Di Balik Lahirnya Buku 99 Cara Mencintai Bumi

Oleh : Nurul Jannah*)

Mencintai Bumi, Merawat Kehidupan, Menjaga Masa Depan

Jika bumi bisa berbicara kepada kita hari ini, apa yang akan ia katakan?

Ia memang tidak meminta kita menyelamatkan seluruh hutan.

Tidak juga meminta kita membersihkan seluruh lautan.

Tidak pula menuntut kita menyelesaikan perubahan iklim seorang diri.

Barangkali bumi hanya ingin bertanya:

“Dari begitu banyak yang telah kuberikan kepadamu, adakah satu hal kecil yang bersedia kau lakukan untuk menjagaku?”

Pertanyaan itulah yang diam-diam ikut melahirkan buku 99 Cara Mencintai Bumi.

Buku ini lahir dari perjalanan panjang saya melihat bumi dari berbagai sisi; sebagai dosen yang mengajarkan lingkungan, sebagai auditor lingkungan yang menyaksikan jejak aktivitas manusia di lapangan, sebagai penulis yang mencoba menerjemahkan kegelisahan menjadi kata-kata, dan terutama sebagai manusia yang suatu hari juga akan meninggalkan bumi ini kepada generasi berikutnya.

Semakin lama berjalan, semakin saya memahami; Bumi tidak kekurangan orang yang tahu bahwa lingkungan sedang menghadapi masalah. Bumi membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia bergerak.

Tidak harus menjadi aktivis.

Tidak harus menjadi ahli lingkungan.

Tidak harus menunggu memiliki jabatan, kekuasaan, atau uang yang banyak.

Kita semua bisa menjadi agen perubahan.

BACA JUGA :  UIN Bukittinggi Nyalakan Etos Merantau Mahasiswa Baru

Dari rumah kita sendiri.

Dari meja makan.

Dari keranjang belanja.

Dari keran air.

Dari sampah yang kita hasilkan.

Dari makanan yang kita ambil.

Dari pohon yang kita tanam.

Dari kebiasaan yang kita wariskan kepada anak-anak.

Sangat sederhana.

Tetapi bukankah perubahan besar hampir selalu bermula dari keberanian melakukan hal kecil berulang kali?

Satu orang membawa botol minum sendiri mungkin belum mengubah dunia.

Satu keluarga memilah sampah mungkin belum menyelamatkan bumi.

Satu pohon yang kita tanam mungkin belum mampu menghentikan perubahan iklim.

Tetapi bayangkan jika satu orang mengajak sepuluh orang. Sepuluh menjadi seratus. Seratus menjadi seribu. Dan seribu menjadi sebuah gerakan.

Di situlah perubahan dimulai.

Bukan dari menunggu orang lain.

Dari kita.

Karena setiap pilihan hidup kita sesungguhnya sedang memberikan suara: apakah kita ingin menjadi bagian dari masalah, atau menjadi bagian dari perubahan.


Insya Allah, 5 September 2026 di Savoy Homann, Bersama INDSCRIPT, Buku 99 Cara Mencintai Bumi: Mencintai Bumi, Merawat Kehidupan, Menjaga Masa Depan akan diluncurkan.

Saya berharap buku ini tidak hanya dibeli.

Tidak hanya dibaca.

Apalagi hanya disimpan rapi di rak.

Milikilah bukunya. Buka. Baca. Pilih satu cara. Lalu lakukan.

BACA JUGA :  Milad ke-16, Gubernur: Lazismu Hadir Sebagai Problem Solver Masyarakat

Tidak perlu menunggu mampu melakukan 99 cara.

Mulailah dengan satu.

Hari ini.

Kemudian satu lagi.

Ajak keluarga.

Ajak sahabat.

Ajak tetangga.

Ajak lingkungan tempat kita bekerja.

Sebab agen perubahan bukan selalu mereka yang berdiri di panggung dan berbicara tentang dunia.

Agen perubahan adalah mereka yang berani mengubah dirinya terlebih dahulu, lalu membuat kebaikan itu menular kepada orang-orang di sekitarnya.

Kita tidak akan pernah tahu siapa yang kelak berteduh di bawah pohon yang kita tanam.

Kita tidak akan pernah mengenal anak yang kelak menikmati air karena hari ini kita memilih tidak mencemarinya.

Bahkan bisa jadi kita tidak lagi berada di dunia ketika buah dari kebiasaan baik itu tumbuh.

Tidak apa-apa.

Karena mencintai bumi memang bukan hanya tentang kehidupan kita.

Ini tentang kehidupan yang akan datang setelah kita.

Suatu hari kita semua akan pergi.

Rumah akan kita tinggalkan.

Jabatan akan selesai.

Nama kita perlahan dilupakan.

Tetapi jejak kita akan tetap tinggal.

Maka sebelum hari itu tiba, mari bertanya kepada diri sendiri:

Bumi seperti apa yang ingin kita tinggalkan?

Bumi yang semakin terluka karena pernah kita tinggali?

Atau bumi yang sedikit lebih baik karena kita pernah hadir dan ikut menjaganya?

BACA JUGA :  Universitas Adzkia Go International, Jajaki Kolaborasi Strategis dengan Prince of Songkla University Thailand

Kita mungkin tidak mampu menyelamatkan seluruh bumi.

Tetapi jangan pernah meremehkan satu tangan yang mulai bergerak.

Sebab satu tangan dapat menggandeng tangan lainnya.

Dan ketika cukup banyak tangan memilih bergerak bersama, perubahan yang dahulu terasa mustahil dapat menjadi nyata.

Mari menjadi agen perubahan untuk lingkungan.

Mulai dari diri sendiri.

Mulai dari lingkungan terdekat.

Mulai dari yang sederhana.

Mulai dari yang mampu kita lakukan.

Dan mulai hari ini.

Karena bumi tidak sedang menunggu mereka yang sempurna.

Bumi sedang menunggu kita yang bersedia peduli.

99 Cara Mencintai Bumi: Mencintai Bumi. Merawat Kehidupan. Menjaga Masa Depan.

Jangan hanya miliki bukunya.

Mari hidupkan 99 cara itu menjadi gerakan.

Sebab cinta kepada bumi tidak cukup diucapkan. Cinta harus meninggalkan jejak. 🌱💞💓💗

Jakarta, 20 Agustus 2026

Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi, Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *