Dua Cara Memaknai Jabatan

Oleh : Shintalya Azis*)

Hari itu sebenarnya tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Yang membedakan hanyalah sebuah welcome board di depan pintu masuk utama yang bertuliskan ucapan selamat datang kepada Mr. Duta Besar beserta tim.

Tidak ada karangan bunga, tidak ada karpet merah, tidak ada pula pengaturan lalu lintas yang berubah dari biasanya.

Hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa hari itu akan datang seorang tamu penting. Duta besar dari sebuah negara maju berkunjung bersama beberapa stafnya. Agenda mereka sederhana: meninjau industri yang merupakan investasi dari negaranya.

Seluruh rangkaian kunjungan berlangsung sebagaimana mestinya. Semua mengikuti prosedur yang berlaku, termasuk urusan akomodasi. Penginapan telah dipesan dan dibayar sendiri, tanpa membebani pihak penerima.

Baca juga:  Indah pada Waktunya

Tidak ada daftar permintaan khusus. Tidak ada cendera mata yang diharapkan. Tidak ada isyarat untuk memperoleh perlakuan istimewa.

Namun, yang tertinggal justru kesan yang mendalam: wibawa yang lahir dari kesederhanaan.

Beberapa waktu kemudian, datang kunjungan lain. Kali ini rombongan perwakilan tingkat nasional.

Sebelum tiba, daftar kebutuhan telah lebih dahulu dikirimkan: penjemputan VIP, kendaraan khusus lengkap dengan pengawalan, ruang pertemuan terbaik, jamuan makan, pendampingan penuh, hingga buah tangan.

Kesibukan tuan rumah pun meningkat. Di sela-sela rapat persiapan, muncul pertanyaan yang tak mudah dijawab: sampai di titik mana penghormatan kepada tamu masih menjadi bagian dari etika, dan tidak bersinggungan dengan aturan yang seharusnya dijaga?

Baca juga:  15 Tahun Masyarakat Berjuang, Terwujud di Era Bupati Annisa, Jalan Poros Koto Gadang Kembali Diaspal

Di tengah berbagai pertimbangan itu, tamu tetaplah tamu yang harus diterima dengan baik. Apalagi tim penting yang dihormati rakyat.

Ketika rombongan telah berlalu, seorang pegawai muda memandangi ruang rapat yang kembali sunyi. Ingatannya melayang kepada kunjungan sebelumnya.

Dua tamu. Dua jabatan yang sama-sama terhormat. Namun meninggalkan jejak yang berbeda.

Yang satu dihormati karena tidak pernah meminta dihormati. Yang lain justru sibuk memastikan persiapan penghormatan.

Barangkali, jabatan memang dapat dimaknai dengan dua cara. Ada yang memandangnya sebagai amanah sehingga kehormatan mengikuti dengan sendirinya. Ada pula yang memandangnya sebagai hak istimewa sehingga penghormatan harus selalu ditunjukkan.

Padahal, kehormatan yang paling tinggi tidak pernah lahir dari fasilitas, pengawalan, atau berbagai bentuk perlakuan khusus. Ia tumbuh dari integritas, keteladanan, dan kerendahan hati.

Baca juga:  Satu Event Satu Nagari, Pemko Payakumbuh Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari "Manjopuk Sumando" sebagai Wisata Edukasi Budaya

Marwah seorang pemimpin tidak ditentukan oleh bagaimana ia meminta dihormati, melainkan oleh bagaimana ia membuat orang menghormatinya tanpa pernah diminta.(*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day28 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *