Amanah Itu Bernama Pekerjaan

Oleh: Nurul Jannah*)

Catatan Syukurku Hari Ini

Pagi itu aku duduk sejenak di depan meja kerja.

Laptop belum aku buka. Beberapa map laporan masih tersusun rapi di sisi meja. Catatan jadwal mengajar, agenda rapat, dan rencana perjalanan dinas seolah menunggu untuk aku cermati satu per satu.

Dari balik jendela, cahaya matahari pagi perlahan memenuhi ruangan.

Aku menarik napas panjang.

Hari itu belum benar-benar dimulai, tetapi pikiranku telah melangkah jauh. Ada laporan yang menunggu dituntaskan. Ada materi kuliah yang harus dipersiapkan. Ada pekerjaan lapangan yang menuntut ketelitian. Ada perjalanan yang mengharuskanku berangkat sebelum matahari terbit dan baru kembali ketika langit telah gelap.

Di tengah semua itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba mengetuk hati.

“Kapan terakhir kali aku benar-benar bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bekerja?”

Aku terdiam.

Selama ini, sepertinya, aku lebih sering menghitung banyaknya tugas daripada menghitung banyaknya nikmat yang Allah titipkan melalui pekerjaan itu.

Tumpukan laporan ternyata bukan hanya pekerjaan yang harus dituntaskan. Karena, di balik setiap halaman, tersimpan kepercayaan yang Allah titipkan kepadaku.

Jadwal mengajar bukan hanya rangkaian kewajiban. Karena, dihadapan aku hadir mahasiswa-mahasiswa yang datang membawa harapan, mimpi, dan masa depan.

Perjalanan dinas bukan hanya tentang jauhnya jarak yang harus ditempuh. Karena, di sanalah aku belajar membaca kehidupan, mendengar banyak kisah, memahami beragam persoalan, sekaligus menyaksikan betapa luas dan indahnya bumi ciptaan Allah.

Pagi itu aku menyadari, kelelahan sering kali bukan lahir karena banyaknya pekerjaan, melainkan karena cara pandang aku terhadap pekerjaan itu sendiri.

Ketika pekerjaan aku lihat sebagai beban, setiap langkah akan terasa berat. Namun ketika aku anggap sebagai amanah, setiap lelah berubah menjadi ibadah.

BACA JUGA :  Gaji Kepala Daerah Setara UMR, Korupsi Tak Akan Pernah Putus (Usulan Insentif Berbasis PAD Memantik Perdebatan Lama tentang Mahalnya Politik Lokal)

Maka, yang sesungguhnya harus berubah bukan pekerjaannya, melainkan cara pandangku.

**

Alhamdulillah…

Hari ini aku masih memiliki pekerjaan.

Masih ada ilmu yang dapat aku bagikan. Masih ada pengalaman yang dapat aku diskusikan. Masih ada tenaga yang dapat aku gunakan untuk memberi manfaat. Dan masih ada rezeki halal yang Allah alirkan melalui jalan yang selama ini aku tekuni.

Pagi itu aku tidak lagi melihat meja kerja sebagai tempat bertumpuknya tugas. Melainkan tempat Allah mempercayai aku untuk terus mengabdi.

Ternyata, memiliki pekerjaan adalah nikmat yang luar biasa.

Tidak semua orang diberi kesempatan bangun pagi dengan tujuan yang jelas.

Tidak semua orang memiliki ruang untuk mengabdikan ilmu, tenaga, dan pengalaman.

Tidak semua orang merasakan kebahagiaan ketika jerih payahnya menjadi manfaat bagi orang lain.

Hari ini aku bersyukur karena Allah masih mempercayakan amanah itu kepadaku.

Pekerjaan ini tidak hanya menghidupi keluargaku. Ia juga menghidupkan jiwaku.

Melalui pekerjaan inilah Allah mempertemukan aku dengan begitu banyak orang.

Mahasiswa yang datang membawa mimpi.

Rekan kerja yang mengajarkan arti kebersamaan.

Masyarakat yang menunjukkan keteguhan hidup di tengah keterbatasan.

Dan para profesional yang sama-sama berikhtiar menjaga bumi agar tetap layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Aku menyadari, setiap perjumpaan ternyata adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai.

Semakin banyak membaca, semakin aku sadari betapa sedikit ilmu yang aku miliki.

Semakin sering turun ke lapangan, semakin memahami bahwa alam selalu mengajarkan kerendahan hati.

Semakin banyak berdialog dengan orang lain, semakin aku sadari bahwa setiap wajah menyimpan perjuangan yang tidak selalu diceritakan.

Kadang aku diminta mengajar. Kadang menjadi auditor. Kadang menulis artikel hingga larut malam. Kadang berdiri di depan peserta pelatihan untuk berbagi pengalaman.

BACA JUGA :  LANJUT Kota Pariaman Resmi Diluncurkan

Sepintas semua itu tampak seperti rutinitas.

Padahal, di balik setiap amanah itu Allah sedang membuka kesempatan untuk menanam amal.

Barangkali ada seorang mahasiswa yang kembali bersemangat belajar.

Barangkali ada sebuah perusahaan yang menjadi lebih peduli terhadap lingkungan.

Barangkali ada seorang pembaca yang menemukan harapan melalui tulisan-tulisanku.

Atau mungkin ada satu hati yang tergerak untuk berbuat baik.

Bukankah satu kebaikan yang tumbuh karena perantara kita pun telah menjadi karunia yang tak ternilai?

Pekerjaan juga mengajarkan aku tentang kesabaran.

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan.

Tidak semua usaha segera membuahkan hasil.

Tidak semua kerja keras memperoleh tepuk tangan.

Namun justru di situlah Allah sedang mendidik aku agar bekerja bukan demi tepuk tangan manusia, melainkan demi menjaga amanah-Nya.

Aku teringat begitu banyak perjalanan yang telah aku tempuh. Bandara. Stasiun.
Terminal. Pelabuhan.

Jalan panjang menuju lokasi audit.

Ruang kelas. Ruang rapat.
Desa-desa yang jauh dari keramaian.

Pabrik. Perkebunan. Tambang.

Dulu aku mengira semua itu hanyalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Kini aku memahami, Allah ternyata sedang mengajak aku mengumpulkan pelajaran demi pelajaran. Tidak ada satu pun langkah yang sia-sia.

Yang paling aku syukuri, pekerjaan ini membuat hidup aku terasa bermakna. Karena Allah masih berkenan menjadikan aku sebagai jalan manfaat bagi sesama.

Betapa banyak orang bekerja hanya untuk mengisi rekening. Aku berdoa, jangan sampai aku menjadi salah satunya.

Aku ingin bekerja untuk mengisi kehidupan dengan makna. Aku ingin setiap kelas yang aku ajar menjadi amal jariyah. Setiap laporan yang aku susun menjadi bentuk tanggung jawab. Setiap tulisan yang aku torehkan menjadi cahaya bagi pembacanya. Setiap perjalanan menjadi jalan mengenal kebesaran Allah.

BACA JUGA :  Pemko Payakumbuh Terus Perkuat Kepatuhan Terhadap Perizinan Pemanfaatan Ruang

Dan setiap rezeki yang kuterima menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Malam nanti mungkin aku kembali merasa lelah. Besok pagi mungkin masih ada pekerjaan yang menunggu. Lusa mungkin masih ada target yang harus diselesaikan.

Namun mulai hari ini aku ingin berhenti mengeluh. Sebab aku sadar, kesibukan yang menghadirkan manfaat adalah nikmat yang tidak dimiliki semua orang.

Alhamdulillah… Terima kasih, ya Allah.

Engkau tidak hanya memberi aku pekerjaan. Engkau memberi aku jalan untuk belajar, bertumbuh, berbagi, mengabdi, menjaga ciptaan-Mu, menghidupi keluarga, dan menanam amal yang semoga tetap berbuah, bahkan ketika langkah aku kelak telah berhenti.

Insya Allah, aku akan selalu mengingat bahwa pekerjaan bukanlah beban yang harus dipikul dengan keluhan.

Ia adalah amanah yang harus dijaga dengan syukur.

Sebab kelak, ketika aku kembali kepada-Mu, mungkin yang Engkau tanyakan bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah kuraih, melainkan seberapa besar manfaat yang telah aku tinggalkan bagi sesama.

Maka selama napas masih Engkau titipkan, izinkan aku bekerja dengan hati yang bersyukur, tangan yang jujur, pikiran yang terus belajar, dan niat yang selalu lurus karena-Mu.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.❤️

Jakarta, 21 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *