Oleh : Nurul Jannah*)
“Bumi tidak tiba-tiba rusak. Ia lelah, karena terlalu lama dijaga oleh sedikit orang”
Pernah nggak sih kita berpikir, kenapa lingkungan makin sering “marah”?
Hujan sebentar, banjir datang. Musim panas terasa lebih menyengat. Sungai semakin keruh. Udara semakin sesak.
Dan sampah… seperti tidak pernah selesai lahir dari kebiasaan kita sendiri.
Kadang kita sibuk menyalahkan pemerintah. Kadang menyalahkan perusahaan. Kadang menyalahkan keadaan.
Padahal kalau mau jujur, lingkungan rusak bukan karena satu pihak. Ia rusak karena terlalu banyak orang merasa: “Itu bukan urusan saya.”
Padahal bumi ini rumah kita bersama. Tempat anak-anak kita tumbuh. Tempat kita mencari makan, bernapas dan bertahan hidup.
Oleh karena itu, saya selalu percaya, lingkungan tidak akan pernah benar-benar terjaga kalau masyarakatnya tidak ikut bergerak bersama.
Lingkungan Itu Soal Rasa Memiliki
Selama bertahun-tahun mendampingi kegiatan lingkungan, Corporate Social Responsibility (CSR), audit lingkungan, hingga program pemberdayaan masyarakat, saya belajar satu hal penting bahwa program yang paling bertahan bukan program yang paling mahal…melainkan program yang paling dicintai masyarakatnya.
Benar.
Kadang ada program besar. Dananya miliaran.
Spanduknya ramau. Dokumentasinya keren. Terlihat hebat semuanya.
Namun begitu proyek selesai, ikut selesai juga semuanya.
Kenapa?
Karena masyarakat hanya hadir sebagai peserta. Bukan sebagai pemilik.
Sebaliknya, saya pernah melihat komunitas kecil yang luar biasa.
Ada ibu-ibu yang kompak memilah sampah rumah tangga. Ada anak-anak muda yang rutin bersihin sungai setiap minggu. Ada warga yang menanam pohon bukan demi lomba, tetapi karena sadar kampungnya semakin panas.
Sederhana. Tapi konsisten.
Dan justru itu yang bertahan lama.
Pengelolaan Lingkungan Berbasis Komunitas Itu Apa?
Istilahnya memang terdengar panjang. Namun maknanya sebenarnya sederhana banget.
Artinya: masyarakat tidak hanya dijadikan “penonton” atau “objek program”.
Mereka ikut: berpikir, menentukan, bergerak dan menjaga lingkungannya sendiri
Karena siapa yang paling memahami kondisi lingkungan sebuah wilayah?
Tentu saja warga yang hidup di sana.
Mereka tahu kapan sungai mulai bau.
Mereka tahu kapan banjir mulai sering datang.
Mereka tahu kapan udara mulai tidak sehat.
Dan merekalah yang paling dulu merasakan dampaknya.
Oleh karena itu, masyarakat harus menjadi bagian utama dari solusi.
Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Hal Kecil
Kadang kita berpikir menjaga lingkungan itu harus dimulai dari langkah besar.
Harus punya alat canggih.
Harus punya dana besar.
Harus menunggu program pemerintah.
Padahal tidak selalu begitu.
Lingkungan sering berubah justru karena kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dengan kesadaran.
Misal seperti membawa tumbler sendiri, memilah sampah rumah tangga menanam dan memelihara pohon, membuat biopori, mengurangi plastik sekali pakai atau sekadar tidak membuang sampah sembarangan.
Kelihatannya kecil, ya?
Tapi kalau satu kampung melakukan bersama-sama, dampaknya luar biasa. Dampaknya bisa jauh lebih daripada satu seminar yang hanya berhenti di spanduk dan foto bersama.
Masalah Lingkungan Hari Ini Sudah Serius
Hari ini kita tidak lagi berbicara soal lingkungan sebagai isu “tambahan”.
Ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Perubahan iklim nyata.
Banjir nyata.
Krisis air bersih nyata.
Sampah plastik nyata.
Dan kalau mau jujur…bumi sudah cukup lelah menghadapi manusia yang terus mengambil, lupa menjaga.
Karena itu, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan aturan di atas kertas.
Kita butuh masyarakat yang sadar, peduli, dan mau bergerak bersama.
Sebab, sehebat apa pun kebijakan dibuat, jika perilaku manusianya tidak berubah, lingkungan akan tetap terluka.
Edukasi Penting, Keteladanan Lebih Penting
Saya sering melihat seminar lingkungan yang ramai. Spanduknya bagus. Slogannya menarik.
Namun kenyataannya, orang lebih mudah tergerak oleh contoh nyata daripada pidato panjang.
Ketika ada satu warga mulai menanam pohon, yang lain ikut. Ketika ada satu RT berhasil mengurangi sampah, kampung lain mulai belajar.
Karena perubahan sosial selalu lahir dari keteladanan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Perusahaan dan Masyarakat Harus Jalan Bersama
Dalam banyak program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Program Kinerja Peringkat Lingkungan (PROPER), saya selalu percaya, bahwa masyarakat bukan penerima bantuan. Mereka adalah mitra perubahan.
Program lingkungan yang baik bukan hanya membangun fisik. Tetapi juga membangun kesadaran, rasa memiliki dan kemandirian masyarakat.
Misalnya dengan mengembangkan bank sampah berbasis warga, konservasi mata air, urban farming, kampung hijau, pengolahan limbah rumah tangga, edukasi lingkungan untuk anak-anak.
Apabila masyarakat merasa program itu milik mereka, maka keberlanjutannya akan jauh lebih kuat.
Lingkungan Adalah Cermin Perilaku Kita
Kita ingin lingkungan bersih, namun masih membuang sampah sembarangan.
Kita ingin sungai jernih, namun limbah rumah tangga masih mengalir ke selokan.
Kita ingin udara sehat, tapi pohon terus ditebang tanpa diganti.
Padahal menjaga lingkungan bukan hanya soal teknologi. Ini soal kesadaran. Soal akhlak. Dan soal rasa tanggung jawab terhadap kehidupan.
Jangan Menunggu Orang Lain
Maka hari ini, pagi ini saya ingin mengajak kita semua menyadari satu hal bahwa bumi sesungguhnya tidak membutuhkan manusia untuk bertahan. Namun, kitalah yang justru membutuhkan bumi untuk hidup.
Karena itu, jangan menunggu orang lain bergerak lebih dulu.
Mulailah dari rumah kita. Dari keluarga kita. Dari komunitas kecil di sekitar kita.
Karena perubahan besar, selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama.
Dan siapa tahu, langkah kecil yang kita lakukan hari ini, akan menjadi alasan anak cucu kita masih bisa menikmati bumi yang hijau, menghirup udara yang bersih, dan hidup di dunia yang masih sangat layak untuk ditinggali.❤️
Jakarta, 8 Mei 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




