Terlalu Lama Bungkam Hingga Hilang Diri Sendiri

Oleh : Azizah Adzra Fesa*)

MAU hilang diri sendiri yang ke berapa kali lagi, sampai sepenuhnya sadar bahwa kamu punya hak untuk didengar?

Seringkali memilih bungkam demi berlindung di ruang yang tidak aman secara terus-terusan bisa menyebabkan suara kamu tidak akan pernah terdengar. Disaat kita menyadari bahwa kita mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat, maka diperlukan metode yang tepat dalam penyampaiannya. Maka dari kesadaran itu, selanjutnya aksi dibutuhkan.

Terkadang kita hanya takut, ketika bersuara dianggap sebagai pemberontak. Namun, ketika memilih diam dianggap sebagai penganut teori kelompok bungkam.

Tapi perlu kita sadari bahwa, semua rasa takut itu terkadang hanya ilusi agar kita hilang jati diri. Nyatanya, yang kita butuhkan bukan diam seribu bahasa tapi menyuarakan kebenaran walau pun hanya dengan satu kata.

Mengapa kita tidak boleh terlalu lama bungkam? Karena itu bisa membuat orang-orang akan semena-mena terhadap kita, mereka mengira bahwa kita akan selalu setuju dengan opini atau perkataannya.

Disaat kita mau bersuara, alih-alih peduli, mereka justru menutup telinga beranggapan bahwa suara kita tak begitu nyaring untuk didengar, sebab terlalu sering menerima dan meng-iyakan apapun yang mereka katakan.

Akibatnya, terlalu lama bungkam akan menyebabkan kita perlahan-lahan mengalami krisis identitas. Awalnya hanya dengan kalimat “ya udahlah, biarin aja”, lalu menjadi kebiasaan. Sehingga kita menjadi lupa bagaimana cara menyampaikan isi kepala sendiri.

Bisa jadi kita hebat dalam membaca situasi, tapi tidak dengan membaca diri. Terlalu peduli dengan perasaan orang lain, namun mengabaikan perasaan sendiri. Kita peka terhadap reaksi orang, tapi buta pada isi hati.

Perlu kita sadari bahwa terus diam atau bungkam yang terlalu lama membuat kita nyaman di dalam ketidaknyamanan. Kita mengatakan “yang penting aman”. Padahal belum tentu itu benar, belum tentu itu adil dan kata aman belum bisa memastikan kita bisa berkembang.

Disisi lain, bersuara bukan berarti asal teriak. Bukan soal volume siapa yang paling besar atau pun soal siapa yang pantas didengar, tapi tentang sebuah metode mahal yang meliputi etika, cara dan memantaskan situasi. Cara memberi kritik tanpa merendahkan, dan ketidaksetujuan bisa diutarakan tanpa memusuhi. Hingga suara kita pun memiliki ruang untuk didengar.

Memilih diam demi berlindung dibalik kata aman, hanyalah cara meredam suara sendiri seakan terlihat tak punya prinsip pada diri. Ayolah! Suarakan apa yang sebenarnya ingin disuarakan, sampaikan apa yang dirasakan. Agar disekeliling mengetahui bahwa kita punya kendali pada diri yang tak selalu hanya menuruti.

Terlalu lama bungkam akan membuat kita terjebak dalam gejala stress kronis sehingga kita memilih untuk mengaktifkan mode bertahan hidup (survival). Kita tidak lagi mementingkan tentang “apa ini yang benar?” tapi “apa yang aman?”. Pemikiran sederhana inilah yg membuat kita lama-lama bukan hanya kehilangan suara, tapi juga kehilangan arah.

Di negara yang sibuk dengan begitu banyak berita-berita gempar mengenai pemerintah, apakah kita hanya akan berlindung dibalik kata “yaudahlah”? bukan karena kita setuju, tapi karena capek dan hanya ingin merasa aman? tanpa kita sadari disetiap kata “ya udahlah” itu perlahan-lahan keberanian dalam diri kita juga akan terkikis sedikit demi sedikit.

Dan perlu kita sadari bahwa negara kita tidak kekurangan orang pintar. Negara kekurangan orang yang berani. Berani beda, berani bertanya, berani menyuarakan kebenaran, berani menegakkan keadilan dan berani mengatakan “saya tidak setuju”.

Pada akhirnya hidup bukan hanya soal bertahan, tapi juga perihal tumbuh. Dan kita tidak akan tumbuh jika terus menerus mengecilkan diri sendiri demi terlihat aman. Aman itu nyaman, tapi tidak akan membuat kita berkembang.

Coba bayangkan beberapa tahun ke depan, kita duduk mengenang masa, mau dikenang sebagai generasi yang kritis dan berani, atau generasi yang sebenarnya tahu banyak hal yang salah tapi hanya memilih bungkam?

Jadi, jangan tunggu kehilangan diri sendiri dulu baru sadar pentingnya bersuara. Mulai sekarang latihlah keberanian itu. Tidak perlu terlalu ekstrim, cukup jujur dan berani jadi diri sendiri. Walau pun dunia tidak berubah saat kamu bersuara. Tapi setidaknya ada satu hal yang berubah yaitu: pola pikirmu. []

Pengurus UKM Bengkel Kata Riset dan Publikasi UIN Imam Bonjol Padang *)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *