Kuliah Umum Virtual Ilmu Komunikasi UNES: Menyelami Konstruksi dan Representasi Identitas di Era Digital Bersama Akademisi Internasional dari Pakistan

Kuliah umum virtual Ilmu Komunikasii Universitas Ekasakti yang dipandu moderator Dr. Sumartono bersama Dr. Abdul Basit, Senior Assistant Professor Universitas Bahria Islamabad, Pakistan. (foto; ist)

PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti (UNES) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang akademik yang berkualitas dan berwawasan global melalui penyelenggaraan kuliah umum virtual bertajuk “Identity Construction and Representation in the Digital Age.” 

Kegiatan ini menghadirkan akademisi internasional, Dr. Abdul Basit, Senior Assistant Professor Universitas Bahria Islamabad, Pakistan, sebagai narasumber utama yang membagikan perspektif mendalam mengenai dinamika identitas manusia di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Kuliah umum yang dilaksanakan secara daring tersebut berlangsung dengan penuh antusiasme dan diikuti oleh dosen, mahasiswa, peneliti, serta peserta dari berbagai institusi pendidikan. Kehadiran peserta dari beragam latar belakang menunjukkan tingginya perhatian terhadap isu identitas digital yang kini menjadi salah satu tema sentral dalam kajian komunikasi kontemporer.

Acara ini turut dihadiri oleh Rektor Universitas Ekasakti, Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M.Pd., yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya forum akademik internasional tersebut.

Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman yang komprehensif mengenai perubahan sosial yang terjadi akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Menurut beliau, era digital telah menghadirkan transformasi besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Cara individu berinteraksi, membangun relasi sosial, mengekspresikan diri, hingga membentuk identitas kini tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar dapat memahami berbagai fenomena komunikasi yang muncul dalam masyarakat digital.

Kuliah umum dipandu oleh Dr. Sumartono, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti, yang bertindak sebagai moderator. Dengan pengalaman akademik yang dimilikinya, sesi diskusi berlangsung dinamis dan interaktif sehingga mampu menjembatani gagasan-gagasan teoretis yang disampaikan narasumber dengan realitas yang dihadapi peserta dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam paparannya, Dr. Abdul Basit menjelaskan bahwa identitas pada era digital tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang bersifat tetap dan tunggal. Sebaliknya, identitas merupakan konstruksi sosial yang terus berkembang melalui interaksi yang terjadi di berbagai platform digital.

Media sosial, aplikasi komunikasi, hingga ruang virtual lainnya telah menjadi arena baru bagi individu untuk membangun citra diri, menampilkan karakter, serta mengomunikasikan nilai-nilai yang mereka yakini.

Ia menekankan bahwa teknologi digital memberikan peluang yang sangat besar bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya secara lebih luas. Namun di sisi lain, kebebasan tersebut juga menghadirkan tantangan yang tidak sederhana.

Individu sering kali menghadapi tekanan untuk menampilkan versi terbaik dari dirinya, menyesuaikan diri dengan ekspektasi audiens, serta memperoleh pengakuan sosial melalui berbagai indikator digital seperti jumlah pengikut, tanda suka, maupun komentar.

Lebih jauh, Dr. Basit menguraikan bagaimana algoritma media sosial turut berperan dalam membentuk representasi identitas. Apa yang dilihat, dibagikan, dan dikonsumsi oleh pengguna tidak sepenuhnya ditentukan oleh pilihan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem algoritmik yang bekerja di balik platform digital. Kondisi ini menjadikan konstruksi identitas sebagai proses yang semakin kompleks karena melibatkan interaksi antara individu, komunitas, teknologi, dan struktur digital yang lebih luas.

Salah satu poin penting yang mengemuka dalam kuliah umum tersebut adalah perlunya literasi digital yang kuat di kalangan generasi muda.

Menurut Dr. Basit, kemampuan menggunakan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan memahami dampak sosial, budaya, dan psikologis dari penggunaan teknologi itu sendiri. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga mencakup kesadaran kritis dalam memproduksi, mengonsumsi, dan mengevaluasi informasi serta representasi yang beredar di ruang digital.

Paparan tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Dalam sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan diajukan mengenai autentisitas identitas di media sosial, pengaruh kecerdasan buatan terhadap representasi diri, hingga tantangan menjaga identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi digital.

Diskusi berlangsung hidup dan menunjukkan tingginya minat peserta untuk memahami fenomena komunikasi digital secara lebih mendalam.

Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, kuliah umum ini menjadi pengalaman akademik yang berharga. Selain memperoleh wawasan langsung dari akademisi internasional, peserta juga mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya memahami komunikasi digital sebagai fenomena multidimensional yang memengaruhi kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi masyarakat modern.

Kegiatan ini sekaligus mencerminkan komitmen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti dalam memperluas jejaring akademik internasional dan menghadirkan pengalaman pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, kolaborasi lintas negara menjadi langkah strategis untuk memperkaya wawasan akademik sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

Kuliah umum “Identity Construction and Representation in the Digital Age” bukan sekadar forum berbagi ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang refleksi bagi seluruh peserta untuk memahami bagaimana teknologi telah mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri dan orang lain.

Di balik layar perangkat digital yang setiap hari digunakan, terdapat proses-proses sosial yang membentuk identitas, memengaruhi perilaku, serta menentukan cara manusia berinteraksi dalam masyarakat global.

Melalui kegiatan ini, Universitas Ekasakti kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semangat untuk terus belajar, berpikir kritis, dan membuka diri terhadap perspektif global menjadi pesan utama yang mengemuka sepanjang kegiatan.

Harapannya, wawasan yang diperoleh dari kuliah umum ini dapat menginspirasi mahasiswa untuk menjadi generasi yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga bijaksana dalam membangun dan merepresentasikan identitasnya di era digital yang terus berkembang. (sum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *