Wajah-wajah ceria tampak memenuhi Lantai III Plaza Andalas Padang, Senin (16/3/2026). Di tengah deretan pakaian baru yang tertata rapi, ratusan anak berjalan sambil menggenggam kantong belanja. Mata mereka berbinar, memilih sendiri baju Lebaran yang akan dikenakan di Hari Raya Idulfitri nanti.
Sebanyak 500 anak yatim, dhuafa, penyandang disabilitas, serta santri penghafal Al-Qur’an hari itu mengikuti program BABAYO (Balanjo Baju Rayo) XI yang digelar Lazis Mitra Ummat Madani (MUM) Padang.
Bagi banyak anak dan keluarga mereka, BABAYO adalah momen yang selalu ditunggu setiap Ramadan. Sebuah kesempatan sederhana namun bermakna: memilih sendiri baju baru untuk Lebaran.
Di antara keramaian itu, beberapa anak tampak serius memperhatikan rak pakaian. Ada yang berkonsultasi dengan relawan, ada pula yang sesekali tersenyum sambil membayangkan bagaimana baju pilihan mereka akan dikenakan saat salat Id nanti.
Setiap anak mendapat kesempatan berbelanja dengan nilai Rp350 ribu. Mereka didampingi relawan yang memastikan proses belanja berjalan tertib dan menyenangkan.
Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, yang membuka kegiatan tersebut terlihat ikut larut dalam suasana. Wawako menyampaikan apresiasi kepada Lazis MUM Padang yang telah konsisten menyelenggarakan program ini hingga tahun ke-11.
“Program ini menghadirkan kegembiraan bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Mereka bisa merasakan kebahagiaan menyambut Lebaran seperti anak-anak lainnya,” ujar Maigus.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga sejalan dengan semangat Pemerintah Kota Padang dalam membina generasi muda, terutama dengan hadirnya para santri penghafal Al-Qur’an dalam program tersebut.
Kehangatan acara semakin terasa ketika Maigus Nasir mengajak anak-anak mengikuti kuis kecil. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan, berhak mendapatkan tambahan uang belanja atau “THR”.
Sorak-sorai anak-anak pun terdengar setiap kali nama peserta dipanggil. Momen sederhana itu membuat suasana semakin hidup.
Direktur Lazis MUM Padang, Elfiyon Julinit, mengatakan bahwa antusiasme masyarakat terhadap program BABAYO selalu tinggi. Bahkan, sejak awal Ramadan banyak orang tua yang telah mendaftarkan anak-anak mereka agar bisa ikut serta.
“Program ini bisa terlaksana berkat dukungan para donatur, baik di ranah maupun di rantau. BABAYO sudah menjadi momen berbagi yang dinantikan setiap Ramadan,” kata Elfiyon.
Untuk memastikan kegiatan berjalan lancar, Lazis MUM Padang menurunkan sekitar 70 relawan. Setiap sepuluh anak didampingi satu relawan yang membantu mereka memilih pakaian dan memastikan semua peserta kembali dengan aman kepada orang tua masing-masing.
Sementara para anak berbelanja, para orang tua mengikuti kegiatan taklim yang digelar panitia sambil menunggu putra-putri mereka menyelesaikan belanja.
Di sudut ruangan, Erni, seorang ibu asal Lubuk Buaya, tampak memeluk kedua anaknya yang baru selesai memilih baju. Matanya berkaca-kaca.
Sebagai orang tua tunggal dengan usaha kecil, Erni mengaku sangat bersyukur kedua anaknya tahun ini terpilih mengikuti BABAYO.
“Alhamdulillah, saya sangat terharu. Anak-anak bisa punya baju Lebaran baru. Ini sangat membantu kami,” ucapnya lirih.
Menjelang sore, satu per satu anak meninggalkan lokasi acara dengan kantong belanja di tangan. Senyum lebar tak lepas dari wajah mereka.
Bagi sebagian orang, baju Lebaran mungkin hal biasa. Namun bagi ratusan anak yang hadir di BABAYO XI hari itu, baju tersebut adalah simbol kebahagiaan, harapan, dan rasa hangat bahwa mereka tidak sendiri menyambut Hari Raya yang segera tiba. (hendri parjiga)




