Negeri yang Kucintai

Oleh: Nurul Jannah*)

Aku lahir di negeri
yang pagi harinya dibangunkan azan,
yang tanahnya menghitam setelah hujan,
yang sawahnya mengajari kami
bahwa sebutir nasi
menyimpan keringat banyak tangan.

Aku lahir di negeri
tempat Merah Putih berkibar
di halaman sekolah,
di gang-gang sempit,
di puncak gunung,
di perahu nelayan,
dan di dada orang-orang sederhana
yang mungkin tak tercatat sejarah,
tetapi setiap hari ikut menjaga Indonesia.

Indonesia,
aku mencintaimu.

Karena di tanah inilah
ari-ariku pertama kali ditanam,
doa Ibu pertama kali dilangitkan,
dan kakiku belajar
mengeja satu kata paling indah:
pulang.

Namun setiap Agustus datang,
aku selalu bertanya: Sudahkah kita benar-benar merdeka?

Ketika petani yang menanam padi masih menghitung harga pupuk dengan cemas.

Ketika nelayan pulang membawa ikan,n tetapi belum tentu membawa cukup untuk keluarganya.

Ketika anak-anak di pelosok negeri menempuh jalan panjang hanya untuk bertemu buku dan guru.

Ketika hutan kehilangan pohonnya, sungai kehilangan jernihnya, dan bumi yang kita warisi perlahan kehilangan napasnya.

Sudahkah kita benar-benar merdeka?

Pertanyaan itu menghantam dadaku.

Sebab dahulu,
orang-orang pergi berperang
tanpa tahu apakah akan pulang.

Meninggalkan ibu.
Istri.
Anak-anak yang mungkin
tak sempat mereka peluk untuk terakhir kali.

Mereka tidak tahu
apakah namanya kelak dikenang.

Mereka hanya tahu:
negeri ini tidak boleh terus berlutut.

Ada darah yang tumpah
agar kita dapat berdiri hari ini.

Ada dada yang ditembus peluru
agar Indonesia Raya
dapat kita nyanyikan dengan lantang.

BACA JUGA :  Surat dari Bumi Kepada Manusia

Ada tubuh yang roboh
agar Merah Putih tetap tegak.

Lalu kita?

Apa yang telah kita berikan
kepada negeri yang kemerdekaannya
dibayar semahal itu?

Jangan jawab hanya dengan upacara.
Jangan jawab dengan baliho.
Jangan jawab dengan bendera
yang dipasang setiap Agustus
lalu dilupakan ketika perayaan usai.

Jawablah dengan kehidupan.

Dengan bekerja tanpa merampas hak orang lain.

Dengan jabatan, yang tidak digunakan memperkaya diri.

Dengan ilmu
yang bukan hanya meninggikan gelar,
tetapi mengangkat mereka yang tertinggal.

Dengan tangan yang menanam,
bukan hanya menebang.

Dengan keberanian mengatakan benar
ketika kebohongan menawarkan keuntungan.

Dan dengan tetap menggenggam
tangan saudaramu
meski berbeda suku, bahasa,
keyakinan, pemikiran, dan pilihan.

Sebab Indonesia
tidak dibangun dari keseragaman.

Ia lahir dari perbedaan
yang memilih hidup dalam satu rumah.

Aceh adalah Indonesia.
Papua adalah Indonesia.
Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku, Nusa Tenggara,

semuanya denyut,
dari jantung yang sama.

Jika satu terluka,
yang lain seharusnya ikut merasa.

Jangan biarkan negeri ini
kembali dijajah,

bukan oleh bangsa asing,
melainkan oleh keserakahan kita sendiri.

Jangan biarkan hutan tumbang
karena kita kehilangan rasa cukup.

Jangan biarkan laut terluka
karena kita lupa
anak cucu juga berhak mengenal birunya.

Jangan biarkan persaudaraan pecah,
hanya karena kita lebih mencintai pendapat sendiri daripada Indonesia.

Hari ini
aku tidak ingin hanya berteriak,

“Merdeka!”

Aku ingin bertanya kepada diri sendiri:

BACA JUGA :  Program Siduling Sebagai Media Pembelajaran Integritas

Sudahkah hidupku berguna bagi negeri ini?

Sudahkah ilmuku menjadi cahaya?

Sudahkah langkahku berisikan kebaikan?

Dan ketika kelak aku pulang kepada Allah,
akankah bumi yang kutinggalkan
sedikit lebih baik
daripada ketika aku datang?

Indonesia,

Jika suatu hari aku tak lagi ada,

aku ingin anak cucuku masih dapat memandang gunung yang hijau,

menyentuh sungai yang jernih,

menghirup udara tanpa takut, dan berlari di bawah Merah Putih dengan dada tegak.

Aku ingin mereka berkata:

“Mereka tidak hanya mewariskan kemerdekaan. Mereka juga menjaganya.”

Maka selama napas masih ada,
aku akan menjaga bagian kecil negeri ini
yang Allah titipkan dalam jangkauanku.

Menanam ketika yang lain menebang.

Merawat ketika yang lain meninggalkan.

Menyatukan ketika yang lain memecah.

Bersuara ketika kebenaran membutuhkan keberanian.

Sebab mencintai Indonesia bukan berarti menutup mata terhadap lukanya.

Cinta justru berani melihat luka itu, lalu memilih tinggal untuk menyembuhkannya.

Indonesia.

Delapan puluh satu tahun usiamu.

Jangan tanyakan
berapa banyak bendera yang kami kibarkan.

Tanyakan berapa banyak ketidakadilan yang kami lawan.

Berapa banyak pohon yang kami selamatkan.

Berapa banyak air mata yang kami hapus.

Berapa banyak anak
yang kami bantu berdiri.

Dan berapa banyak perbedaan yang masih mampu kami peluk sebagai saudara.

Sebab kemerdekaan
bukan warisan untuk dibanggakan.

Kemerdekaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Kelak, ketika Merah Putih
berpindah ke tangan anak cucu kita,
jangan wariskan kepada mereka
hutan yang gundul,
sungai yang mati,
persaudaraan yang retak,
dan negeri yang kehilangan harapan.

BACA JUGA :  Surat dari Bumi Kepada Manusia

Wariskan Indonesia yang masih hijau.

Indonesia yang masih ramah.

Indonesia yang masih percaya bahwa kejujuran mempunyai tempat
dan setiap anak berhak bermimpi.

Lalu katakan kepada mereka:

“Nak, kemerdekaan ini dahulu dibayar dengan darah. Kami memang tidak sempurna menjaganya, tetapi kami telah berusaha agar kalian tidak perlu merebutnya kembali.”

Kibarkan Merah Putih itu.

Setinggi-tingginya.

Bukan hanya di tiang.
Kibarkan ia di dalam dada.

Biarkan merahnya menjadi keberanian.

Putihnya menjadi ketulusan.

Dan Indonesia menjadi alasan untuk tetap berdiri
ketika zaman berkali-kali
mencoba membuat kita menyerah.

Merdeka!

Bukan hanya negerinya.

Merdeka manusianya.
Merdeka nuraninya.
Merdeka alamnya.
Merdeka masa depannya.

Dan selama masih ada
satu anak bangsa
yang mencintai negeri ini
bukan hanya dengan kata, tetapi dengan tindakan,

jangan pernah katakan Indonesia kehilangan harapan.

Sebab Indonesia masih punya kita.

Dan kita masih punya Indonesia.

Maka berdirilah.
Jaga Merah Putih itu.
Jaga tanahnya.
Jaga manusianya.
Jaga persaudaraannya.

Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan
orang-orang yang berteriak “Merdeka!”

Indonesia membutuhkan kita yang bersedia menjaganya setelah gema “Merdeka” itu selesai diteriakkan.

Dirgahayu Negeriku…❣️🇮🇩

Jakarta, 13 Agustus 2026

Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *