Cahaya yang Tak Pernah Padam

Oleh : Shintalya Azis*)

Awal Juni 2026, saya menempuh perjalanan panjang dari Sumatra Selatan menuju Sumatra Barat dalam rangka menghadiri 4th Internasional Minangkabau Literacy Festival yang dipusatkan di kota Bukittinggi.

Perjalanan tersebut ternyata tidak hanya menjadi pengalaman wisata semata namun juga menjadi sebuah ziarah pemikiran, menyusuri jejak seorang tokoh bangsa yang hingga kini namanya tetap harum dan terus bersinar, Mohammad Hatta.

Dari penelusuran singkat di kota yang memberikan rasa nyaman lahir dan batin tersebut, saya membayangkan seorang Bung Hatta tumbuh dengan kesederhanaan, ditempa oleh pendidikan, kejujuran, dan kecintaan yang begitu besar kepada tanah air.

Dan semakin mengenal perjalanan hidupnya, semakin besar pula rasa kagum saya. Beliau bukan hanya Proklamator dan Bapak Bangsa, tetapi juga teladan integritas.

Di tengah kekuasaan yang begitu besar, beliau memilih hidup sederhana. Tidak silau oleh jabatan, tidak tergoda oleh kemewahan. Bahkan kisah tentang keinginannya memiliki sepasang sepatu yang harus lama ditunda telah menjadi simbol betapa bersihnya kehidupan seorang pemimpin.

Yang paling membekas di hati saya adalah keputusan Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden pada tahun 1956. Keputusan itu bukan lahir dari ambisi ataupun kekecewaan pribadi, melainkan karena beliau merasa tidak lagi mampu memperjuangkan prinsip-prinsip pemerintahan yang bersih sebagaimana yang diyakininya.

Di saat praktik korupsi mulai menggerogoti kehidupan berbangsa, Bung Hatta memilih mempertahankan kehormatan daripada mempertahankan jabatan.

Keputusan tersebut mungkin terasa berat, tetapi justru itulah yang membuat namanya terus harum hingga hari ini. Jabatan dapat berakhir, kekuasaan dapat berganti, tetapi integritas akan selalu dikenang sepanjang masa.

Duduk termangu di depan Jam Gadang yang diapit oleh Pasa Ateh dan Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, saya pun mengakui bahwa bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi selalu membutuhkan lebih banyak pribadi yang jujur.

Bung Hatta mengajarkan bahwa keberanian terbesar seorang pemimpin bukan hanya berani memimpin, melainkan juga berani berkata tidak kepada penyimpangan, sekalipun harus membayar dengan kehilangan jabatan.

Saat meninggalkan Bukittinggi, saya membawa pulang lebih dari sekadar kenangan perjalanan. Saya membawa pulang sebuah pelajaran bahwa cahaya keteladanan tidak pernah padam.

Selama masih ada orang-orang yang berjuang menjaga integritas, maka selama itu pula semangat Bung Hatta akan terus hidup menerangi langkah Indonesia menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Rasanya masih terngiang ungkapan Bung Hatta yang sangat terkenal:

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat diperbaiki dengan pengalaman. Namun tidak jujur, itu sulit diperbaiki.”

Dan pesan beliau yang lainnya yang terasa masih relevan hingga saat ini:

“Negara tidak boleh menjadi alat kekuasaan segolongan orang, melainkan menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan seluruh rakyat.”(*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day21 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *