PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Musik dan tarian dari berbagai penjuru Nusantara berpadu di Kota Padang. Padang Harmoni Festival, Sabtu (8/8/2026) malam, bukan sekadar pertunjukan seni dan budaya, melainkan sebuah pernyataan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika dirawat dalam suasana kebersamaan.
Suasana itu terasa dalam Padang Harmoni Festival, salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357. Festival yang digelar Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Padang tersebut mempertemukan berbagai komunitas etnis yang hidup dan berkembang di Kota Padang.
Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Padang, Drs Suardi Z Datuk Garang mengatakan, bahwa festival seni berbagai etnis di Kota Padang ini adalah yang pertama.
“Agak beda, ultah Kota Padang tahun ini. Walikota Padang Fadly Amran begitu tinggi kepedulianya terhadap etnis yang ada di Padang Kota Tercinta ini. Ini sungguh mengharukan dan disambut hangat karena menggali semua potensi yang ada di Kota Padang,” katanya.

Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Forkompinda hadir dan menyaksikan langsung penampilan kesenian dari berbagai etnis. Di hadapan panggung, ia menikmati keragaman ekspresi budaya yang ditampilkan komunitas Nias, Aceh, Batak, Palembang, India, Papua, Minang, hingga kesenian Kuda Kepang etnis Jawa.
Tak hanya menyaksikan pertunjukan, Fadly juga berinteraksi dengan komunitas yang hadir. Ia mencicipi sejumlah makanan khas daerah yang disajikan dalam festival, antara lain kuliner khas Aceh dan Palembang.
Pemandangan itu memperlihatkan wajah lain Kota Padang: sebuah kota yang tidak hanya memiliki identitas Minangkabau yang kuat, tetapi juga menjadi rumah bagi masyarakat dengan latar belakang etnis dan kebudayaan yang beragam.
Seni menjadi bahasa yang mempertemukan mereka. Kuliner menjadi jembatan yang membuat perjumpaan itu terasa semakin dekat.
Bukan Sekadar Festival Seni
Padang Harmoni Festival tidak lahir semata-mata sebagai hiburan dalam rangka ulang tahun kota. Festival ini merupakan bagian dari upaya membangun ruang perjumpaan antarkelompok masyarakat melalui kebudayaan.
Sebelumnya, dalam pertemuan dengan SETARA Institute pada Juli 2026, Fadly Amran menegaskan bahwa Padang merupakan kota yang majemuk. Ia menyebut keberagaman masyarakat Padang, termasuk komunitas Tionghoa, India, dan berbagai suku dari daerah lain di Indonesia, sebagai kekuatan yang harus terus dijaga melalui dialog, mediasi, dan kebersamaan.
Komitmen itu kemudian diterjemahkan ke dalam Padang Harmoni Festival atau Padang Multi-etnis Festival.
Menurut Ketua FPK Suardi Z Datuk Garang, festival tersebut menghadirkan sedikitnya 13 paguyuban etnis. Masing-masing komunitas diberi ruang untuk memperkenalkan seni, musik, tarian, dan identitas budayanya. Salah satu pertunjukan yang disiapkan adalah tari kolosal “Urang Padang Jalan Barampek”, yang menggabungkan berbagai unsur budaya, antara lain tari Minang, tari India, tari Nias, Chinese Dance, dan Tambur HTT.
Konsep tersebut menjadi menarik karena kebudayaan tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang saling berjarak. Sebaliknya, perbedaan justru dipertemukan dalam satu panggung.
Minang tidak harus kehilangan identitas ketika Nias tampil. Kesenian Aceh tidak harus bersaing dengan Palembang. Budaya India dan Papua pun mendapatkan ruang yang sama untuk memperkenalkan kekayaan tradisinya.
Semua hadir sebagai bagian dari satu identitas yang lebih besar: warga Kota Padang.
Dari Panggung Seni ke Meja Makan
Pesan harmoni juga terasa ketika pertunjukan seni berpindah ke ruang kuliner.
Berbagai makanan khas daerah disajikan dan dinikmati bersama. Fadly Amran ikut mencicipi makanan khas komunitas yang hadir, termasuk kuliner Aceh dan Palembang.
Di sinilah festival memperoleh makna yang lebih luas. Kebudayaan ternyata tidak hanya berbicara mengenai tarian, musik, pakaian tradisional atau bahasa. Makanan pun menjadi bagian penting dari identitas dan cara sebuah komunitas memperkenalkan dirinya kepada masyarakat lain.
Seseorang mungkin belum pernah berkunjung ke Aceh, Palembang, India, Papua, Batak, atau Nias. Namun melalui sepiring makanan, sebuah kebudayaan dapat diperkenalkan secara sederhana dan akrab.
Dari sana lahir rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu tumbuh penghargaan. Dan dari penghargaan, jarak antarkelompok dapat diperkecil.
Padang yang Beragam
Padang Harmoni Festival juga menemukan relevansinya dengan agenda Pemko Padang yang lebih luas dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Pada Juni 2026, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Padang bahkan menggelar rapat koordinasi persiapan pengukuran Indeks Harmoni Indonesia (IHaI). Pemerintah daerah menekankan pentingnya partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam menggambarkan kondisi harmoni di Kota Padang.
Dalam pengukuran tersebut, harmoni tidak semata-mata dilihat dari satu aspek. Indikator yang digunakan mencakup ekonomi, keberagaman, sosial, dan budaya. Kesbangpol Kota Padang menyebut bobot masing-masing indikator adalah 30 persen untuk ekonomi, 25 persen keberagaman, 23 persen sosial, dan 22 persen budaya.
Karena itu, Padang Harmoni Festival dapat dilihat sebagai bentuk nyata dari upaya membangun harmoni melalui kebudayaan.
Jika indeks berbicara melalui angka dan survei, festival berbicara melalui pengalaman langsung: bertemu, menonton, mendengar, mencicipi, berbincang, dan saling mengenal.
Merawat Rumah Bersama
Perayaan HJK Padang ke-357 tahun ini memang dirancang dengan banyak agenda yang menggabungkan kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif dan kuliner. Pemko Padang menyebut rangkaian kegiatan 6-10 Agustus 2026 sebagai momentum untuk memperkuat citra Padang sebagai desinasi wisata, budaya, dan kuliner.
Dalam rangkaian tersebut, Padang Harmoni Festival mendapat tempat khusus karena menyentuh aspek yang lebih mendasar: bagaimana sebuah kota yang dihuni masyarakat dengan latar belakang berbeda dapat terus hidup berdampingan.
Kota bukan hanya gedung, jalan, pasar dan pusat perdagangan. Kota juga dibentuk oleh manusia yang tinggal di dalamnya –dengan bahasa, agama, etnis, adat, seni, makanan dan sejarah yang berbeda-beda.
Karena itu, menjaga Harmoni bukan berarti menghapus perbedaan. Harmoni justru berarti memberi ruang kepada perbedaan untuk hadir, dihargai, dan hidup berdampingan.
Padang Harmoni Festival memperlihatkan hal itu dengan cara yang sederhana: semua boleh tampil, semua boleh memperkenalkan budayanya, semua boleh menikmati budaya yang lain.
Di atas panggung mereka berbeda. Tetapi setelah pertunjukan selesai, mereka kembali menjadi satu: urang Padang.
Dan mungkin, itulah pesan paling penting dan perayaan Kota Padang yang memasuki usia 357 tahun.
Kota yang besar bukan kota yang seragam. Kota yang besar adalah Kota yang mampu membuat keberagaman menjadi kekuatan. (Yurnaldi)
