“Meja Makan”

Oleh: Nurul Jannah*)

“Nak… sudah cuci tangan?”

Suara itu hampir selalu terdengar sore hari, menjelang magrib.

Dari dapur, Ibu memanggil kami satu per satu.

“Mas… panggil adikmu.”

“Ayah sudah pulang?”

“Tolong ambilkan satu piring lagi.”

Dulu, kalimat-kalimat itu mengalir begitu saja di telinga kami. Datang setiap hari, lalu berlalu seperti angin sore. Tidak ada yang menganggapnya istimewa. Tidak ada yang membayangkan bahwa suatu hari nanti, suara-suara itulah yang paling ingin kami dengar.

Di rumah kami, makan malam bukan hanya tentang mengisi perut.

Meja makan bukan hanya tempat kami menikmati hidangan. Di sanalah seluruh cerita pulang, tawa bertemu, lelah dilepaskan, dan rasa syukur tumbuh tanpa pernah diminta.

Ayah pulang membawa kisah dari tempat kerja. Ibu bercerita tentang tetangga yang baru melahirkan atau harga sayur di pasar. Kakak mengeluhkan tugas sekolah. Adik sibuk memperlihatkan nilai ulangannya.

Kadang terdengar tawa hingga ada yang tersedak. Kadang terdengar protes karena lauk kesukaan tinggal sedikit.

Kalau sudah begitu, Ibu hanya tersenyum sembari menenangkan kami dengan lembut, “Jangan berebut… nanti Ibu goreng lagi.”

Biasanya, ayah langsung terkekeh dan berkomentar cepat, menyemangati Ibu, “Kalau lauk cepat habis, berarti masakan Ibu memang paling enak.”

Kami semua pun tertawa. Saat itu kami mengira kebersamaan seperti itu akan berlangsung selamanya.


Menjelang makan malam, Ibu selalu menata piring satu per satu. Ibu tidak perlu menghitung lagi. Tangannya telah hafal. Satu untuk Ayah. Satu untuk Ibu. Lalu delapan piring untuk kami, anak-anaknya.

Seolah setiap piring telah mengetahui siapa pemiliknya. Ada yang nasinya harus paling banyak. Ada yang selalu meminta sambal tambahan. Ada yang tidak suka sayur. Ada pula yang makannya sedikit hingga sering menjadi bahan godaan.

Kami delapan bersaudara; empat laki-laki dan empat perempuan. Jarak usia yang berdekatan dan tidak terlalu jauh, membuat rumah hampir tak mengenal sepi. Selalu ada yang berlari, bercanda, saling mengejek, atau berebut tempat duduk di meja makan.

Rumah benar-benar terasa utuh. Meja makan selalu penuh. Dan kami begitu yakin, semua akan tetap seperti itu.

Ternyata kami keliru. Karena waktu tidak pernah meminta izin ketika mengubah sebuah rumah.

Satu per satu, kami mulai meninggalkan rumah. Kakak tertua kuliah di kota lain. Lalu bekerja. Kemudian menikah.

Disusul kakak berikutnya. Lalu yang lain. Hingga akhirnya saya pun merantau untuk mengejar cita-cita.

Perlahan, meja makan yang dahulu selalu penuh mulai ditinggalkan satu persatu. Bukan karena cinta di dalam rumah berkurang, melainkan karena kehidupan memanggil kami menuju jalan yang berbeda-beda.

Awalnya hanya satu kursi kosong. Lalu dua. Lalu tiga. Dan tanpa terasa, ruang makan yang dahulu riuh mulai mengenal sunyi.


Hingga suatu sore saya melihat Ibu sedang menyiapkan makan malam. Seperti biasa, beliau membuka lemari piring. Tangannya mengambil beberapa piring. Lalu mendadak berhenti. Beliau menatap meja makan cukup lama.

Kemudian tersenyum tipis.

“Ah… lupa.”

Saya mendekat.

“Kenapa, Bu?”

Ibu menjawab lirih, “Tangan Ibu masih terbiasa mengambil piring sebanyak dulu…”

Beliau menarik napas pelan, “Padahal sekarang…., yang makan sudah tidak sebanyak dulu.”

Ibu tersenyum. Senyum yang berusaha tampak biasa. Namun saya tahu, di balik senyum itu ada kerinduan yang sedang belajar menerima kenyataan.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu terdengar jauh lebih menyayat daripada tangisan.

Di sana saya melihat seorang ibu yang sedang berusaha berdamai dengan kenyataan.

Ternyata, yang paling sulit berubah bukan isi rumah. Melainkan kebiasaan hati.


Beberapa tahun kemudian saya kembali pulang. Rumah masih berdiri seperti dahulu. Pohon mangga di halaman masih memberi teduh. Jam tua di ruang tamu masih berdetak. Namun ketika melangkah ke ruang makan, kaki saya seakan tertahan.

Meja itu masih ada. Kursi-kursinya masih sama. Lemari piringnya pun belum berubah.

Tetapi suasananya berbeda. Ada kesunyian yang tidak pernah saya kenal sebelumnya.

Saya melihat Ibu kembali membuka lemari. Mengambil beberapa piring. Lalu beberapa piring dikembalikan lagi ke tempatnya.

Saya bertanya, “Ibu… kenapa dikembalikan?”

Beliau tersenyum, “Kebiasaan.”

“Kebiasaan apa?”

“Dulu Ibu selalu menyiapkan sepuluh piring. Dua untuk kami, delapan untuk kalian.”

Beliau terdiam cukup lama. Lalu berkata pelan,

“Kadang tangan ini masih lupa… bahwa anak-anak sudah punya meja makan mereka sendiri.”

Saya menunduk. Tenggorokan terasa sesak.

Saat itu saya baru mengerti. Kerinduan seorang Ibu tidak selalu hadir melalui air mata. Kadang ia bersembunyi di balik beberapa piring yang perlahan dikembalikan ke dalam lemari.

Malam itu kami makan bersama. Tidak banyak percakapan. Yang terdengar hanya denting sendok menyentuh piring. Saya memandang kursi-kursi di sekeliling meja.

Di sanalah dulu kakak tertawa paling keras. Di sana adik sering menyembunyikan lauk agar tidak diminta berbagi. Di ujung meja, Ayah selalu meminta tambah sambal.

Kini…

Tidak semua kursi terisi. Dan saat itulah saya menyadari, rumah ternyata juga bisa menua. Bukan karena temboknya retak. Bukan pula karena catnya memudar. Melainkan, karena tawa yang dahulu memenuhi setiap sudut ruangan, kini hanya sesekali pulang, lalu kembali pergi.

Maka, sebelum kembali ke Bogor, saya memeluk Ibu. Beliau pun, seperti biasa, membisikkan pesan keramat di telinga saya,

“Kapan pulang lagi?”

“Insyaallah secepatnya, Bu.”

Ibu mengangguk. “Kalau pulang, bilang dulu ya.”

Beliau tersenyum, “Biar Ibu masak banyak… seperti dulu.”

Saya tersenyum. Tetapi bibir saya berat untuk menjawab. Sebab saya tahu, yang sedang dipersiapkan Ibu bukan semata hidangan. Beliau sedang menyiapkan harapan agar meja makan itu kembali ramai, walau hanya semalam.

Kini saya mengerti. Yang paling saya rindukan dari masa kecil bukan lagi hanya ayam goreng buatan Ibu. Bukan hanya sayur asem yang aromanya memenuhi rumah. Bukan juga sambal terasi yang selalu membuat kami menambah nasi. Bukan pula teh hangat manis yang tak pernah absen di atas meja.

Yang paling saya rindukan adalah wajah-wajah yang duduk mengelilinginya. Tatapan Ayah. Senyum Ibu. Candaan kakak. Usilnya adik. Obrolan yang mengalir tanpa direncanakan. Tawa yang saling bersahutan.

Dulu semuanya terasa biasa. Baru setelah waktu mengambil satu demi satu kesempatan untuk berkumpul, saya memahami bahwa kebersamaan adalah salah satu rezeki terbesar yang sering luput kita syukuri, karena hadir terlalu sering.

Dan, kalau hari ini rumahmu masih ramai… Jangan terburu-buru menghabiskan makan. Duduklah sedikit lebih lama. Dengarkan cerita Ayah. Tanyakan kabar Ibu. Tertawalah bersama saudara-saudaramu.

Karena suatu hari nanti, tanpa disadari, akan ada satu kursi yang mulai kosong. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Hingga akhirnya yang tersisa bukan hanya meja makan. Melainkan kenangan yang diam-diam menetap di setiap piring, di setiap kursi, dan di setiap sudut rumah.

Sebab pada akhirnya, yang paling kita rindukan bukanlah makanan yang tersaji di atas meja. Melainkan adalah mereka yang pernah duduk bersama, yang perlahan mulai dipanggil oleh kehidupan untuk menempuh jalan masing-masing.

Dan ketika meja makan itu tak lagi penuh, barulah kita menyadari bahwa kebersamaan keluarga adalah anugerah istimewa dan rezeki yang luar biasa, yang dulu bisa hadir setiap hari.

Tetapi sering baru disyukuri ketika rumah perlahan menjadi sunyi, ketika satu demi satu kursi mulai kosong.

Dari situ, akhirnya kita memahami bahwa yang paling kita rindukan sesungguhnya bukan lagi hidangannya, melainkan mereka yang pernah duduk di sekelilingnya.

Maka, jika malam ini meja makan di rumahmu masih lengkap, jangan hanya habiskan makanannya. Nikmatilah kebersamaannya. Sebab waktu tidak pernah memberi tahu, kapan untuk terakhir kalinya semua orang akan duduk mengelilingi meja yang sama.

Mungkin karena itulah Allah menghadirkan meja makan di setiap rumah. Bukan hanya agar keluarga menikmati hidangan bersama, tetapi agar hati belajar bahwa cinta sering kali tumbuh melalui percakapan-percakapan sederhana, tawa yang saling bersahutan, dan doa yang diam-diam dipanjatkan sebelum suapan pertama.

Lalu waktu perlahan mengambil satu demi satu kursi di sekelilingnya. Anak-anak tumbuh dewasa. Mereka merantau, bekerja, membangun keluarga, dan memiliki meja makan mereka sendiri. Rumah tetap berdiri. Meja itu tetap ada. Piring-piring masih tersusun rapi. Namun suasananya tak lagi sama.

Dan ketika hari itu tiba, kita baru benar-benar memahami bahwa yang paling mengenyangkan bukanlah nasi, lauk, atau sayur yang tersaji. Melainkan kebersamaan yang pernah menghangatkan rumah, mengikat keluarga, dan tanpa kita sadari sedang menuliskan kenangan paling indah dalam hidup.

Sebab pada akhirnya, yang paling kita rindukan bukan meja makannya. Bukan pula hidangannya. Melainkan suara yang dulu memanggil dari dapur, tawa yang memenuhi ruangan, dan wajah-wajah yang pernah duduk bersama di sekelilingnya.🫶🏻🥰

Jakarta, 28 Juni 2026

Penulis adalah Dosen IPB University Bogor, aktif menulis dan literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *