“Rumah”

Cerpen : Nurul Jannah*)

“Rumah tidak pernah benar-benar kosong. Yang membuatnya terasa sunyi adalah ketika orang-orang yang kita tunggu tidak lagi pulang.”

Kereta itu berhenti pelan di Stasiun Balapan Solo.

Aku turun dengan langkah yang tidak lagi ringan. Ada rasa bersalah yang ikut turun bersamaku. Diam, tapi menekan dari dalam dada.

Namaku Ardi.
Dua puluh tujuh tahun.
Anak keempat dari lima bersaudara.

Arsitek, bekerja di Perusahaan Real Estate Ternama di Jakarta.

Dan, anak yang terlalu lama tidak pulang. Terakhir pulang, enam bulan lalu, itupun karena ada proyek membangun Mall terbesar di Solo, bukan karena rindu.

Ayah meninggal lima tahun lalu.

Sejak hari itu, rumah kami di Solo perlahan berubah.

Tidak runtuh.
Tidak juga kosong.
Tapi kehilangan suara.

Kami berlima, yang dulu memenuhi rumah dengan tawa, ribut, dan langkah kaki, pergi satu per satu.

Kakak pertama tinggal di Bandung. Kakak kedua bersama keluarga kecilnya menetap di Surabaya. Kakak ketiga menikah dan menetap di Denpasar.

Aku bekerja di Jakarta. Dengan lintas area kerja di kota-kota besar di Indonesia.

Dan Hana, adik bungsu kami, setahun lalu menikah dan kini ikut suaminya ke Singapura.

Tinggallah Ibu.

Sendiri.

*

Turun dari kereta, aku berjalan menyusuri gang kecil. Pohon mangga itu masih berdiri. Dulu kami berebut memanjatnya. Sekarang, tidak ada yang naik lagi.

Sampai di depan rumah, langkahku melambat.

Rumah itu masih ada. Catnya mulai kusam. Halaman terasa lebih sunyi.

Ponselku bergetar.

Hana.

Aku mengangkat.

“Mas… sudah sampai?”

“Di depan rumah.”

Ada jeda.

“Mas…”, suara Hana, adik perempuanku, terdengar sangat pelan.

“aku kepikiran Ibu terus.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Hana…” aku menarik napas,

“kamu juga punya hidup.”

“Justru itu,” potongnya cepat,

“kita semua punya hidup. Tapi Ibu, hanya punya rumah itu.”

Aku terdiam.

“Alhamdulillah, sekarang ada Nuning yang menemani Ibu…” lanjut Hana.

“Nuning?”

“Iya, ponakan jauh dari kampung. Tinggal di situ. Bantu-bantu Ibu, sekalian nemenin Ibu. Di sekolahin Ibu di SMP Islam dekat rumah”

Aku mengangguk pelan, meski Hana tidak bisa melihat.

Ada sedikit rasa lega, begitu tahu Ibu tidak benar-benar sendiri.

“Mas…”

“Iya?”

“Yang lain pada ke mana?…”

Ia berhenti.

Kami sama-sama tahu, itu bukan pertanyaan yang butuh jawaban.

“Mas… jangan cuma sebentar, ya.”

Aku menutup mata.

“Lihat nanti…”

Hana terdiam.

Lalu berbisik: “Takutnya, nanti pas kita pulang, semua sudah terlambat. Ibu sudah tidak ada lagi…”

Telepon itu terputus.

Aku masih berdiri di depan pintu.

Kalimat Hana terakhir membuatku terdiam. Dan kalimat itu tidak mau pergi dari kepalaku.

“Masuk saja, tidak dikunci.”

Terdengar suara Ibu dari dalam.

Terdengar pelan.

Terdengar lebih rapuh dari yang pernah kuingat.

Aku membuka pintu.

Rumah itu, masih berdiri. Tapi tidak lagi terasa hidup dan bernyawa seperti dulu.

Tidak ada suara televisi.
Tidak ada aroma masakan yang kuat.

Hanya sunyi yang terasa menetap di sana.

Ibu duduk di kursi dekat jendela.

Terlihat lebih kurus.

Aku langsung berhambur ke pelukan Ibu, dan bersujud di kakinya.

Ibu mengelus rambutku dan membawaku berdiri.

“Alhamdulillah, kamu pulang juga akhirnya. Bagaimana pekerjaanmu?”

Hanya itu sapaan Ibu.

Tidak ada pertanyaan, “kenapa baru pulang sekarang”.

Tidak ada keluhan.

Padahal aku datang setelah terlalu banyak hari aku lewati tanpa kembali.

Belum sempat aku menjawab, seorang anak perempuan manis berkepang dua, keluar dari dapur.

“Bude, airnya sudah mendidih…”

Ia berhenti saat melihatku.

“Nuning, ini Mas Ardi..”

Ibu mengenalkan aku ke Nuning.

“Ini Nuning. Anaknya Bulek Minah. Ibu minta sekolah SMP di sini saja. Biar sekalian nemenin Ibu.”

Nuning tersenyum canggung. Masih berseragam SMP. Rambutnya dikepang dua.

“Mas, mau minum teh?”

Aku mengangguk.

Aku duduk di samping Ibu.

Melihat rumah itu lagi. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihatnya.

Rumah ini tidak kosong. Tapi kehilangan orang-orang yang dulu menghidupkannya.

Ibu ikut menemaniku berkeliling rumah. Langkah Ibu terhenti di ruang keluarga. Ibu menatap dalam salah satu foto kami di dinding.

Foto lama.

Kami berlima.

Ayah dan Ibu di tengah.

“Semua sudah punya jalan masing-masing…”

Ibu tersenyum tipis, dengan mata berkaca-kaca.

Aku menunduk. Kalimat itu terdengar perih. Ada kesunyian yang terasa dari kalimat Ibu.

*

Malam tiba.

Aku menemani Ibu di dapur.

Nuning lebih sering bergerak daripada Ibu.
Mengambil air.
Menata piring.

“Mas jarang pulang, ya?” tanya Nuning polos.

Aku terdiam.

“Iya…”

Nuning mulai bercerita.

“Bude sering nunggu putra putrinya pulang di depan pintu.”

Sendok di tanganku berhenti.

“Kalau sore, Bude duduk lama di sana,” lanjut Nuning, sembari menunjukkan tempat ibu biasa duduk,

“katanya, siapa tahu ada yang pulang.”

Dadaku terasa ditarik kuat. Sakit sekali.

Saat makan, aku bertanya pelan,

“Bu… kenapa sering duduk di depan pintu?”

Ibu tersenyum.

“Biar kalau kalian pulang… Ibu tidak terlambat membukakan.”

Kalimat itu sederhana. Tapi menghancurkan.

“Ibu tidak tahu kalian pulang kapan,” lanjutnya,

“jadi Ibu tunggu saja di situ.”

Aku tidak sanggup lagi menyembunyikan air mata. Dada terasa sakit. Aku tak sanggup lagi menatap mata Ibu.

Lima anak.

Dan tidak satu pun benar-benar tinggal.

*

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku keluar kamar. Lampu redup.

Ibu tertidur di kursi. Nuning tidur di lantai, bersandar di dekat kaki Ibu. Seperti penjaga kecil, di rumah yang terlalu sunyi.

Aku berdiri lama menyaksikan pemandangan itu. Lalu duduk perlahan. Di samping kursi tempat Ibu tidur.

Di situlah aku benar-benar mengerti. Ibu sebenarnya tidak benar-benar sendiri, tapi kesepian itu tetap ada, karena yang ia tunggu bukan Nuning, melainkan kami, anak-anaknya.

  • Pagi datang terlalu cepat. Waktu cuti sudah berakhir. Tiga hari terasa dua jam saja. Aku bersiap kembali.

Pekerjaan menunggu. Dunia menunggu.

Seperti biasa. Ibu bersiap mengantarkan aku kembali. Ia sudah berdiri di depan pintu. Nuning di sampingnya.

“Hati-hati di jalan, ya…”

Aku memeluk Ibu.

Erat. Tidak ingin saling melepaskan.

“Jangan lama-lama, ya…”

Suara itu terdengar pelan sekali.

Aku ingin berkata, “Aku akan sering pulang.”

Tapi kalimat itu tidak jadi terucapkan.

Terlalu sering kami ucapkan. Terlalu sering pula kami ingkari.

Aku hanya mengangguk. Dan itu, terasa lebih menyakitkan.

Aku berjalan menjauh. Tidak berani menoleh lagi. Karena aku tahu, Ibu akan tetap berdiri di pintu itu. Menunggu. Hingga langkahku menghilang dari matanya.

*

Di perjalanan kembali ke Jakarta, aku tidak lagi membuka laptop. Tidak juga membaca pesan. Tidak menjawab apa pun.

Untuk pertama kalinya, aku hanya duduk, dan memikirkan satu hal yang selama ini selalu aku tunda.

Rumah itu tidak kosong. Ibu masih ada. Masih bisa tersenyum. Masih bisa membukakan pintu.

Tapi waktu, tidak pernah memberi tanda kapan semuanya akan berubah.

Aku tahu, suatu hari nanti aku akan pulang lagi. Mungkin saat pekerjaan lebih longgar. Mungkin saat hidup terasa lebih lapang.

Tapi yang tidak pernah bisa kupastikan, apakah pada hari itu, Ibu masih berdiri di pintu yang sama, menunggu dengan cara yang sama.

Dan tiba-tiba aku sadar, yang selama ini aku tunda bukan hanya pulang. Aku ternyata juga menunda hadir, di saat Ibu benar-benar membutuhkan kehadiranku.

Kereta terus melaju.

Di antara bunyi rel yang berulang, satu kalimat terus berputar di kepalaku: penyesalan tidak selalu datang setelah kehilangan, sering kali, ia datang, saat orang yang kita cintai masih ada, dan masih setia menunggu.

Bogor, 29 Maret 2026❤️

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *