PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti (UNES) sukses menyelenggarakan kuliah umum virtual bertaraf internasional dengan menghadirkan pembicara dari luar negeri, yaitu Dr. Narieste Muratovna Alieva, dosen dari Ala-Too International University, Bishkek Kyrgyzstan.
Kegiatan akademik tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen Program Studi Ilmu Komunikasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas wawasan internasional mahasiswa, serta memperkuat jejaring kerja sama akademik global di era digital dan globalisasi.
Kuliah umum dilaksanakan secara daring melalui platform virtual dan diikuti dengan penuh antusias oleh dosen serta mahasiswa dari berbagai angkatan, Senin (18/5/2026).
Kegiatan ini dipandu moderator Fetri Reni, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti, yang memandu jalannya acara secara komunikatif, interaktif, dan dinamis.
Sejak awal kegiatan, suasana akademik terasa hangat dan penuh semangat. Peserta terlihat aktif menyimak pemaparan materi dan mengikuti sesi diskusi yang membahas berbagai isu penting terkait perkembangan komunikasi global, media digital, kecerdasan buatan, serta tantangan jurnalistik di era informasi modern.
Kuliah umum virtual tersebut turut dihadiri oleh Rektor Universitas Ekasakti, Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan akademik internasional tersebut.

Beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini harus mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia yang semakin terbuka dan terkoneksi secara global.
Menurutnya, kolaborasi internasional menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi dan memperluas wawasan mahasiswa agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Prof. Dr. Sufyarma Marsidin juga menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan dan media.
Oleh sebab itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi global, serta literasi digital yang baik agar mampu menghadapi tantangan di masa depan.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi sarana pembelajaran yang inspiratif sekaligus membuka peluang kerja sama lebih luas antara Universitas Ekasakti dengan institusi pendidikan luar negeri.
Selain Rektor, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Drs. Tarma Sartima M.Si., Ph.D., yang menyampaikan dukungannya terhadap berbagai program akademik internasional yang diinisiasi oleh Program Studi Ilmu Komunikasi.
Menurutnya, kuliah umum internasional memberikan manfaat besar bagi mahasiswa karena mereka dapat memperoleh perspektif baru mengenai perkembangan media dan komunikasi dari sudut pandang internasional.
Tarma Sartima menjelaskan bahwa dunia komunikasi saat ini berkembang sangat cepat seiring dengan kemajuan teknologi digital dan media sosial. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa batas geografis. Kondisi tersebut menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan serius, terutama terkait penyebaran berita palsu, hoaks, disinformasi, dan polarisasi sosial.
Karena itu, mahasiswa komunikasi dituntut untuk memiliki kemampuan literasi media, etika komunikasi, serta tanggung jawab sosial dalam memproduksi dan menyebarkan informasi.
Sementara itu, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi, Dr. Sumartono, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Prodi Ilmu Komunikasi dalam menghadirkan proses pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan global.
Ia menekankan bahwa mahasiswa komunikasi tidak cukup hanya memahami teori komunikasi secara konvensional, tetapi juga harus memahami dinamika media digital, komunikasi lintas budaya, diplomasi komunikasi, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Dr. Sumartono, era digital telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat. Media sosial kini menjadi ruang utama pertukaran informasi, opini, dan gagasan.
Namun di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan serius seperti penyebaran hoaks, manipulasi informasi, cyber bullying, dan menurunnya kualitas verifikasi berita. Oleh karena itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi memiliki tanggung jawab penting dalam membangun budaya komunikasi yang sehat, kritis, dan beretika.
Dalam sesi utama, Dr. Narieste Muratovna Alieva menyampaikan materi mengenai perkembangan media dan komunikasi global di era digital.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses dan menyebarkan informasi.
Jika dahulu media tradisional seperti televisi, radio, dan surat kabar menjadi sumber utama informasi, kini media sosial dan platform digital mengambil peran yang sangat dominan dalam kehidupan masyarakat modern.
Dr. Narieste juga membahas bagaimana perkembangan Artificial Intelligence (AI) memberikan dampak besar terhadap dunia komunikasi dan jurnalistik.
Menurutnya, AI dapat menjadi alat yang sangat membantu dalam meningkatkan efisiensi kerja media, mempercepat proses produksi berita, dan mempermudah analisis data. Namun, AI juga dapat menjadi “double-edged force” atau kekuatan bermata dua apabila digunakan secara tidak bertanggung jawab.
Teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk menciptakan disinformasi, manipulasi gambar dan video, serta penyebaran berita palsu yang sulit dibedakan dari informasi asli.
Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perkembangan teknologi tersebut. Masyarakat, khususnya generasi muda, harus mampu memilah informasi yang benar dan tidak mudah terpengaruh oleh berita bohong yang beredar di media sosial.
Ia juga menyoroti pentingnya peran jurnalisme damai atau peace journalism dalam menjaga stabilitas sosial dan membangun komunikasi yang mendorong toleransi, dialog, dan perdamaian di tengah masyarakat multikultural.
Selain membahas isu global, Dr. Narieste turut memperkenalkan kondisi perkembangan media di Kyrgyzstan.
Ia menjelaskan bahwa negara-negara di kawasan Asia Tengah juga menghadapi tantangan yang hampir serupa dengan negara lain, seperti transformasi digital, perubahan pola konsumsi media, serta tantangan menjaga independensi media.
Penjelasan tersebut memberikan wawasan baru bagi peserta mengenai kondisi komunikasi dan media di kawasan internasional yang jarang diketahui secara mendalam oleh mahasiswa.
Sesi diskusi berlangsung sangat interaktif. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi terlihat antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait perkembangan media sosial, tantangan jurnalistik di era AI, etika komunikasi digital, hingga strategi menghadapi penyebaran hoaks.
Beberapa mahasiswa juga bertanya mengenai bagaimana media dapat berperan dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap informasi palsu dan ujaran kebencian.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr. Narieste menjelaskan bahwa media memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan ruang informasi yang sehat dan edukatif. Jurnalis harus tetap menjunjung tinggi prinsip verifikasi, akurasi, independensi, dan etika dalam menyampaikan berita.
Selain itu, masyarakat juga perlu dibekali pendidikan literasi media sejak dini agar mampu memahami cara kerja media dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan.
Moderator Fetri Reni berhasil menjaga jalannya diskusi tetap aktif dan kondusif. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, ia mampu menghubungkan berbagai pertanyaan peserta dengan materi yang disampaikan narasumber sehingga diskusi berlangsung lebih hidup dan menarik.
Interaksi antara pembicara dan peserta mencerminkan tingginya minat mahasiswa terhadap isu komunikasi global dan perkembangan teknologi informasi saat ini.
Kuliah umum virtual ini tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat hubungan akademik antara Universitas Ekasakti dan Ala-Too International University.
Melalui kegiatan ini, kedua institusi menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung pengembangan pendidikan tinggi yang berorientasi internasional dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Di akhir kegiatan, pihak Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan menghadirkan akademisi, praktisi, maupun peneliti dari berbagai negara.
Dengan demikian, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas dan memahami berbagai isu global dari perspektif internasional.
Kuliah umum virtual ini menjadi bukti bahwa kolaborasi akademik lintas negara memiliki peran penting dalam memperkaya wawasan mahasiswa serta meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di era globalisasi.
Melalui semangat kolaborasi, inovasi, dan keterbukaan terhadap perkembangan dunia, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti terus berupaya menciptakan lingkungan akademik yang unggul, progresif, dan mampu melahirkan generasi komunikasi yang kritis, kreatif, serta berdaya saing global. (*/sum)




