Jejak Murka Langit dan Kerentanan Manusia Modern

Oleh : Dr. Irwandi*)

Ada satu benang merah yang teranyam rapi dalam al Qur’an, yaitu kehancuran sebuah peradaban hampir tidak pernah datang sebagai peristiwa yang kebetulan. Ia kerap diawali oleh aroma keangkuhan manusia yang pekat, tumbuh perlahan di tengah kemegahan kota-kota kuno, lalu diakhiri oleh guncangan dahsyat yang melumat semuanya dalam sekejap.

Kisah tentang jenis-jenis Al-Matsulat—siksaan kebinasaan massal yang menimpa umat-umat terdahulu—bukan sekadar riwayat berdebu yang tersimpan di dalam perpustakaan kuno. Ia adalah potret tragedi kemanusiaan yang terus berulang; sebuah cermin retak bagi siapa saja yang terlena oleh tampuk kekuasaan, keahlian teknologi, dan timbunan harta.

Tengoklah bagaimana kezaliman bekerja pada masa lalu. Firaun, dengan mahkota emas dan ribuan prajurit yang tunduk di bawah jemarinya, merasa berada di puncak jangkauan takdir. Ia mabuk oleh kekuasaan mutlak hingga tanpa ragu memproklamirkan diri sebagai tuhan di tanah Mesir.

Namun, di hadapan gulungan ombak Laut Merah yang terbelah lalu mengatup kembali secara mendadak, seluruh keagungan itu lenyap tak berbekas.

Nasib serupa menimpa kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam yang tertawa mengejek saat melihat sebuah bahtera raksasa dibangun di atas bukit, sebelum akhirnya dipaksa menyerah oleh Matsulatul-Gharaqi—siksaan tenggelam yang membanjiri bumi. Dalam kacamata sains modern, fenomena tsunami lokal atau hempasan air laut berskala masif yang dipicu oleh aktivitas seismik tektonik (seismically-induced tsunami) sanggup meratakan kawasan pesisir hanya dalam hitungan menit.

Namun, dalam ruang kesadaran spiritual, air bah itu adalah instrumen penyeimbang yang dikirim untuk menyapu bersih kesombongan manusia yang telah melampaui batas.

BACA JUGA :  Gebyar Dasawisma PPB, 200 Kader Adu Kreativitas dalam Lima Perlombaan

Di tempat lain, Kaum ’Ad berdiri megah dengan fisik perkasa dan pilar-pilar istana yang menembus awan di wilayah Al-Ahqaf. Mereka membusungkan dada, memamerkan kekuatan militer dan arsitektur sembari bertanya dengan congkak tentang siapa yang lebih kuat dari mereka. Jawabannya datang bukan lewat pasukan manusia, melainkan melalui embusan Matsulatur-Rīhi—badai angin dingin yang mengamuk tanpa henti selama tujuh malam dan delapan hari.

Peneliti iklim dan atmosfer hari ini mengenalnya sebagai fenomena angin topan ekstrem yang dipicu oleh penurunan suhu drastis atau microburst berkecepatan lebih dari 300 kilometer per jam. Tekanan udara yang melonjak seketika sanggup menghancurkan organ paru-paru lewat trauma tekanan (barotrauma) dan memicu hipotermia fatal.

Angin, yang biasanya menjadi helaan napas kehidupan dan pembawa kabar gembira bagi benih-benih tanaman, di tangan Sang Pencipta berubah menjadi mesin pemungut nyawa yang meninggalkan jasad-jasad mereka bergelimpangan bagaikan tunggul pohon kurma yang lapuk dan kosong.

Bencana Alam dan Runtuhnya Moralitas

Keruntuhan sebuah bangsa juga bisa terukir dari retaknya fondasi moralitas masyarakatnya. Kaum Lut memutarbalikkan fitrah kemanusiaan melalui praktik homoseksualitas, perampokan jalanan, dan kejahatan terbuka yang dirayakan tanpa rasa malu.

Bumi yang mereka pijak seolah tak lagi sudi menopang beban kemaksiatan sosial yang sedemikian pekat. Maka, giliran Matsulatul-I’tifāki yang bekerja membuat kota Sodom dan Gomorrah dijungkirbalikkan, lalu dihujani batuan pijar yang terlontar dari dalam perut bumi.

Penelitian geologi di sepanjang zona Sesar Laut Mati (Dead Sea Fault) mencatat bukti-bukti pergeseran kerak bumi secara vertikal (vertical crustal displacement) yang sangat dahsyat pada masa lampau, yang disertai pelepasan gas metana dan belerang panas ke udara.

BACA JUGA :  Di Balik Lahirnya Buku 99 Cara Mencintai Bumi

Sebuah gambaran empiris tentang betapa rapuhnya kerak bumi tempat kita berdiri ketika hukum alam yang teratur berbenturan dengan kebingungan moral manusia yang lepas kendali.

Ketakutan terbesar manusia pun tidak selalu membutuhkan wujud fisik yang kolosal. Kaum Tsamud, yang dengan angkuhnya menyembelih unta betina mukjizat Allah dan merasa aman di balik rumah-rumah batu yang mereka pahat di tebing gunung, serta penduduk Madyan yang culas menipu timbangan perdagangan, dibinasakan oleh Matsulatush Shaihati—gelombang suara atau pekikan dahsyat yang menggelegar dari langit.

Dalam ilmu fisika akustik dan kedokteran modern, ledakan gelombang infrasonik bertekanan tinggi di atas 190 desibel sanggup merusak organ dalam, merobek jaringan pembuluh darah, dan menghentikan detak jantung tanpa perlu meretakkan kulit bagian luar. Mereka mati bergelimpangan di dalam kediaman mereka yang megah, membeku dalam penyesalan yang tak lagi berguna.

Lalu ada Qarun, representasi oligarki kuno yang melangkah di tengah pemukiman dengan jubah sutra yang menyeret tanah. Ia memamerkan kunci-kunci gudang hartanya yang bahkan tak sanggup dipikul oleh sekelompok pria berotot.

Dengan nada sinis, ia menyatakan bahwa seluruh kekayaan itu adalah murni hasil kecerdasan otaknya sendiri, tanpa ada campur tangan Tuhan. Bumi merespons keangkuhan intelektual dan finansial itu dengan Matsulatul-Khasfi: tanah di bawah kakinya melunak, membukakan jurang tanpa dasar yang menelan tubuh, rumah, dan seluruh kemewahannya dalam sekejap.

BACA JUGA :  MKKS SD Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Padang Dikukuhkan, Al Amin: MKKS Mesti Bersama Majukan Sekolah

Geoteknik modern hari ini mengenal fenomena tersebut sebagai proses likuifaksi (soil liquefaction)—saat lapisan tanah padat bermuatan air kehilangan kekuatannya akibat guncangan seismik mendadak dan berubah menjadi cairan kental yang mengisap apa saja di atasnya.

Pada akhirnya, penceritaan kembali tentang Al-Matsulat bukan sekadar catatan geologi atau bahan diskusi sejarah kuno yang berjarak. Ia adalah narasi spiritual yang mengetuk pintu kesadaran manusia modern di tengah zaman yang serba canggih ini.

Gempa bumi, badai topan, gelombang tsunami, dan suara menggelegar dari langit hanyalah instrumen fisik yang bekerja menurut ketentuan Allah Ta’ala pada alam. Sebab musabab sejati dari kehancuran sebuah peradaban selalu bermula dari ruang sunyi di dalam diri manusia, yaitu ketika hati telah membatu oleh kesombongan, ketika empati sosial dan moralitas telah mati, dan ketika manusia merasa bahwa teknologi serta kekuasaan telah cukup untuk menggantikan peran Tuhan di bumi yang mereka pijak.

Akhirnya,batin kita membisikkan bahwa bumi ini terlalu rapuh untuk menanggung beban keangkuhan manusia. []

Dosen UIN Sjech Djamil Djambek Bukittinggi, E-mail:irwandi@uinbukittinggi.ac.id *)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *