Oleh : Shintalya Azis*)
Sehelai daun terlihat melayang rendah di udara, turun hingga jatuh menyentuh tanah. Peristiwa itu tampak sederhana. Namun, di balik kejatuhannya selalu ada sebab. Mungkin hanya karena hembusan angin yang lembut, atau karena ada tangan yang sengaja memetik atau bahkan mematahkannya.
Sesuatu yang tampak kecil ternyata mampu mengubah keadaan. Begitu pula di dunia kerja. Demi memperoleh jabatan, mentolerir berbagai kecurangan dapat dilakukan.
Ketika hati mulai terbiasa membenarkan hal yang keliru, melihat kolusi sebagai hal yang wajar, maka batas antara yang benar dan yang salah pun semakin kabur.
Mentolerir yang tidak patut terasa lumrah. Mempertahankan integritas justru dianggap kaku dan perlu dipatahkan.
Tidak heran bila kemudian muncul kerusakan besar yang hampir selalu berawal dari pembiaran terhadap kekeliruan, kecurangan, dengan alasan fleksibilitas. Perlahan hal ini berubah menjadi kebiasaan, lalu menjadi bagian dari karakter yang diterima.
Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk menyingkap siapa yang setia menjaga amanah dan siapa yang mengkhianatinya. Karena yang membedakan bukanlah seberapa tinggi keberhasilan mencapai kedudukan, melainkan bagaimana cara mencapainya.
Ada yang memilih jalan singkat dengan mengorbankan integritas, ada pula yang menempuh jalan menjaga kejujuran. Hasilnya mungkin tidak selalu sama di mata manusia, tetapi nilainya sangat berbeda di hadapan Allah.
Meskipun demikian, jiwa yang besar tidak dibentuk oleh kemenangan yang diraih melalui tipu daya. Ia tumbuh dari keberanian untuk tetap jujur ketika ketidakjujuran tampak lebih menguntungkan. Tetap memegang amanah ketika pengkhianatan terasa lebih mudah, dan tetap berbuat baik meskipun kebaikan itu tidak selalu mendapat tepuk tangan.
Penjaga integritas mungkin tidak populer. Pengingat kebenaran mungkin dimusuhi. Namun sejarah selalu mencatat bahwa kehormatan sejati bukan lahir dari kemenangan sesaat, melainkan dari hati yang tetap bersih hingga akhir.
Apa pun yang diperoleh dengan cara yang tidak benar mungkin tampak sebagai keberhasilan di mata manusia, tetapi tidak akan pernah luput dari perhitungan Allah.
Demikian pula kemuliaan akhlak tidak lahir dari satu tindakan besar, melainkan dari keistiqamahan menjaga kejujuran dalam perkara-perkara yang tampak sepele.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an, Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang hilang tanpa perhitungan. Kebaikan sekecil apa pun akan menemukan balasannya, sebagaimana keburukan sekecil apa pun akan dimintai pertanggungjawaban.(*)
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day30 IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)
