Selamat Jalan Pak Tarma, Teruslah ke Syurga…

Bapak (alm) Drs.Tarma Sartima, M.Si, Ph.D. (foto; ist)

Oleh : Musfi Yendra*)

Semalam, sebuah kabar duka datang begitu tiba-tiba.

Kabar itu pertama kali saya baca di grup dosen Universitas Ekasakti. Saya membacanya berulang-ulang. Ada rasa tidak percaya. Benarkah? Mungkinkah?

Bukankah beberapa waktu lalu kami masih berkomunikasi, masih bertemu, masih berbicara tentang banyak hal?

Namun kabar itu bukan sekadar kabar yang beredar. Ia kemudian dikonfirmasi secara resmi oleh Rektor Universitas Ekasakti, Bapak Prof. Dr. Sufyarma Marsidin.

Pak Tarma Sartima telah berpulang. Beliau meninggal dunia saat sedang berada di Beijing.

Sekejap, dunia terasa seperti berhenti.

Bagi saya, kepergian Pak Tarma bukan hanya kehilangan seorang Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ekasakti.

Ia adalah kehilangan seorang pimpinan, sejawat, orang tua, sahabat, sekaligus kolega yang selama ini hadir dengan ketulusan.

Saya mengenal Pak Tarma bukan hanya dari jabatan yang beliau emban. Justru, yang paling saya ingat adalah orang baik di balik jabatan itu.

Beliau adalah sosok yang selalu berusaha memberikan kemudahan. Dalam berbagai urusan sebagai dosen, saya merasakan bagaimana beliau tidak mempersulit, tetapi mencari jalan agar pekerjaan dan tanggung jawab kami dapat berjalan dengan baik.

Sebagai pimpinan, beliau tidak membuat jarak.

Sebagai senior, beliau tidak merasa lebih tinggi.

Sebagai orang tua, beliau memberikan nasihat.

Sebagai sahabat, beliau memberi ruang untuk berbicara.

BACA JUGA :  Kantor Pertanahan Pesisir Selatan Ikuti Monev PTSL ILASPP 2026 di Kanwil BPN Sumbar

Dan sebagai kolega, beliau selalu memberikan dukungan.

Ada orang-orang yang kehadirannya baru benar-benar terasa ketika mereka tidak lagi berada di sekitar kita.

Pak Tarma adalah salah satunya.

Mungkin selama ini kami terlalu terbiasa melihat beliau ada di kampus. Terbiasa melihat sosoknya dalam berbagai aktivitas akademik. Terbiasa berdiskusi, meminta pendapat, mendapatkan arahan, atau sekadar berbincang tentang hal-hal sederhana.

Kehadiran yang terus-menerus terkadang membuat kita lupa bahwa semua itu adalah sesuatu yang sementara.

Hari ini, ketika beliau telah pergi, barulah kita menyadari bahwa ada begitu banyak kebaikan yang pernah beliau tinggalkan.

Kebaikan itu mungkin tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Terkadang hanya sebuah kemudahan dalam urusan. Sebuah nasihat.

Sebuah dukungan. Sebuah motivasi. Sebuah senyum. Atau kesediaan untuk mendengarkan.

Namun justru hal-hal sederhana itulah yang sering menetap paling lama dalam ingatan.

Saya percaya, seorang pendidik tidak hanya meninggalkan ilmu melalui buku dan ruang kelas. Ia juga meninggalkan ilmu melalui sikap hidupnya.

Pak Tarma telah mengajarkan bahwa menjadi pemimpin tidak selalu harus dengan suara yang keras. Kadang-kadang kepemimpinan justru hadir dalam bentuk kesediaan membantu, memberi kemudahan, memahami orang lain, dan mendorong orang-orang di sekitarnya untuk tumbuh.

Itulah warisan yang menurut saya akan terus hidup.

BACA JUGA :  Ketika Zaman Menjadi Surealis: Riki Antoni dan Fragmen Awal Reformasi

Kepergian beliau di Beijing juga mengingatkan kita pada satu hal yang sering kita lupakan: manusia boleh merencanakan perjalanan, tetapi tidak pernah mengetahui di mana perjalanan hidupnya akan berakhir.

Kita berangkat dengan berbagai agenda, tetapi Allah yang menentukan kapan kita harus pulang.

Dan Pak Tarma telah sampai pada perjalanan terakhirnya.

Sebagai seorang Muslim, kita percaya bahwa kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu.

Ia adalah perpindahan menuju kehidupan yang lebih kekal.

Karena itu, di balik kesedihan yang mendalam, kita menitipkan doa kepada Allah SWT agar seluruh amal kebaikan almarhum diterima, segala khilaf dan kesalahannya diampuni, dilapangkan kuburnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.

Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan.

Untuk keluarga besar Universitas Ekasakti, semoga kepergian beliau menjadi pengingat bahwa tugas kita bukan hanya melanjutkan pekerjaan yang beliau tinggalkan, tetapi juga melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang selama ini beliau tanamkan.

Dan bagi kami, para dosen yang pernah mendapatkan perhatian, dukungan, kemudahan, dan motivasi dari beliau, mungkin tidak ada cara yang lebih baik untuk mengenang Pak Tarma selain terus berbuat baik dan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak benar-benar pergi ketika namanya masih disebut dalam doa, ketika kebaikannya masih dikenang, dan ketika nilai-nilai yang pernah ia ajarkan masih diteruskan oleh orang-orang yang ditinggalkannya.

BACA JUGA :  Penguatan Integritas dan Profesionalisme, Kanwil BPN Sumbar Gelar Pelantikan Jabatan

Pak Tarma, perjalanan kita di dunia telah sampai pada titik perpisahan.

Tidak ada lagi percakapan di ruang kerja. Tidak ada lagi sapaan di lorong kampus. Tidak ada lagi diskusi dan candaan sederhana yang dulu terasa biasa.

Tetapi kebaikan Bapak akan tetap tinggal.

Di kampus ini.
Di antara kami.
Dalam ingatan kami.
Dan dalam doa-doa yang kami panjatkan.

Selamat jalan, Pak Tarma.

Terima kasih telah menjadi pimpinan yang memudahkan, senior yang membimbing, orang tua yang mengayomi, sahabat yang menguatkan, dan sejawat yang selalu mendukung.

Kami kehilangan seorang manusia baik.

Namun kami percaya, Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan.

Semoga setiap kemudahan yang pernah Bapak berikan kepada orang lain menjadi jalan kemudahan bagi Bapak di hadapan Allah.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Selamat jalan menuju keabadian, Pak Tarma. Teruslah ke Syurga, Pak Tarma…

Doa kami menyertai perjalanan terakhir Bapak.

Al-Fatihah. []

Dosen Fisipol Universitas Ekasakti*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *