“Tiga Puluh Tahun”

Oleh : Nurul Jannah*)

“Ada perjalanan yang tidak pernah tercatat dalam angka, namun hidup di setiap lelah yang dipilih untuk tetap dijalani, dalam setiap langkah yang tidak pernah berhenti.”

Tiga puluh tahun bukan hanya hitungan waktu.

Angka itu terlihat sederhana. Namun di dalamnya, tersimpan hari-hari panjang yang tidak selalu mudah dijalani.

Rasanya seperti baru kemarin, berdiri dengan seragam rapi, menerima amanah sebagai CPNS di tahun 1994.

Masih dengan semangat yang penuh dan utuh, dengan mimpi yang belum sepenuhnya dipahami, dan keyakinan bahwa pengabdian adalah jalan yang harus ditempuh, apapun yang terjadi

Waktu berjalan.

Tanpa suara.

Tanpa jeda.

Tidak terasa. Hari berganti menjadi bulan. Bulan berubah menjadi tahun.

Dan tanpa disadari, langkah kecil yang dulu terasa biasa, ternyata telah membawa pada satu titik yang tidak semua orang mampu capai: tiga dekade pengabdian.

Hari ini, di hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, sebuah tanda kehormatan itu hadir.

Satyalancana Karya Satya XXX Tahun.

Sebuah penghargaan dari Presiden Republik Indonesia, yang diberikan kepada aparatur negara yang telah mengabdi dengan setia, jujur, dan penuh tanggung jawab selama tiga puluh tahun.

Medali itu berkilau. Piagam itu tertulis rapi.

Namun yang tidak terlihat adalah perjalanan panjang di baliknya.

Bukan hanya tentang hadir di tempat kerja. Bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban.

Tetapi tentang jatuh, dan memilih bangkit. Tentang lelah, namun tetap melangkah. Tentang ragu, namun tidak berhenti percaya.

Sebagai pendidik, perjalanan itu terasa lebih dalam.

Karena yang dihadapi bukan hanya pekerjaan, melainkan hati manusia.

Mahasiswa dengan mimpi, dengan kegelisahan, dengan harapan yang kadang rapuh dan nyaris padam.

Ada hari-hari ketika kelas terasa ringan. Ada hari-hari ketika hati terasa berat.

Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah keinginan untuk terus memberi, meski diri sendiri belum sepenuhnya sempurna.

Tiga puluh tahun bukan hanya tentang waktu.

Ia adalah cermin yang jujur. Tentang apa yang sudah dilakukan. Tentang apa yang belum tercapai. Dan tentang apa yang masih harus diperjuangkan.

Dan pada titik ini, kejujuran menjadi penting dan tidak bisa dihindari.

Penghargaan ini, bukan tentang diri sendiri. Ia adalah tentang perjalanan panjang belajar. Tentang kesalahan yang diperbaiki dengan air mata. Tentang kegagalan yang diam-diam menguatkan. Tentang proses menjadi, yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ada rasa syukur yang tidak bisa disembunyikan.

Alhamdulillah…diberi waktu. Diberi kesempatan.

Untuk tetap berjalan, meski tidak selalu kuat. Untuk tetap mengabdi, meski tidak selalu dihargai.
Untuk tetap menjadi bagian kecil dari perjalanan negeri ini.

Namun di balik rasa syukur itu, ada kesadaran yang lebih dalam.

Bahwa perjalanan ini belum selesai.

Masih ada yang harus diperbaiki. Masih ada yang harus ditingkatkan. Masih ada yang harus diperjuangkan.

Karena pada akhirnya,
Satyalancana 30 tahun bukan garis akhir. Ia adalah pengingat yang tidak boleh diabaikan.

Pengingat bahwa pengabdian tidak berhenti pada penghargaan. Pengingat bahwa tanggung jawab tidak berkurang karena pengakuan.

Tiga puluh tahun telah terlewati. Namun pertanyaan yang lebih jujur adalah berapa banyak hati yang pernah disentuh, berapa banyak kehidupan yang pernah berubah, dan seberapa tulus langkah itu dijalani, tanpa ingin dilihat.

Dan di titik ini, hanya satu doa yang tersisa, semoga tetap diberi kekuatan untuk mendidik dengan hati, bukan hanya dengan ilmu.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah medali yang tergantung, melainkan jejak yang tertinggal di dalam hidup orang lain. Jejak yang mungkin tidak pernah disebut, namun terus hidup, dalam diam.❤️🌹🎀

Bogor, 2 Mei 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *