Obon di Hati

Oleh : Nurul Jannah*)

Ada pemandangan yang selalu membuat hati terasa hangat. Di sana aku melihat ribuan orang sedang pulang kepada cinta.

Sore itu, matahari musim panas masih menggantung tinggi di langit Jepang. Cahaya keemasannya menyelimuti jalan-jalan kota dengan lembut.

Dari kejauhan terdengar deru kereta yang datang silih berganti. Di stasiun, orang-orang berjalan lebih cepat daripada biasanya. Tangan mereka menggenggam koper. Anak-anak berlari kecil sambil tertawa.

Di sudut peron, seorang ibu melambaikan tangan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Beberapa langkah kemudian, pelukan hangat menyatukan jarak yang telah dipisahkan berbulan-bulan.

Entah mengapa, setiap menyaksikan pemandangan itu, dadaku selalu bergetar. Aku melihat sendiri bagaimana rindu-rindu itu menemukan rumahnya.

Dua puluh tahun telah berlalu, tetapi kenangan itu masih tinggal utuh di dalam hati.

Saat itu aku masih menjadi mahasiswi doktoral di Hiroshima University.

Musim panas baru saja tiba.

Langit berwarna biru jernih. Matahari bersinar lebih lama. Suara jangkrik memenuhi udara sejak pagi hingga malam.

Namun yang paling membekas dalam ingatanku bukanlah cuaca musim panas. Melainkan wajah-wajah bahagia orang-orang yang bersiap pulang.

Laboratorium yang biasanya ramai mulai lengang. Asrama mahasiswa perlahan sunyi. Tempat parkir semakin kosong. Stasiun kereta justru semakin padat.

Baca juga:  Wali Kota Zulmaeta Apresiasi Atlet Gimnastik Muda Payakumbuh Raih Emas Nasional

Suatu hari aku bertanya kepada teman laboratorium.

“Yamada-san, mengapa semua orang tampak terburu-buru?”

Ia tersenyum lebar.

“Obon.”

“Kaerimashu, kami akan pulang.”

Jawabannya singkat. Namun sorot matanya memancarkan kebahagiaan yang sulit dilukiskan.

Beberapa hari kemudian aku sengaja berdiri cukup lama di Stasiun Saijō Higashi Hiroshima. Menikmati suasana Obon

Kereta datang dan pergi tanpa henti.

Seorang anak kecil berteriak riang,

“Obaa-chan!”

Seorang nenek segera membuka kedua lengannya.

Pelukan mereka begitu erat. Tak banyak kata yang terucap. Namun air mata bahagia di sudut mata mereka telah menceritakan semuanya.

Di sisi lain, seorang ayah menepuk bahu putranya yang baru turun dari kereta.

Seorang ibu merapikan kerah baju anaknya yang sudah lama tidak pulang.

Tak ada upacara megah. Apalagi pidato panjang. Yang ada hanya pelukan.

Dan ternyata, pelukan mampu mengalahkan ribuan kalimat.

Saat itulah aku memahami, Obon bukan hanya sebuah tradisi. Obon adalah tentang perjalanan pulang. Tentang keluarga. Tentang mengenang mereka yang telah lebih dahulu tiada.

Tentang menyambung kembali kasih sayang yang sempat dipisahkan oleh jarak dan kesibukan.

Dan,

Justru ketika berada jauh di negeri orang, ingatanku melayang ke Indonesia.

Baca juga:  Move On

Bukankah setiap menjelang Idulfitri, pemandangannya hampir sama?

Bandara penuh. Terminal sesak. Stasiun dipadati penumpang. Jalan raya dipenuhi kendaraan.

Semua rela menempuh perjalanan panjang. Karena, ada pelukan cinta yang sedang menunggu di ujung perjalanan.

Di Jepang mereka menyebutnya Obon.

Di Indonesia kita menyebutnya mudik. Tradisinya berbeda. Budayanya berbeda.

Namun hati manusia ternyata berbicara dalam bahasa yang sama.

Bahasa rindu.

Suatu sore aku bertanya kepada Toyota sensei, seorang profesor Jepang di kampusku Hirodai.

“Sensei, mengapa Obon begitu penting?”

Beliau tersenyum, lalu menjawab pelan,

“Karena manusia tidak boleh lupa dari mana ia berasal.”

Kalimat itu sederhana. Namun hingga hari ini, ia masih tinggal di dalam hatiku.

Kini, setiap kali musim panas datang dan berita tentang Obon kembali memenuhi media, aku seperti menonton ulang potongan hidupku sendiri.

Aku kembali melihat kereta-kereta yang penuh penumpang. Aku kembali mendengar tawa anak-anak yang berlari menyambut kakek dan neneknya. Aku kembali melihat pelukan yang menghapus jarak.

Dan tanpa kusadari, aku ikut tersenyum.

Hari itu aku belajar bahwa perjalanan paling indah bukanlah ketika kita berhasil pergi sangat jauh.

Melainkan ketika kita masih memiliki tempat untuk pulang. Tempat yang tidak bertanya berapa tinggi jabatan kita. Tidak menghitung berapa banyak harta yang kita miliki. Tidak menilai keberhasilan yang kita raih.

Baca juga:  Pemkab Pesisir Selatan Matangkan Persiapan Pilwana 2026, Netralitas dan Validasi DPT jadi Perhatian Utama

Rumah yang hanya memiliki satu ungkapan hangat,

“Alhamdulillah, kamu pulang.

Betapa sederhana. Rasanya, tak ada lagi kalimat yang lebih menenangkan daripada itu.

Kini aku percaya. Allah menanamkan rasa rindu agar manusia tidak kehilangan arah.

Rindu membuat kita pulang kepada keluarga.
Pulang kepada sahabat.
Pulang kepada kampung halaman.

Dan pada akhirnya, pulang kepada Allah.

Karena sejauh apa pun kaki melangkah, hati selalu mengetahui jalan kembali.

Dan di negeri mana pun manusia dilahirkan, bahasa rindu selalu sama. Ia tidak memerlukan penerjemah. Sebab pelukan yang tulus selalu lebih fasih daripada kata-kata.❤️

Jakarta, 15 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *