Merah Putih, Aku Masih Berutang Padamu

Oleh: Nurul Jannah*)

Merah Putihku,
berkibarlah!

Jangan hanya di tiang-tiang bambu.
Berkibarlah juga di dada kami.

Merahlah dalam keberanian
membela yang benar.

Putihlah dalam ketulusan
menjaga amanah.

Berkibarlah
di tangan petani yang menanam pangan.

Di ruang kelas,
tempat guru menyalakan harapan.

Di laboratorium,
tempat ilmu ditumbuhkan untuk masa depan.

Di rumah sederhana,
tempat seorang ibu membesarkan anak-anaknya
dengan doa dan air mata.

Berkibarlah
di hati pejabat yang memilih jujur
ketika kesempatan untuk berkhianat terbuka lebar.

Berkibarlah
di tangan generasi muda
yang memilih membangun negeri
daripada hanya meratapi kekurangannya.

Dan kepada para pahlawan,
yang namanya tercatat dalam sejarah,
maupun yang gugur tanpa sempat kami kenal,
beristirahatlah dengan tenang.

Negeri yang dahulu diperjuangkan dengan darah dan nyawa,
kini berada di tangan kami.

BACA JUGA :  Wali Kota Sawahlunto Lepas Kontingen Pramuka Menuju Buperta Cibubur Jakarta

Maafkan kami,
jika belum sempurna menjaganya.

Kami masih bertengkar.
Masih terluka oleh perbedaan.

Masih sering lupa
bahwa dahulu para pahlawan tidak pernah bertanya:
siapa Jawa,
siapa Sunda,
siapa Batak,
siapa Bugis,
siapa Minang,
siapa Dayak,
siapa Bali,
siapa Maluku,
siapa Papua.

Mereka hanya mengenal satu nama:

INDONESIA

Maafkan kami
jika hari ini kami terkadang lebih sibuk
memperbesar perbedaan
daripada merawat persaudaraan.

Namun, percayalah,
masih ada jutaan hati
yang mencintai negeri ini tanpa pamrih.

Masih ada tangan-tangan
yang bekerja dalam diam.

Masih ada anak-anak
yang menatap Merah Putih dengan mata berbinar,
menyimpan Indonesia di dalam dada,
lalu membawanya terbang dalam cita-cita.

BACA JUGA :  Pertama Kali Lomba Tahfizd Al-Qur’an Murid Bersama Orang Tua Digelar di Kota Pariaman

Maka hari ini
aku tidak ingin hanya berteriak:

MERDEKA!

Aku ingin ikut menjaga kemerdekaan itu.

Dengan ilmu yang kubagikan.
Dengan pekerjaan yang kutunaikan.
Dengan bumi yang kujaga.
Dengan kejujuran yang kupertahankan.
Dengan generasi yang kusiapkan.

Para pahlawan telah menyelesaikan
pertempuran mereka.

Kini,
giliran kita melanjutkan perjuangan.

Bukan lagi dengan bambu runcing.
Bukan lagi dengan dentuman senjata.

Tetapi dengan kejujuran.
Dengan ilmu.
Dengan kerja.
Dengan keberanian menjaga kebenaran.
Dengan cinta yang tidak berhenti pada kata-kata.

Giliran kita menjaganya.

Memastikan
anak cucu kita kelak
masih mempunyai tanah untuk berpijak,
air untuk diminum,
udara untuk dihirup,
hutan untuk diwariskan,
dan negeri yang layak mereka cintai.

Sebab kemerdekaan bukan hanya warisan.
Ia adalah amanah yang berpindah dari satu generasi
ke generasi berikutnya.

BACA JUGA :  Rp 114 Miliar Pajak Air Permukaan Masih Terutang, Wajib Pajak Air Permukaan Sektor Perkebunan jadi Sorotan

Merah Putih,
aku masih berutang padamu.

Aku telah menikmati kemerdekaan
yang dahulu dibayar begitu mahal.

Maka sebelum hidupku selesai,
izinkan aku melunasi sebagian utang itu,

bukan dengan darah,
bukan dengan nyawa,
tetapi dengan pengabdian.

MERDEKA! 🇮🇩

Jakarta, 8 Agustus 2026

Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *