PADANG PARIAMAN, FOKUSSUMBAR.COM-Ratusan keluarga di Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, akhirnya dapat kembali menggunakan jembatan darurat setelah delapan bulan terpaksa menyeberangi Sungai Batang Anai menggunakan rakit akibat perubahan aliran sungai pascabencana hidrometeorologi.
Jembatan kembali difungsikan setelah proses normalisasi Sungai Batang Anai selesai, Kamis (16/7/2026). Pekerjaan tersebut mengembalikan aliran sungai ke jalur semula sehingga kembali berada tepat di bawah jembatan.
Pemulihan akses ini menjadi kabar penting bagi masyarakat karena selama lebih dari delapan bulan aktivitas warga terganggu akibat putusnya jalur penghubung utama antara Nagari Anduriang dan Nagari Kayu Tanam.
Kerusakan bermula ketika bencana hidrometeorologi pada November 2025 mengubah arah aliran Sungai Batang Anai. Pergeseran tersebut membuat jembatan tidak lagi berada di atas aliran sungai sehingga tidak dapat digunakan.
Sebagai alternatif, warga membangun rakit sederhana menggunakan tong oli bekas agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.
Setiap hari masyarakat harus menggunakan rakit untuk bekerja, mengantar anak ke sekolah, mengakses layanan kesehatan, hingga memenuhi kebutuhan ekonomi di pasar.
Situasi tersebut juga menyimpan ancaman keselamatan yang tinggi. Seorang warga bahkan sempat hanyut ketika menyeberang menggunakan rakit, meski akhirnya berhasil diselamatkan warga sekitar.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melakukan normalisasi sungai selama sekitar dua bulan.
Pengerjaan dilakukan dengan alat berat yang jumlahnya terus ditambah. Dari semula hanya satu ekskavator, pemerintah kemudian mengoperasikan empat unit agar pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Padang Pariaman, El Abdes Marsyam mengatakan, normalisasi berhasil mengembalikan aliran Sungai Batang Anai sepanjang hampir 200 meter pada kedua sisi sungai.
“Dengan kembalinya aliran sungai ke bawah jembatan, masyarakat kini dapat beraktivitas dengan lebih aman. Risiko tinggi yang selama ini mengancam keselamatan warga dapat ditekan secara signifikan,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah juga mengaktifkan kembali jembatan darurat sebagai solusi sementara sebelum pembangunan jembatan permanen dilaksanakan.
Selain itu, pemerintah berencana memasang lampu penerangan di sekitar jembatan guna meningkatkan keamanan pengguna jalan, khususnya pada malam hari.
Meski akses telah kembali dibuka, pemerintah tetap mengimbau masyarakat berhati-hati karena jembatan yang digunakan masih bersifat sementara.
Bagi masyarakat Nagari Anduriang, jembatan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial.
Zamhar, salah seorang warga, mengatakan selama delapan bulan masyarakat tidak memiliki pilihan selain menggunakan rakit meski risikonya sangat besar.
“Jembatan ini urat nadi masyarakat. Kami bekerja, anak-anak sekolah, dan berbelanja melalui jalur ini. Karena itu kami tetap menyeberang walaupun harus mempertaruhkan keselamatan,” katanya.
Ia juga mengingatkan peristiwa seorang lansia yang sempat hanyut saat menyeberang menggunakan rakit. Insiden yang viral di media sosial itu menjadi simbol beratnya kondisi yang dihadapi masyarakat selama akses utama terputus.
Rampungnya normalisasi Sungai Batang Anai kini mengakhiri masa sulit tersebut. Namun, harapan masyarakat belum sepenuhnya selesai. Warga masih menunggu realisasi pembangunan jembatan permanen agar konektivitas antarnagari benar-benar pulih, sekaligus memberikan jaminan keamanan yang lebih baik bagi aktivitas masyarakat dalam jangka panjang. (kpc)
