Oleh: Nurul Jannah
Kadang Allah tidak mengizinkan kaki kita sampai ke sebuah tempat, tetapi mengizinkan karya kita tiba lebih dahulu dan meninggalkan jejak di sana.
Hari ini hati saya dipenuhi rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Alhamdulillah, di tengah kesibukan yang tidak memberi banyak ruang untuk bepergian, kabar dari Bukittinggi datang membawa kebahagiaan yang hangat, mengalir perlahan, lalu memenuhi relung hati.
Tiga serial Tomoko akhirnya ikut hadir dalam International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) IV Tahun 2026, sebuah perhelatan literasi bertaraf internasional yang tahun ini mengusung momentum istimewa 100 Tahun Jam Gadang.
Meski saya, Bu Puji Setya Wilujeng, dan Bu Minarni tidak dapat hadir secara langsung, foto-foto yang dikirimkan oleh Mbak Shintalya Azis dan Bu Fetty Fajriati membuat hati kami serasa ikut berada di sana.
Di antara ratusan karya, ribuan buku, dan para pegiat literasi yang datang dari berbagai daerah bahkan berbagai negara, serial Tomoko ikut berdiri megah di sana. Ikut bercerita. Ikut menyapa. Ikut menitipkan mimpi kepada siapa pun yang bersedia membuka halamannya.
Dan bagi kami, itu adalah kebahagiaan yang sangat besar.
Sejujurnya, jauh-jauh hari kami telah merencanakan untuk hadir bersama di Bukittinggi. Kami membayangkan berjalan di bawah Jam Gadang yang selama satu abad berdiri tegak sebagai saksi perjalanan waktu. Kami membayangkan bertemu para penulis, pegiat literasi, seniman, budayawan, dan pencinta buku dari berbagai penjuru.
Kami membayangkan duduk bersama, bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan merayakan kecintaan yang sama terhadap dunia literasi.
Namun Allah memiliki rencana yang lebih indah.
Pada waktu yang sama, ada amanah yang harus ditunaikan. Ada mahasiswa yang membutuhkan bimbingan. Ada tugas akademik yang harus diselesaikan. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Ada tanggung jawab yang telah lebih dahulu menunggu di Bogor.
Kadang hati ingin berangkat. Namun amanah meminta untuk tetap tinggal. Dan hidup mengajarkan bahwa tidak semua tempat harus kita datangi dengan langkah kaki. Ada tempat-tempat yang dapat kita jangkau melalui doa, cinta, dan karya yang kita titipkan.
Oleh karena itu, kehadiran Mbak Shintalya Azis dan bu Fetty Fajriati di Bukittinggi Padang, Sumatera Barat, menjadi anugerah yang kami syukuri.
Dengan penuh semangat dan ketulusan, beliau berkenan mewakili Tomoko menghadiri festival tersebut. Membawa tiga serial Tomoko. Menjaga kehadiran kami di tengah perhelatan literasi internasional yang begitu besar dan megah.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah membawa beberapa buku.
Namun bagi kami, Mbak Shintalya Azis sedang membawa mimpi-mimpi yang telah dirawat selama ini. Membawa persahabatan yang tumbuh melalui tulisan. Membawa jejak perjalanan panjang yang dibangun dengan cinta, ketekunan, dan keyakinan bahwa kata-kata dapat menghadirkan perubahan.
Karena setiap buku memiliki takdirnya sendiri. Dan setiap buku selalu membutuhkan hati-hati baik yang bersedia membawanya menemukan para pembacanya.
Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika melihat karya lukis Bu Puji Canting juga ikut hadir di arena festival.
Masya Allah. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Di satu sisi hadir karya sastra. Di sisi lain hadir juga karya rupa.
Keduanya lahir dari proses yang sama: kesabaran.
Kami memahami betul bahwa sebuah karya tidak pernah lahir dalam semalam. Di balik satu buku, ada lembar demi lembar yang direvisi. Ada paragraf yang dihapus lalu ditulis ulang.
Ada malam-malam panjang ketika ide terasa buntu. Ada keraguan yang harus dikalahkan. Ada harapan yang terus dijaga agar tidak padam.
Begitu pula dengan sebuah lukisan. Orang hanya melihat hasil akhirnya. Namun hanya pelukis yang tahu berapa lama ia berdialog dengan kanvas kosong. Berapa kali warna ditimpa warna. Berapa banyak rasa yang dituangkan tanpa suara.
Berapa banyak bagian dirinya yang diam-diam tinggal di dalam lukisan itu. Oleh karena itu, melihat buku dan lukisan berdampingan di sebuah festival internasional, menghadirkan kebahagiaan yang sulit dilukiskan. Seolah sastra dan seni sedang saling menggenggam tangan, berjalan bersama membawa pesan yang sama: bahwa keindahan selalu lahir dari ketekunan yang tidak menyerah.
International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) IV yang berlangsung pada 3–7 Juni 2026 bukan hanya bazar buku. Festival ini adalah ruang perjumpaan gagasan. Ruang bertemunya budaya, literasi, seni, dan kemanusiaan.
Ruang tempat berbagai cerita dari berbagai bangsa saling bertukar cahaya. Ruang tempat kata-kata menjelma jembatan yang menghubungkan hati, melintasi batas negara, bahasa, dan latar belakang kehidupan.
Dan tahun ini, semuanya menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan momentum 100 Tahun Jam Gadang
Jam Gadang bukan hanya ikon Bukittinggi. Ia adalah penanda waktu. Saksi sejarah. Penjaga kenangan. Selama satu abad, dentangnya telah menemani perjalanan banyak generasi. Menyaksikan anak-anak tumbuh menjadi dewasa. Menyaksikan zaman berubah. Menyaksikan sejarah berganti halaman. Karena itulah tema “Dentang Waktu” terasa begitu dekat di hati kami.
Ia mengingatkan bahwa waktu akan terus berjalan. Generasi akan terus berganti. Namun karya yang ditulis dengan hati akan selalu menemukan jalan untuk bertahan.
Dari Bogor, saya memang tidak dapat menyaksikan seluruh kemeriahan itu secara langsung. Saya tidak bisa berjalan di antara stan-stan buku. Tidak bisa berfoto di bawah Jam Gadang. Tidak bisa menyapa para sahabat literasi yang datang dari berbagai penjuru negara.
Namun hati ini tetap berada di sana. Bersama setiap buku yang dipajang. Bersama setiap pembaca yang membuka halaman demi halaman. Bersama setiap percakapan yang lahir dari kecintaan terhadap ilmu, budaya, dan literasi.
Dan, di situlah letak keajaiban sebuah karya. Tubuh boleh tertahan oleh jarak. Namun karya mampu terbang lebih jauh daripada langkah kaki pemiliknya.
Ia menemukan jalannya sendiri. Ia mengetuk pintu-pintu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ia mempertemukan hati-hati yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Sebagai rasa syukur, kami hanya bisa menengadahkan tangan. Ya Allah… Terima kasih atas kesempatan yang indah ini. Terima kasih atas persahabatan yang Engkau pertemukan melalui Tomoko,Tujuh Srikandi dan NJD. Terima kasih atas tangan-tangan baik yang membantu setiap perjalanan kami.
Terima kasih atas setiap halaman yang berhasil ditulis. Terima kasih atas setiap warna yang berhasil ditorehkan.
Terima kasih atas setiap pintu yang Engkau bukakan ketika kami tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengetuknya.
Semoga IMLF IV di bawah kepemimpinan Uni Sastri Bakri dan seluruh panitia yang telah bekerja tanpa lelah menjadi peristiwa literasi yang dikenang sepanjang masa. Semoga festival ini terus tumbuh menjadi mercusuar literasi internasional yang menerangi masa depan dengan ilmu, budaya, kreativitas, dan persaudaraan.
Dan semoga dentang Jam Gadang yang telah mengiringi perjalanan satu abad itu terus bergema. Mengingatkan kita bahwa waktu boleh berjalan. Generasi boleh berganti. Namun karya yang lahir dari ketulusan tidak pernah benar-benar pergi.
Ia akan terus hidup di dalam ingatan. Tumbuh di dalam hati. Dan menemukan pembacanya, bahkan ketika jarak, waktu, dan keadaan memisahkan kita darinya.
Karena pada akhirnya, bukan langkah kaki yang membuat sebuah karya dikenang. Melainkan cinta, ketulusan, dan jejak kebaikan yang ditinggalkannya dalam kehidupan banyak orang. 🌹📚🎨




