Peneliti Indonesia Kembangkan Model AI untuk Membantu Orang Tua Mengoptimalkan Potensi Kognitif Anak Sejak Pra-Konsepsi

Dr Ulya tengah menjelaskan disertasinya kepada tim penguji tentang pengembangan model AI untuk membantu orangtua mengoptimalkan potensi kognitif anak sejak pra konsepsi. (Foto: ist)

PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Selama bertahun-tahun, berbagai program kesehatan anak di Indonesia lebih banyak berfokus pada deteksi gangguan tumbuh kembang setelah masalah mulai terlihat. Padahal, perkembangan otak telah dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan.

Berangkat dari pemikiran tersebut, dr. Ulya Uti Fasrini, M.Biomed mengembangkan sebuah model berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu keluarga memahami dan mengoptimalkan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kognitif anak sejak masa pra-konsepsi hingga usia sekolah.

Model tersebut merupakan hasil penelitian disertasi yang berhasil dipertahankan Ulya dalam Sidang Promosi Doktor Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Doktor Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada Kamis (30/7/2026).

Dengan keberhasilan tersebut, Ulya resmi menjadi Doktor ke-123 Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas dan dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

Disertasi yang berjudul “Model Prediksi Skala Penuh Intelligence Quotient Anak Usia 6–8 Tahun pada Lima Kota/Kabupaten di Sumatra Barat” menghadirkan pendekatan baru dalam penelitian perkembangan anak.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya menilai faktor-faktor secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan kondisi biologis ibu, status gizi, kualitas pengasuhan, pertumbuhan anak, dan lingkungan keluarga dalam satu model prediktif berbasis Machine Learning.

BACA JUGA :  Menata Arah, Menguatkan Wisata dan UMKM: Inovasi Sign System Mahasiswa KKN UNP di Nagari Silungkang Oso

Penelitian dilakukan terhadap 120 pasangan ibu dan anak yang diikuti secara longitudinal di lima kota/kabupaten di Sumatra Barat. Menggunakan algoritma Ridge Regression, model yang dikembangkan mampu menjelaskan sekitar 57,82 persen variasi kapasitas kognitif anak (Full Scale Intelligence Quotient/FSIQ). Melalui pendekatan Explainable Artificial Intelligence (SHAP), model tidak hanya menghasilkan prediksi, tetapi juga mampu menunjukkan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan kognitif setiap anak secara transparan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas kognitif anak merupakan hasil akumulasi berbagai faktor yang bekerja sepanjang siklus kehidupan (Continuum of Care). Nutrisi ibu pada trimester pertama kehamilan, pertumbuhan linier anak, pertumbuhan lingkar kepala, kondisi sosial ekonomi keluarga, efikasi diri orang tua, dan kehangatan dalam pengasuhan muncul sebagai faktor-faktor yang paling berkontribusi terhadap perkembangan kapasitas kognitif anak.

Menurut Ulya, temuan tersebut membawa pesan penting bahwa pembangunan kualitas sumber daya manusia tidak dapat dimulai ketika anak memasuki sekolah, melainkan sejak masa sebelum kehamilan.

“Selama ini kita lebih banyak berfokus menemukan masalah ketika anak sudah menunjukkan keterlambatan perkembangan. Padahal, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak faktor yang dapat dioptimalkan jauh lebih awal. Saya berharap kecerdasan buatan dapat menjadi sahabat bagi keluarga Indonesia untuk memahami, mendampingi, dan mengoptimalkan potensi setiap anak sejak awal kehidupannya, bukan untuk memberi label ataupun menghakimi kemampuan mereka.”

BACA JUGA :  Jika Hari Ini Dipanggil

Penelitian ini juga menjadi fondasi ilmiah bagi pengembangan ULYA (Utamakan Langkah Optimalisasi Generasi Hebat Berdaya), sebuah platform digital berbasis AI yang sedang dirancang untuk mendampingi keluarga sejak masa pra-konsepsi hingga anak berusia delapan tahun.

Berbeda dengan aplikasi kesehatan yang umumnya berorientasi pada deteksi risiko, ULYA dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan yang membantu orang tua memantau pertumbuhan anak secara longitudinal, memahami faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kognitif, serta memperoleh edukasi dan rekomendasi promotif yang dipersonalisasi berdasarkan karakteristik ibu dan anak.

Dalam sidang promosi tersebut, konsep hilirisasi penelitian melalui pengembangan Ulya memperoleh apresiasi dari tim penguji yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan masyarakat, gizi, kesehatan anak, psikologi, hingga kecerdasan buatan.

Para penguji menilai bahwa hasil penelitian ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai inovasi yang menjembatani temuan ilmiah dengan implementasi nyata di masyarakat, khususnya dalam mendukung keluarga mengoptimalkan tumbuh kembang dan kapasitas kognitif anak melalui interaksi yang berkualitas antara orang tua dan anak.

BACA JUGA :  Bawaslu Pesisir Selatan: Distribusi X-banner PPID Dilanjutkan untuk Perkuat KIP

Sidang promosi dipimpin oleh Dr. dr. Nelmi Silvia, Sp.Ok., MKK., FISCH., FISCM selaku Ketua Sidang. Disertasi ini dibimbing oleh Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, M.Sc., Ph.D., Sp.GK(K) sebagai promotor, bersama dr. Nur Afrainin Syah, M.Med.Ed., Ph.D., Sp.KKLP., Subsp.FOMC dan Dr. dr. Joserizal Serudji, Sp.OG., Subsp.KFM sebagai ko-promotor..

“Gelar doktor ini saya persembahkan untuk ibunda tercinta, Nurhelmi.” dengan nada bergetar Ulya menghaturkan terimakasih untuk ibu yang selama ini mendoakan perjuangannya. (patra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *