Oleh : Dr. Irwandi Nashir*)
Kota Payakumbuh hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang menuntut perenungan mendalam dari kita semua. Predikat sebagai kota yang ramah, agamis, dan kondusif tiba-tiba terusik oleh kabar miring yang beredar di jagat digital. Langkah cepat Tim Gedor Polres Payakumbuh dalam mengamankan sejumlah remaja yang terlibat aksi gesekan fisik di jalanan bukanlah sekadar berita kriminal biasa. Peristiwa ini adalah sebuah sinyal darurat, sebuah pengingat jujur bahwa ada sesuatu yang sedang rapuh dalam sistem sosial kita.
Anak-anak kita, yang sejatinya memegang buku dan merajut mimpi di surau atau sekolah, sebagian justru terhanyut dalam lingkaran pergaulan yang salah di jalanan.
Melihat fenomena anak-anak muda ini, kita tidak boleh terburu-buru mencari kambing hitam. Menyalahkan aparat keamanan tentu salah alamat, karena mereka justru berada di garda terdepan menjaga ketertiban. Menyudutkan pihak sekolah secara sepihak juga tidak akan mengurai benang kusut ini.
Persoalan kenakalan remaja tidak pernah berdiri sendiri. Jika kita selami dengan hati yang jernih, munculnya kelompok-kelompok remaja yang menyimpang ini merupakan dampak dari melemahnya tiga pagar sosial utama kita: ruang hangat di dalam keluarga, fungsi kontrol kultural nagari, serta ketersediaan wadah ekspresi positif bagi generasi muda.
Pagar pertama, yang perlu kita periksa kembali adalah institusi keluarga. Mari kita jujur dan berdialog dengan diri sendiri. Di tengah impitan ekonomi dan tuntutan zaman yang serbacepat, banyak orang tua tanpa sengaja kehilangan waktu berkualitas untuk anak-anak mereka. Kesibukan memeras keringat sering kali membuat pengawasan menjadi longgar.
Komunikasi di rumah berubah menjadi kaku, sekadar menanyakan hal-hal formal. Anak-anak tumbuh tanpa ruang dialog yang hangat dari ayah dan ibunya. Akibatnya, terjadi kekosongan jiwa. Remaja yang sedang mencari jati diri ini kemudian melangkah ke luar rumah, mencari rasa memiliki dan pengakuan dari lingkungan sebayanya.
Sayangnya, ketika mereka salah memilih lingkaran pertemanan, solidaritas yang terbangun justru menjadi tingkah laku merusak.
Pagar kedua, yang mulai kehilangan daya rekatnya adalah memudarnya kearifan lokal. Payakumbuh berada di jantung Ranah Minang yang memegang erat filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Secara turun-temurun, kita beruntung memiliki mekanisme kontrol sosial yang sangat kokoh melalui peran Tungku Tigo Sajarangan.
Dahulu, seorang anak tidak hanya dijaga oleh orang tuanya, tetapi juga diawasi oleh Niniak Mamak, dididik oleh Alim Ulama, dan dibimbing oleh Cadiak Pandai dalam satu payung kaum yang erat. Namun, arus modernisasi yang membawa sifat individualistis perlahan-lahan mengikis kepedulian kolektif itu. Kita kerap menutup mata saat melihat anak tetangga keluyuran hingga larut malam. Fungsi tegur-sapa yang bersahabat dalam masyarakat mulai luntur, kalah oleh budaya abai yang kian menebal.
Pagar ketiga, adalah minimnya ruang alternatif bagi ekspresi anak muda. Remaja adalah fase di mana energi fisik dan emosional sedang meluap-luap. Jika energi yang besar ini tidak difasilitasi ke dalam kegiatan yang produktif, maka ruang-ruang kosong di jalanan akan mengambil alih.
Lembaga pendidikan terkadang terlalu tersita pada target-target nilai akademik di atas kertas. Sementara itu, kegiatan ekstrakurikuler, ruang kreativitas seni, kompetisi olahraga, hingga pemberdayaan berbasis komunitas di tingkat kelurahan belum berjalan optimal. Situasi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang kerap menampilkan aksi-aksi negatif demi mengejar popularitas instan.
Anak-anak yang labil dengan mudah meniru apa yang mereka lihat di layar gawai hanya agar dianggap keren oleh kelompoknya.
Lantas, bagaimana kita harus melangkah ke depan? Menghadapi situasi ini, Kota Payakumbuh tidak butuh saling tuding, melainkan gerakan bersama yang nyata dan terpadu. Langkah penegakan hukum yang humanis oleh Polres Payakumbuh sudah sangat tepat. Namun, karena para pelaku masih di bawah umur, pendekatan yang mengedepankan masa depan anak harus diutamakan.
Konsep keadilan restoratif yang menitikberatkan pada pemulihan, bukan sekadar hukuman, harus dikawal bersama. Di sinilah instansi terkait seperti Dinas Sosial serta Dinas terkait lainnya Payakumbuh harus masuk untuk memberikan pendampingan psikologis yang menyentuh akar masalahnya, bukan sekadar penyelesaian administratif.
Solusi jangka panjangnya harus melibatkan seluruh elemen kota secara integratif.
Pertama, kita harus menggaungkan kembali gerakan kembali ke meja makan dan kembali ke surau/mushalla/masjid. Keluarga harus menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk pulang dan bercerita. Orang tua perlu menyepakati “jam malam keluarga”, memastikan bahwa sebelum pukul sembilan malam, anak-anak sudah berada di dalam rumah untuk beristirahat atau berkumpul bersama keluarga.
Kedua, mari kita hidupkan kembali ruh kepedulian Tungku Tigo Sajarangan di tingkat nagari dan kelurahan. Para tokoh masyarakat, pengurus masjid, dan pemuda Karang Taruna harus kembali aktif merangkul remaja. Pos-pos ronda tidak hanya berfungsi menjaga keamanan fisik dari pencurian, tetapi juga menjadi pos pengawasan sosial yang ramah, yang bersedia menegur dan membubarkan kerumunan anak sekolah pada jam-jam rawan secara persuasif.
Ketiga, Persyarikatan Muhammadiyah bersama organisasi keagamaan lainnya, serta Pemerintah Kota Payakumbuh, siap bersinergi untuk membuka lebih banyak ruang aktivitas yang menarik bagi anak muda.
Kita perlu memperbanyak pelatihan keterampilan digital yang positif, menghidupkan liga-liga olahraga antar-kelurahan, dan mengemas kegiatan remaja masjid dengan pendekatan yang lebih modern, inklusif, dan tidak kaku.
Menyelamatkan generasi muda Payakumbuh hari ini adalah investasi mutlak untuk masa depan daerah yang kita cintai ini. Kita tidak boleh terlambat bertindak. Pagar sosial yang mulai renggang ini harus kita perbaiki dan rapihkan kembali.
Dengan kebersamaan, keterbukaan hati, dan kerja keras seluruh lapisan masyarakat, kita pasti mampu mengembalikan Payakumbuh sebagai kota yang aman, teduh, dan penuh berkah bagi tumbuh kembang anak-cucu kita kelak. []
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh*)
