Di muara sungai yang lebat dengan pohon bakau, hiduplah tiga makhluk yang disegani. Mereka tidak pernah bersahabat, tapi juga tidak pernah berperang.

Mereka adalah Pak Buaya, penguasa air payau yang licik; Mba Hiu, perenang bebas dari lautan dalam; dan Om Paus, raksasa lembut yang sesekali menyusup ke teluk

Perselisihan di Perbatasan

Suatu sore, saat matahari seperti kuning telur pecah di ujung langit, terjadi keributan. Pak Buaya sedang berjemur di lumpur dangkal sambil menjaga sekawanan ikan bandeng. Tiba-tiba, Mba Hiu melompat dari air asin.

“He, Buaya Gendut! Itu ikan-ikanku. Mereka sedang migrasi!” geram Mba Hiu, memperlihatkan deretan giginya yang runcing seperti belati.

Pak Buaya membuka satu matanya malas. “Hiu, kau di laut. Aku di muara. Aturan sudah jelas. Ini wilayahku.”

Sebelum Hiu menjawab, air bergolak. Sebuah gelembung raksasa muncul, lalu Om Paus mengangkat kepalanya yang sebesar perahu. Dia menghembuskan air mancur setinggi pohon kelapa.

“Kalian bertengkar soal ikan? Astaga. Lihat dirimu, Buaya, kau hanya sebesar jari kelingkingku. Dan kau, Hiu, kau cepat, tapi kau tidak bisa berhenti mendadak.”

**Rencana Licik Buaya**

Pak Buaya tersinggung. Ia memang paling kecil, tapi otaknya paling bengkok. “Kalau kau hebat, Paus, buktikan kau bisa menangkap ikan sekecil itu dengan mulutmu yang segede gua.”

Paus tertawa pelan, suaranya menggema seperti bass drum. “Aku tidak makan ikan kecil, Buaya. Aku makan krill. Tapi kau benar, aku lambat.”

Mba Hiu mengejek, “Dasar lemot!”

Pak Buaya pun mengusulkan sebuah tantangan. “Besok pagi, kita berlomba menangkap ikan. Siapa paling banyak, dia raja perairan ini. Tapi… tidak boleh saling memangsa.”

Permainan Curang & Kejutan

Esoknya, saat air mulai surut, perlombaan dimulai. Mba Hiu bergegas ke laut dalam, menangkap ikan dengan kecepatan kilat. Om Paus membuka mulutnya lebar-lebar, menyedot ribuan plankton dan beberapa ikan kecil tanpa sengaja.

Tapi Pak Buaya diam di tempat. Ia membuka mulutnya dan tidak bergerak. Di lidahnya yang merah muda, ia menjulurkan “cacing palsu” dari daging. Ikan-ikan bodoh mendekat. Satu, dua, tiga… mulut buaya terkam.

“Lihat! Aku sudah dapat lima!” teriak Buaya.

Namun tiba-tiba, air pasang naik dengan cepat. Sebuah gelombang besar membawa limbah pabrik dari hulu. Ikan-ikan menghilang. Air menjadi keruh dan beracun. Mba Hiu terbatuk-batuk. Om Paus kesulitan bernapas.

“Berhenti!” teriak Paus. “Lomba ini bodoh. Air kita sedang mati!”

**** Persahabatan yang Tak Terduga ****

Mba Hiu sadar ia tidak bisa kembali ke laut karena jalannya terhalang jaring. Om Paus tidak bisa menyelam karena perutnya sakit. Pak Buaya, yang biasanya egois, melihat kedua musuhnya sekarat.

“Ikuti aku!”* perintah Buaya.

Dengan susah payah, Buaya memimpin mereka menyusuri sebuah saluran kecil yang tersembunyi di balik akar bakau. Itu adalah jalur rahasia menuju laguna yang masih jernih. Airnya dingin dan bersih.

Setelah tiga jam berenang, mereka tiba di laguna tersembunyi. Mba Hiu meregangkan insangnya. Om Paus menghembuskan napas lega. Pak Buaya naik ke batu.

“Kau selamatkan kami, Buaya,” kata Paus.

“Jangan terbiasa,”* gerutu Buaya, tapi matanya berbinar.

Sejak hari itu, mereka tidak menjadi raja perairan sendirian. Mereka menjadi penjaga bersama. Buaya menjaga muara dari sampah. Hiu menjaga laut dari penangkapan ilegal. Paus menjaga keseimbangan suhu air.

“ Kekuatan terbesar bukanlah gigi teruncing atau tubuh terbesar, melainkan hati yang tahu kapan harus bekerja sama. Dan kadang, musuh terburukmu bisa menjadi penyelamat terbaikmu.”

Guru PAI SDN 06 Patamuan, Sekretaris KKG PAI Padang Pariaman, Alumni Pascasarjana UM Sumbar*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *