PADANG, FOKUSSUMBAR.COM — Auditorium Universitas Ekasakti Padang kembali dipenuhi antusias peserta pada penyelenggaraan hari kedua Seminar Nasional Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM), Selasa (16/6/2026).
Sesi I menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M.Pd., Guru Besar Manajemen SDM sekaligus Rektor Universitas Ekasakti, serta Dr. Sumartono, S.Sos., M.Si., dosen, peneliti, dan penulis buku komunikasi dari Universitas Ekasakti.
Sesi ini dipandu oleh moderator Yumi Ariyati yang merupakan salah seorang Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti.
Rektor Ekasakti: Pemimpin Digital Harus Kawal Teknologi dengan Hati Nurani
Tampil sebagai narasumber pertama, Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M.Pd. memaparkan materi bertajuk “Kepemimpinan Digital Berbasis Moral dan Etika: Membangun Pemimpin Berintegritas di Era Transformasi Digital.”
Guru besar manajemen SDM itu menegaskan bahwa memimpin di era digital bukan sekadar soal penguasaan teknologi, melainkan tentang bagaimana mengawal perubahan dengan integritas, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral.
“Pemimpin digital bukan pengganti manusia dengan mesin. Ia adalah jembatan yang memastikan transformasi digital memberikan nilai tambah bagi individu, organisasi, dan masyarakat luas,” ujar Prof. Sufyarma di hadapan ratusan peserta seminar.
Ia menjabarkan enam karakteristik kunci yang wajib dimiliki pemimpin digital masa kini, meliputi digital ability, data literacy, empati dan humanisme, visi strategis jangka panjang, ethical stewardship, serta semangat belajar berkelanjutan (continuous learner).
Menurutnya, pengetahuan teknologi memiliki masa kedaluwarsa, sehingga pemimpin yang berhenti belajar akan tertinggal.
Dalam paparannya, Prof. Sufyarma juga memperkenalkan kerangka eksekusi strategis yang ia sebut L.E.A.D. — Learn Continuously, Empower Ethically, Act Transparently, dan Drive Inclusion — sebagai panduan konkret bagi pemimpin masa depan dalam mengelola organisasi secara bertanggung jawab.
Ia juga menyinggung pentingnya etika kecerdasan buatan (AI) yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, menekankan bahwa algoritma harus bersifat transparan, akuntabel, dan tidak boleh digunakan untuk memperlebar kesenjangan atau memecah belah masyarakat.
“Transformasi digital yang bermakna dimulai saat seorang pemimpin berani mengubah pertanyaannya dari ‘Apakah ini bisa dilakukan secara teknologi?’ menjadi ‘Apakah ini benar secara moral?’” tegasnya, disambut tepuk tangan peserta.
Prof. Sufyarma menutup sesinya dengan pesan yang menggugah: “Teknologi tanpa etika adalah kekuatan tanpa arah. Jadilah pemimpin yang menggunakan teknologi untuk memanusiakan manusia.”
Dr. Sumartono: Public Speaking Bukan Bakat, Melainkan Keterampilan yang Bisa Dilatih
Narasumber kedua, Dr. Sumartono, S.Sos., M.Si., membawakan materi “The Power of Public Speaking and Strategic Communication.”
Dosen yang juga aktif sebagai peneliti dan penulis buku komunikasi ini langsung menarik perhatian peserta dengan membongkar mitos-mitos yang selama ini beredar seputar kemampuan berbicara di depan publik.
“Banyak yang mengira public speaking hanya untuk orang berbakat. Faktanya, kemampuan ini bisa dipelajari dan dilatih oleh siapa saja,” ujar Dr. Sumartono.
Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara public speaking — seni menyampaikan gagasan secara jelas dan meyakinkan — dengan komunikasi strategis, yakni kemampuan merancang pesan dan pendekatan yang tepat untuk mencapai tujuan.
Keduanya, menurut Dr. Sumartono, adalah duo power yang saling menguatkan dalam membentuk pemimpin yang berpengaruh.
Ketakutan berbicara di depan umum (glossophobia), lanjutnya, muncul bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena takut dinilai salah, kurang persiapan, atau pengalaman buruk di masa lalu.
Ia mendorong peserta untuk memahami akar ketakutan tersebut sebagai langkah pertama menuju penguasaan diri.
Dr. Sumartono juga memaparkan kisah-kisah sukses tokoh dunia yang lahir dari kemampuan komunikasi, mulai dari pemimpin politik, pengusaha, hingga aktivis sosial.
“Setiap kata memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Berbicara hari ini membuka peluang esok hari,” ujarnya penuh semangat.
Lima kunci mengatasi ketakutan berbicara yang ia sampaikan mencakup: mengenali diri, belajar dan berlatih, persiapan matang, praktik langsung, serta kepercayaan dan tumbuh.
Ia menutup sesi dengan pantun bijak yang menganalogikan public speaking dan komunikasi strategis sebagai “sumur dan ladang” — keduanya harus diasah dan dirawat agar terus menghasilkan.
Antusias peserta dan jalannya diskusi
Sesi tanya jawab yang dipandu moderator Yumi Ariyati berlangsung interaktif.
Para peserta, yang mayoritas merupakan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia, aktif mengajukan pertanyaan seputar tantangan kepemimpinan di era digital dan cara membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.
Yumi Ariyati selaku moderator berhasil menjaga dinamika sesi dengan baik, mengelola waktu dan alur diskusi secara profesional sehingga kedua narasumber mendapat kesempatan merespons secara optimal.
Seminar Nasional LKMM hari kedua ini menjadi bukti nyata komitmen Universitas Ekasakti dalam membentuk generasi pemimpin muda yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara moral, etis, dan komunikatif — bekal yang sangat relevan dalam menghadapi dinamika dunia kerja dan kepemimpinan di era transformasi digital. (yumi)
