UIN Bukittinggi Menyalakan Kembali Obor Literasi

Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menyambut kehadiran sahabat jurnalisnya, Eko Muhardi, dengan ditemani Kepala Pusat Urusan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi. (Foto: ist)

BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM – Ruang kerja Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi di lantai dua Gedung Rektorat itu mendadak hangat, Jumat (7/8/2026).

Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menyambut kehadiran Eko Muhardi, jurnalis senior fokussumbar.com. Ditemani Kepala Pusat Urusan Internasional Dr. Irwandi, pertemuan itu sekilas tampak seperti reuni dua sahabat lama yang pernah bertugas di panggung pers daerah.

Namun, obrolan tak berhenti pada nostalgia. Percakapan bergulir serius menyentuh urat nadi dunia akademik yang digelayuti oleh meredupnya budaya literasi.

Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Di tengah gempuran konten visual berdurasi singkat dan kecerdasan buatan, kedalaman literasi khususnya di kalangan mahasiswa tengah mengalami senja kala.

BACA JUGA :  Dukung Kelancaran Arus Transportasi Selama HJK ke-357, Dishub Padang Terapkan Manajemen Rekayasa Lalulintas Berskala Besar

Kondisi ini mencerminkan potret makro literasi nasional. Data Programme for International Student Assessment (PISA) merilis skor kemampuan membaca Indonesia yang masih tertahan di peringkat bawah (skor 359), sementara kajian UNESCO mencatat indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen—artinya dari 1.000 orang, hanya satu yang tekun membaca.

Di ranah pendidikan tinggi, gejalanya makin kasat mata. Aktivitas membaca acap kali sekadar meluncur di permukaan layar gawai. Kegiatan menulis kerap direduksi menjadi rutinitas mekanis penggugur tugas, bahkan tak jarang mengandalkan instrumen praktis berbasis AI tanpa melalui proses refleksi mandiri. Nalar kritis yang menjadi nyawa kaum intelektual perlahan tumpul oleh budaya instan.

Eko Muhardi menyentil pentingnya akademisi melawan arus tersebut. Kampus, menurut dia, adalah lumbung pemikiran dan riset yang gagasannya terlampau sering mengendap di rak perpustakaan tanpa menjangkau publik.

BACA JUGA :  Inovasi Dendeng Pucuk Ubi Sawahan Timur Ikut Warnai Kemeriahan Pawai Telong-Telong HJK Padang ke-357

“Semua potensi dan prestasi kampus baru terasa dampaknya jika dituangkan dalam tulisan dan dipublikasikan secara konsisten,” ujar Eko.

Perguruan tinggi pantang menjadi menara gading yang kedap. Kampus memiliki sumber daya intelektual untuk tampil sebagai lokomotif literasi, tidak hanya berpuas diri pada jurnal ilmiah yang kaku, tetapi juga aktif menulis opini yang mencerahkan di media massa.

Sinyal itu disambut terbuka oleh Prof. Silfia. Jejak rekamnya di dunia jurnalistik membuat sang rektor paham betul bahwa tradisi menulis adalah tiang penyangga Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kampus memikul mandat moral untuk memecah kebuntuan nalar publik.

BACA JUGA :  Jembatani Kampus dan Industri: PP FORKOMNAS KPI dan KPI Pusat Matangkan Program Sekolah Jurnalis serta Magang Nasional

Diskusi pagi itu pun melebar menembus tantangan era digital—bagaimana media siber bergerak cepat dan menuntut institusi pendidikan beradaptasi tanpa kehilangan kedalaman berpikir.

Di akhir pertemuan, sebuah komitmen terajut bahwa UIN Bukittinggi bersiap menghidupkan kembali nyala literasi di lorong-lorong kampusnya, mengubah teks akademik menjadi amunisi perubahan peradaban. (*/ir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *