggantikannya.
Dan Andra memutuskan untuk pergi. Benar-benar memutuskan untuk menjauh dari mereka yang asyik menertawakannya.
Hari-hari setelah itu terasa panjang.
Bukan kehilangan jabatan yang paling menyakitkan bagi Andra.
Melainkan kehilangan keyakinan bahwa persahabatan mereka tulus.
Ia berkali-kali bertanya pada dirinya sendiri:
Di titik mana semuanya berubah?
Apakah selama ini mereka hanya berteman selama ada manfaat?
Namun waktu selalu membawa cara untuk membuka tabir.
Setelah Andra pergi, keadaan divisi justru memburuk.
Frankie yang dulu begitu ingin memimpin ternyata tak mampu mengendalikan keadaan. Orang-orang yang dulu membantunya menjatuhkan Andra justru mulai memainkan kepentingan masing-masing.
Aswan, Abdi, dan Fati berubah menjadi orang-orang yang sulit dikendalikan. Konflik muncul di mana-mana. Keputusan saling ditarik demi keuntungan pribadi.
Frankie akhirnya merasakan apa yang dulu ia tuduhkan pada Andra. Namun Frankie bukan Andra. Dia tidak sesabar Andra.
Di tengah kekacauan itu, hati Aswan mulai gelisah. Ia sadar, mereka telah melakukan kesalahan besar. Mereka bukan hanya menjatuhkan seorang pemimpin. Mereka telah mengkhianati seorang sahabat.
Melalui Abdi, ia mencoba menghubungi Andra.
“Andra, kalau ada kesempatan, maukah kamu kembali?” tanya Abdi disuatu siang tatkala mereka bertemu setelah sholat Jum’at.
Andra tersenyum tipis.
Namun senyum itu menyimpan luka yang belum benar-benar sembuh.
“Aku sudah memaafkan kalian,” katanya tenang. “Tapi tidak semua yang patah harus dipasang kembali.”
Abdi tertunduk.
“Aku memilih mundur,” lanjut Andra. “Kadang mengalah bukan berarti kalah. Aku hanya tidak ingin kembali berdiri di tempat yang pernah mengajarkanku bahwa ketulusan bisa dijual demi jabatan.”
Andra memilih menjaga harga dirinya. Karena ia akhirnya mengerti bahwa kejujuran mungkin membuat seseorang tersingkir sesaat, tetapi pengkhianatan akan selalu menemukan cara untuk menghukum pelakunya sendiri. (*)
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi #biasakanyangbenar #days5
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)




