Oleh : Ibrahim Zamzami*)
Kerusakan alam yang terjadi saat ini semakin mengkhawatirkan. Deforestasi masif, pencemaran air dan udara, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, serta perubahan iklim merupakan bukti nyata krisis lingkungan global.
Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi lebih dominan akibat perilaku manusia yang tamak dan tidak bertanggung jawab.
Islam sebagai agama yang sempurna telah jauh hari mengingatkan manusia tentang bahaya keserakahan dan kewajiban menjaga keseimbangan alam. Al-Qur’an secara tegas menjelaskan bahwa kerusakan di bumi adalah akibat ulah tangan manusia sendiri.
Pembahasan
- Ketamakan Manusia sebagai Akar Kerusakan Alam
Kerusakan alam yang terjadi di Sumatera saat ini seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, dan menurunnya kualitas lingkungan merupakan dampak nyata dari perilaku manusia yang cenderung tamak dan abai terhadap keseimbangan alam.
Alih fungsi hutan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, serta lemahnya kepedulian terhadap kelestarian lingkungan menunjukkan bahwa manusia telah melampaui batas yang ditetapkan Allah SWT.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat tersebut menegaskan bahwa bencana dan kerusakan yang terjadi bukan semata-mata musibah alam, melainkan peringatan agar manusia melakukan introspeksi dan kembali kepada nilai-nilai ketaatan, keadilan, serta tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.
Oleh karena itu, upaya pelestarian lingkungan di Sumatera harus dipandang sebagai kewajiban moral dan spiritual, bukan hanya kebijakan teknis.
Kesadaran kolektif yang berlandaskan nilai agama diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku manusia agar lebih bijak dalam mengelola alam, sehingga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang dapat terjaga.
- Larangan Berbuat Kerusakan di Bumi
Islam secara tegas melarang segala bentuk perusakan setelah Allah menciptakan bumi dalam keadaan seimbang:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Namun, realitas hari ini memperlihatkan banyak manusia justru merusak keseimbangan tersebut demi memenuhi hawa nafsu dan kepentingan sesaat.
Ayat ini merupakan peringatan tegas agar manusia menjaga keseimbangan alam yang telah Allah ciptakan secara harmonis. Namun, realitas di Sumatera menunjukkan terjadinya pelanggaran nyata terhadap prinsip tersebut.
Penebangan hutan secara masif dan aktivitas pertambangan yang merebak tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan telah merusak ekosistem hutan sebagai penyangga kehidupan. Hilangnya tutupan pohon menyebabkan daya serap air menurun, struktur tanah menjadi rapuh, dan akhirnya memicu bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, serta kerusakan daerah aliran sungai di berbagai wilayah Sumatera.
Kondisi ini mencerminkan bahwa kerusakan bukan berasal dari alam, melainkan akibat keserakahan manusia yang mengabaikan amanah sebagai khalifah di bumi.
Dengan demikian, ayat tersebut tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga sangat relevan sebagai landasan moral dan spiritual untuk mengevaluasi praktik eksploitasi sumber daya alam yang telah membawa dampak bencana bagi masyarakat Sumatera saat ini.
- Ketamakan dan Gaya Hidup Berlebihan
Al-Qur’an juga mengingatkan manusia agar tidak berlebih-lebihan dalam memanfaatkan nikmat Allah:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Gaya hidup konsumtif dan eksploitasi tanpa batas menjadi cerminan ketamakan manusia modern. Pola ini berdampak langsung pada meningkatnya limbah, kerusakan ekosistem, dan krisis sumber daya alam.
- Manusia sebagai Khalifah di Bumi
Dalam perspektif Islam, manusia diberi amanah sebagai khalifah (pemimpin) di bumi:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30).
Sebagai khalifah, manusia seharusnya menjaga, bukan merusak. Ketamakan yang melahirkan kerusakan alam merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.
Penutup
Kerusakan alam yang terjadi saat ini merupakan cerminan dari ketamakan manusia yang mengabaikan nilai-nilai spiritual dan moral.
Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang jelas bahwa perusakan lingkungan adalah akibat langsung dari perbuatan manusia sendiri.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk kembali pada nilai-nilai Islam yang menekankan keseimbangan, tanggung jawab, dan keadilan terhadap alam.
Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. []
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam STAI-PIQ Sumatera Barat*)




