Oleh : Nurul Jannah*)
Pagi itu aku sedang menyusun komposisi tim untuk Audit Lingkungan Hidup Wajib Ketidaktaatan dan Kebencanaan di sebuah perusahaan semen di Padang.
Hampir semua bidang keahlian telah terisi. Tinggal satu yang belum kutemukan. Tenaga Ahli Hidrometeorologi.
Aku membuka kembali daftar nama yang pernah kukenal. Satu demi satu kubaca. Lalu pandanganku berhenti pada satu nama.
Elza Surmaini.
Seketika ingatanku melompat jauh. Bukan ke ruang rapat. Bukan ke dunia audit. Melainkan ke sebuah rumah kos sederhana di Bagunde 17, Gunung Gede, Bogor.
Tahun 1987
Tiga puluh sembilan tahun yang lalu. Tanpa sadar aku tersenyum.
Masih ingatkah dia kepadaku?” batinku.
Jari-jariku perlahan menekan nomor telepon yang sudah lama tersimpan.
Beberapa detik kemudian terdengar suara di seberang sana.
“Assalamu’alaikum…”
Suara itu…Masih sama. Hangat.
Aku menjawab salamnya.
“Elza… ini Nurul.”
Beberapa detik hening.
Kemudian terdengar tawa yang langsung membawaku kembali ke masa muda.
“Ya Allah… Nurul? Benarkah ini kamu?”
Kami sama-sama tertawa. Tiga puluh sembilan tahun seolah runtuh dalam hitungan detik.
Aku menjelaskan maksud meneleponnya. Tentang audit lingkungan. Tentang kebutuhan tenaga ahli hidrometeorologi. Tentang perusahaan semen di Padang yang akan diaudit.
Elza mendengarkan hingga selesai.
“Nurul… Insya Allah, aku bersedia. Tapi aku tidak punya pengalaman melakukan audit”*
Hatiku langsung dipenuhi rasa syukur. Bukan hanya karena kebutuhan tim akhirnya terpenuhi. Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.
Elza memang berasal dari Padang. Pengalamannya sangat sesuai. Keahliannya tepat. Dan kehadirannya membuat tim menjadi jauh lebih kuat.
Dalam hati aku berbisik,
“Ya Allah… ternyata rezeki itu bukan hanya berupa materi. Rezeki juga bisa berupa pertemuan kembali dengan sahabat lama.”
Saat itu aku benar-benar merasakan bahwa Allah tidak pernah mempertemukan manusia tanpa alasan.
“Ada sahabat yang datang ketika hidup sedang ringan. Ada pula sahabat yang kembali hadir justru ketika Allah sedang menyiapkan amanah besar.”
Hari Audit sudah ditentukan. Perjalanan menuju Padang pagi itu, bagiku terasa bukan hanya perjalanan audit. Melainkan perjalanan pulang menuju kenangan.
Selama perjalanan kami banyak bercerita. Tentang anak-anak. Tentang pekerjaan. Tentang orang tua. Tentang usia yang diam-diam terus bertambah. Lalu, pembicaraan pun menuju masa-masa ketika kami sama-sama merantau dan tinggal di Bagunde 17.
Tahun 1987. Bagunde 17, Gunung Gede, Bogor.
Rumah kos sederhana yang ternyata menyimpan begitu banyak cerita. Di sana bukan hanya ada aku dan Elza. Ada Budiwati, Ririn,Yanti, Taink, Monik, Ning, Yuni,Trissy, Nanda dan Ana Dua belas perempuan muda dari berbagai penjuru Nusantara. Padang. Medan. Mandailing. Demak. Pandeglang. Solo. Sampang, Madura.
Kami datang membawa logat yang berbeda. Membawa kebiasaan yang berbeda. Membawa cerita dari kampung halaman yang berbeda. Namun Allah mempertemukan kami di tempat yang sama.
Saat itu kami tidak pernah membayangkan. Bahwa persahabatan itu akan bertahan hingga hampir empat puluh tahun.
Bagunde 17 bukan hanya rumah kos.
Di sanalah kami belajar menjadi dewasa. Belajar hidup jauh dari orang tua. Belajar mengatur uang kiriman agar cukup sampai akhir bulan. Belajar memasak dengan bahan yang sederhana. Belajar saling menjaga ketika ada yang sakit.
Masih kuingat ketika salah satu dari kami demam. Tanpa diminta, yang lain bergantian menemani. Ada yang membuat bubur. Ada yang membeli obat. Ada yang mengompres dahi. Ada yang tetap terjaga hingga larut malam. Tidak ada yang merasa sedang berkorban.
Semuanya mengalir begitu saja. Begitulah keluarga bekerja. Diam-diam. Namun penuh kasih.
Lalu waktu menjalankan tugasnya. Kami lulus. Menempuh jalan hidup masing-masing.
Ada yang menjadi dosen. Ada yang menjadi peneliti. Ada yang berkarya di berbagai bidang. Ada yang membangun keluarga.
Jarak perlahan memisahkan. Kesibukan mengambil ruang. Pertemuan berubah menjadi doa dari kejauhan.
Namun hari itu aku kembali memahami, persahabatan yang dibangun dengan ketulusan tidak pernah mengenal kata usang. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk dipertemukan kembali.
Di sela-sela audit, Elza tertawa sambil berceloteh,
“Nurul… ingat tidak? Dulu kita sering menghitung uang receh sebelum ke warung.”
Aku langsung tertawa.
“Iya… bahkan mi instan terasa seperti makanan paling mewah.”
“Lucu ya… walau dulu kita tidak punya banyak uang. Tapi rasanya bahagia sekali.”*
Kami sama-sama terdiam. Kalimat itu sederhana. Namun mengandung begitu banyak kenangan.
Dulu tidak ada telepon pintar. Tidak ada media sosial. Tidak ada foto yang diambil setiap saat. Namun hubungan terasa begitu dekat.
Kami mengenal tawa satu sama lain. Kami mengenal air mata satu sama lain. Kami saling menguatkan tanpa diminta.
Hari itu aku menyadari, yang membuat sebuah masa terasa indah bukan karena hidup selalu mudah. Melainkan karena ada sahabat yang ikut berjalan ketika jalan terasa berat.
Sore terakhir di Padang, kami berdiri memandang langit yang mulai memerah. Audit lapangan telah usai. Laporan akan segera disusun.
Namun ada hadiah lain yang jauh lebih berharga. Allah mempertemukan kembali dua sahabat lama melalui sebuah amanah.
“Siapa sangka… tiga puluh sembilan tahun setelah kita tinggal di Bagunde, Allah mempertemukan kita lagi dalam satu tim audit ya El. Thanks sudah bergabung ke dalam tim Audit kali ini.”
Elza tersenyum.
Ternyata Allah menyimpan pertemuan ini sampai waktu yang paling tepat.”
Barangkali memang begitulah cara Allah bekerja. Ada pertemuan yang ditunda bukan karena dilupakan. Melainkan karena sedang dipersiapkan agar hadir pada saat yang paling indah.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba teringat sebuah lagu lama. What Friends Are For..
Hari itu aku benar-benar memahami bahwa sahabat bukan hanya hadir untuk mengenang masa lalu. Sahabat adalah anugerah yang Allah kirimkan kembali ketika kita memerlukan tangan yang tepat, hati yang tulus, dan kepercayaan yang telah terbangun sejak lama.
Terima kasih, ya Allah. Karena tiga puluh sembilan tahun yang lalu Engkau mempertemukan kami di Bagunde 17, Gunung Gede, Bogor.
Dan hari ini Engkau kembali mempertemukan kami dalam sebuah amanah yang mulia.
Kini aku mengerti, Persahabatan yang dibangun dengan keikhlasan tidak pernah berakhir. Ia hanya menunggu waktu terbaik untuk kembali dipertemukan oleh Allah.
Barangkali itulah makna sesungguhnya dari What Friends Are For. Sahabat bukan hanya menemani perjalanan hidup. Sahabat adalah cara Allah menunjukkan bahwa pertolongan-Nya terkadang datang melalui wajah-wajah lama yang tak pernah benar-benar hilang dari hati.
Dan ketika kelak usia memasuki senja, semoga yang tetap hidup bukan hanya kenangan tentang masa muda, melainkan doa-doa yang terus kami kirimkan satu sama lain… hingga Allah kembali mempertemukan kami di tempat terbaik yang dijanjikan-Nya. Aamiin.
Padang, 8 Juli 2026






