Ketika Zaman Menjadi Surealis: Riki Antoni dan Fragmen Awal Reformasi

Lukisan karya Riki Antoni. (foto; ist)

Esai Budaya : Yurnaldi*)

Ada masa ketika wartawan seni tidak sekadar datang ke ruang pamer untuk mencatat siapa yang berpameran, berapa jumlah karya, siapa yang membuka pameran, dan berapa harga sebuah lukisan.

Wartawan datang untuk melihat. Melihat karya. Membaca tanda. Mencari hubungan antara bentuk dan zaman. Sesudah itu menulis—agar pengalaman melihat sebuah karya tidak berhenti ketika pintu galeri ditutup.

Saya pernah berada dalam masa itu. Pameran-pameran di Taman Ismail Marzuki, Galeri Nasional Indonesia, dan ruang-ruang pamer lainnya di Jakarta menjadi bagian dari kerja jurnalistik. Apresiasi seni rupa adalah bagian dari percakapan kebudayaan.

Lukisan Riki Antoni yang saya simpan ini membawa saya kembali kepada tradisi tersebut.

Kanvas berukuran 60 × 60 sentimeter ini dibuat pada 2001, sebagaimana penanda “RK 01” di bagian kanan bawah yang saya baca sebagai Riki—2001.

Ia datang dari sebuah masa yang dalam sejarah Indonesia tidak mungkin dipisahkan dari nama Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Dan Gus Dur hadir di dalam lukisan ini.
Bukan sebagai potret presiden yang formal. Bukan sosok yang berdiri gagah di podium kenegaraan. Ia justru masuk ke dalam dunia Riki Antoni yang ganjil, penuh warna, figur yang mengalami deformasi, manusia dan binatang yang seperti keluar dari dongeng, sekaligus menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya lucu.
Di sinilah karya ini menjadi menarik.

Riki Antoni seperti tidak sedang melukis seorang presiden. Ia sedang melukis sebuah zaman.
Ketika kenyataan sendiri terasa surealis.

Tahun 2001 adalah masa ketika Indonesia belum benar-benar selesai dengan Reformasi.

Orde Baru telah tumbang. Kebebasan pers berkembang. Demokrasi membuka pintu-pintu baru. Berbagai suara yang sebelumnya terpinggirkan menemukan ruang untuk berbicara. Tetapi perubahan itu juga membawa kegaduhan, konflik, ketidakpastian dan berbagai paradoks.

Di tengah situasi semacam itu, Gus Dur hadir sebagai presiden yang juga penuh paradoks.
Ia ulama, intelektual, pemikir, humoris, sekaligus politisi. Ia bisa berbicara dengan bahasa yang serius sekaligus membuat orang tertawa. Ia berani membuka ruang demokrasi, tetapi pemerintahannya juga diguncang konflik politik yang keras.

Maka, jika seorang pelukis muda memilih bahasa surealis untuk merespons zaman tersebut, pilihan itu terasa masuk akal.

Sebab kenyataan Indonesia ketika itu sendiri kadang terasa seperti surealisme.
Yang dahulu dianggap mustahil menjadi mungkin. Yang dahulu tidak boleh dibicarakan tiba-tiba menjadi percakapan publik. Kekuasaan yang tampak kokoh dapat dipertanyakan.

Masyarakat menemukan kembali keberanian untuk bersuara.
Dalam suasana seperti itu, realisme barangkali terlalu sederhana. Riki memilih dunia yang lain.

Manusia, binatang, dan topeng

Lihatlah figur-figur dalam lukisan ini.

Tidak ada tubuh manusia yang benar-benar normal. Wajah berubah menjadi topeng. Binatang dan manusia seperti bertukar dunia. Ada burung, ada figur yang menggendong sesuatu seperti bayi, ada sosok yang wajahnya tertutup, dan ada hubungan antarfigur yang terasa seperti sebuah adegan teater.

BACA JUGA :  Dari Sampah ke Cuan, Universitas Ekasakti Dampingi LPS Air Pacah

Semuanya bergerak dalam bidang yang sama.
Tidak ada satu figur yang sepenuhnya menjadi pusat.

Justru karena itulah lukisan ini terasa seperti sebuah panggung sosial.
Riki tidak memberi kita cerita yang selesai. Ia memberikan fragmen-fragmen.
Penontonlah yang harus menyambungkannya.

Arsip seni rupa yang mencatat pameran kelompok Unity, 6+1 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, pada 20 Maret 2001, menggambarkan karya Riki pada masa itu sebagai karya yang dipenuhi figur binatang dengan deformasi dan warna-warna cerah.

Karya tersebut disebut mampu menghibur melalui cerita tentang kehidupan manusia.

Catatan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa bahasa visual yang kita lihat pada lukisan ini bukanlah kebetulan. Figur yang terdistorsi, karakter animalistik dan warna kuat memang sudah menjadi bagian dari pencarian artistik Riki pada awal 2000-an.

Surealisme yang dekoratif

Sekilas, lukisan ini menyenangkan mata.
Warnanya hidup. Bentuknya dekoratif. Karakter-karakternya seperti tokoh dalam cerita anak-anak. Bahkan ada kesan jenaka.

Tetapi di balik semua itu ada kegelisahan.
Inilah yang membuat saya tertarik pada istilah surealisme dekoratif untuk membaca karya Riki Antoni.

Dekoratif bukan berarti dangkal. Warna yang indah tidak selalu berarti isi yang ringan.
Riki justru memanfaatkan daya tarik visual itu untuk membawa kita masuk ke wilayah yang lebih serius: manusia, politik, kehidupan sosial, identitas dan absurditas zaman.
Ia tidak perlu berkhotbah.
Ia tidak memasang slogan.
Ia tidak menggambar demonstrasi.
Ia membiarkan figur-figurnya berbicara.

Dan barangkali itulah kekuatan sebuah karya seni: ia tidak selalu memberi jawaban, tetapi membuat kita mengajukan pertanyaan.

Gus Dur bukan sekadar tokoh

Kehadiran Gus Dur dalam lukisan ini, dalam pembacaan saya, menjadi penanda penting.
Gus Dur bukan hanya seseorang yang pernah menjadi presiden Indonesia. Dalam konteks karya ini, ia dapat dibaca sebagai simbol zaman Reformasi awal.

Tetapi ada kehati-hatian yang perlu dijaga.
Kita tidak boleh begitu saja menyatakan bahwa semua simbol dalam lukisan ini mempunyai arti tertentu tanpa keterangan langsung dari senimannya. Pembacaan terhadap karya tetaplah pembacaan.

Namun, pengalaman saya mengenal konteks lahirnya karya ini memberi lapisan lain.

Saya menulis tentang Riki Antoni dan karyanya di Kompas, baik edisi cetak maupun Kompas.com. Setelah itu, menjelang kehadirannya dalam pameran di Singapura, Riki memberikan karya ini kepada saya.

Karena itu, bagi saya, figur Gus Dur di dalam kanvas ini bukan sekadar bentuk yang kebetulan menyerupai seseorang.
Ia terkait dengan ingatan saya terhadap masa ketika karya itu lahir.
Karya yang lahir ketika sejarah sedang berlangsung.

Di sinilah umur sebuah karya menjadi penting.
Karya tentang Gus Dur yang dibuat bertahun-tahun setelah Gus Dur menjadi bagian dari sejarah tentu dapat mempunyai nilai artistik yang tinggi.

Tetapi karya yang dibuat ketika Gus Dur masih berada di pusat panggung politik Indonesia mempunyai kualitas kesaksian yang berbeda.
Ia lahir ketika sejarah belum selesai.
Pelukis belum mengetahui bagaimana bab berikutnya akan berakhir.
Itulah yang membuat karya ini menarik untuk dilihat kembali sekarang.

BACA JUGA :  Kantor Pertanahan Pesisir Selatan Ikuti Monev PTSL ILASPP 2026 di Kanwil BPN Sumbar

Dua puluh lima tahun lebih telah berlalu. Kita melihat Gus Dur bukan lagi sebagai presiden yang sedang menghadapi pergulatan politik sehari-hari, tetapi sebagai bagian dari ingatan bangsa.

Sementara lukisan Riki menyimpan sesuatu dari masa ketika ingatan itu belum terbentuk.
Ia menyimpan suasana sebelum sejarah menjadi sejarah.

Dari Yogyakarta ke dunia yang lebih luas

Riki Antoni lahir pada 1977 dan menempuh pendidikan seni lukis di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Katalog BAKABA mencatat latar pendidikannya tersebut dan perjalanan pamerannya, termasuk The Wonderful Tales of Riki Antoni di iPreciation Gallery, Singapura, pada 2006.

Dalam perkembangan berikutnya, karya Riki semakin dikenal melalui bahasa figuratif-surealisnya. iPreciation menggambarkan karakter Riki sebagai figur-figur animalistik berukuran besar dengan warna-warna cerah yang membangun semacam paradoks terhadap iklim sosial dan politik Indonesia.

Menariknya, karya awal itu tidak kemudian dianggap sekadar masa lalu.
Pada 2024, iPreciation menggelar Asal-Usul, pameran yang secara khusus menghadirkan karya-karya awal sembilan seniman Indonesia dari periode 2001–2009, termasuk Riki Antoni.

Pameran itu melihat karya-karya awal tersebut sebagai jendela menuju eksplorasi pertama yang kemudian membentuk perjalanan artistik mereka.

Dengan demikian, tahun 2001 pada lukisan yang saya simpan ini memperoleh arti baru.
Ia bukan sekadar angka.
Ia adalah titik waktu.
Bukan sekadar benda koleksi
Lukisan ini dulu bernilai sekitar Rp40 juta.
Tetapi setelah lebih dari dua dekade, saya tidak lagi melihatnya pertama-tama dari angka tersebut.

Harga adalah bagian dari sejarah sebuah karya, tetapi bukan seluruh sejarahnya.
Karya ini mempunyai cerita yang lain.

Ia diberikan langsung oleh Riki Antoni kepada saya setelah saya menulis tentang karya dan perjalanan keseniannya. Saya menyimpannya sejak masa itu.

Karena itu, lukisan ini memiliki apa yang dalam dunia seni disebut provenance—riwayat asal-usul dan kepemilikan—yang bersifat personal.
Tetapi lebih dari itu, ia mempunyai kesaksian.

Saya berada di sana ketika Riki masih berada dalam fase awal perjalanan artistiknya. Saya menulis tentangnya ketika karya-karya tersebut belum menjadi bagian dari sejarah yang sekarang bisa kita lihat dari jarak jauh.

Maka ketika hari ini saya berdiri di depan kanvas 60 × 60 sentimeter itu, yang saya lihat bukan hanya lukisan.

Saya melihat kembali seorang pelukis muda.
Saya melihat Yogyakarta.
Saya melihat Indonesia awal Reformasi.
Saya melihat Gus Dur.
Dan saya melihat kembali dunia jurnalistik ketika apresiasi seni rupa masih menjadi bagian penting dari percakapan media.

Sebuah fragmen sejarah seni rupa Indonesia awal Reformasi

Saya sengaja menyebut karya ini fragmen, bukan dokumen.

Dokumen sejarah biasanya ingin menjelaskan sesuatu secara lengkap.
Seni tidak demikian.
Seni hanya menangkap sebagian.
Sebagian suasana. Sebagian kegelisahan. Sebagian imajinasi. Sebagian cara manusia melihat dunia.
Tetapi justru karena hanya sebagian itulah ia menarik.

BACA JUGA :  Ketua DPRD Pasaman Barat Dirwansyah Buka Paripurna DPRD Mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden

Lukisan Riki Antoni ini mungkin tidak pernah diniatkan untuk menjadi dokumen sejarah.
Namun, lebih dari dua dekade kemudian, ia dapat kita baca sebagai sebuah fragmen sejarah seni rupa Indonesia awal Reformasi: potongan kecil tentang bagaimana seorang seniman muda melihat Indonesia ketika demokrasi sedang mencari bentuknya, ketika Gus Dur berada di tengah pusaran sejarah, dan ketika seni rupa Indonesia sedang mencari bahasa-bahasa baru untuk membaca kenyataan.

Kita sering mengira sejarah hanya tersimpan dalam arsip negara, surat kabar, pidato, buku pelajaran dan dokumen resmi.

Padahal sejarah juga dapat bersembunyi di dalam kanvas.
Kadang ia bersembunyi di balik warna.
Kadang di balik figur yang aneh.
Kadang di balik wajah yang dibuat seperti topeng.

Dan kadang, seperti pada lukisan Riki Antoni ini, ia hadir dalam sosok Gus Dur yang diletakkan di tengah dunia surealis-dekoratif.

Ketika karya dan tulisan bertemu

Mungkin inilah yang paling personal dari karya ini.
Ada hubungan yang tidak selalu tercatat dalam katalog museum: hubungan antara seniman dan wartawan.

Seniman membuat karya.
Wartawan melihatnya.
Wartawan menulis.
Seniman membaca.
Kemudian sebuah karya berpindah tangan.

Puluhan tahun kemudian, karya itu masih berada di tempat yang sama, sementara zaman telah berubah begitu jauh.
Bagi saya, inilah salah satu alasan mengapa apresiasi seni rupa perlu terus dihidupkan.
Pameran selesai.
Lampu galeri padam.
Karya dibawa pulang.
Tetapi tulisan membuat percakapan tentang karya tetap hidup.

Sebuah apresiasi yang baik tidak harus membuat semua orang sepakat dengan penulisnya. Ia hanya perlu membuat pembaca ingin melihat karya itu lebih lama.
Lalu bertanya:
Apa yang sedang dikatakan pelukis?
Mengapa manusia dibuat seperti itu?
Mengapa binatang hadir?
Mengapa warna-warnanya demikian?
Mengapa Gus Dur berada di sana?
Dan mengapa, setelah lebih dari dua puluh tahun, lukisan ini masih terasa berbicara?

Mungkin karena karya yang baik tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hanya berpindah dari zaman penciptaannya ke zaman orang yang melihatnya.

Dan lukisan Riki Antoni ini, bagi saya, telah melakukan perjalanan itu.
Dari kanvas tahun 2001, ia kini menjadi sebuah ingatan. Sebuah kesaksian.

Dan akhirnya, sebuah fragmen sejarah seni rupa Indonesia awal Reformasi.

(Yurnaldi, wartawan pelukis yang sudah enam kali pameran, mengunjungi sejumlah museum lukisan di Asia dan Eropa, pameran lukisan di Afrika. Wartawan seni budaya Kompas (1995-2011) .

Padang, Agustus 2026

Sastrawan, Wartawan Utama, dan Pelukis.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *