Mati Rasa

Oleh: Nurul Jannah*)

Bencana Tinggal Menjadi Angka di Layar

Pagi hari. Kita membuka ponsel.

Ada berita kebakaran.

Geser.

Rumah-rumah terendam.

Geser.

Anak-anak belajar dari rumah karena udara memburuk.

Geser.

Ada wabah menyerang.

Geser lagi.

Lalu muncul video makanan.

Jari kita berhenti. Kita menontonnya sampai selesai.

Tentu saja bukan karena kita jahat.

Mungkin kita sudah terlalu sering berhadapan dengan kabar tentang bencana dan penderitaan. Terlalu sering, hingga tragedi perlahan kehilangan daya untuk mengejutkan.

“Asap lagi.”

“Banjir lagi.”

“Kebakaran lagi.”

“Kekeringan lagi.”

Satu kata kecil menyelinap di antara semuanya: lagi.

Barangkali justru kata kecil itulah yang seharusnya paling kita takutkan.

Sebab ketika tragedi terus berulang, bahayanya bukan hanya hutan yang terbakar, rumah yang tenggelam, atau udara yang tak lagi sehat.

Ada bencana lain yang tumbuh diam-diam di dalam diri kita: hati yang mulai terbiasa.

Lalu, perlahan, mati rasa.


September ini, kebakaran hutan dan lahan bukan hanya gambar merah di peta.

Lebih dari 12,5 juta orang di tujuh provinsi dilaporkan terpapar asap, sementara lebih dari 113 ribu kasus gangguan pernapasan terkait karhutla tercatat hingga 9 September.

Tetapi angka mempunyai kelemahan.

Angka tidak batuk.

Angka tidak membuat kita mendengar napas seorang anak yang berat di tengah malam.

Angka tidak memperlihatkan seorang ibu menutup rapat jendela karena udara di luar rumah tak lagi terasa aman untuk dihirup.

Baca Juga :  UNES Bekali 28 Mahasiswa Terjun ke Dunia Kerja Melalui Program Magang Mandiri

Angka tidak mampu menghadirkan panas yang dihadapi petugas ketika berdiri di antara api dan kepulan asap.

Angka juga tidak dapat menceritakan pohon yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh, tetapi hanya memerlukan beberapa jam untuk berubah menjadi arang.

Itulah mengapa tragedi terasa jauh ketika kita dan kehidupan di baliknya, hanya dikenali sebagai angka statistik belaka.

113 ribu kasus.

12,5 juta orang.

Ribuan titik panas.

Hektare yang terbakar.

Ton karbon yang terlepas.

Di layar, semuanya terlihat seperti angka biasa.

Padahal setiap angka mempunyai wajah.

Ada anak yang sesak. Ada ibu yang cemas. Ada keluarga yang menunggu udara kembali bersih. Ada petugas yang pulang dengan tubuh berbau asap. Ada rumah, hutan, dan kehidupan yang mungkin tak pernah benar-benar kembali seperti semula.

Kita membutuhkan data untuk memahami besarnya persoalan.

Tetapi kita membutuhkan hati agar data tidak kehilangan maknanya.

Dan barangkali, inilah yang lebih menakutkan daripada bencana itu sendiri: ketika yang seharusnya membuat kita gelisah, mulai terasa biasa.

Asap dianggap musim.

Banjir disebut langganan.

Sungai kotor menjadi pemandangan sehari-hari.

Panas ekstrem dianggap cuaca biasa.

Sampah menjadi bagian dari jalan.

Yang tidak normal perlahan kita terima sebagai kewajaran.

Dan ketika kerusakan tak lagi mengusik hati, kita kehilangan alasan paling manusiawi untuk mengubahnya.

Kita memang tidak mampu memadamkan ribuan titik api seorang diri.

Kita juga tidak dapat menghentikan perubahan iklim dengan satu tindakan.

Baca Juga :  Tindak Lanjuti "Petani Berdasi", Pemko Payakumbuh dan Kementan Jadikan ASN Pionir Ketahanan Pangan

Tetapi kita masih bisa memilih untuk tidak menjadi kebal.

Kita masih bisa peduli.

Kita masih bisa bertanya.

Kita masih bisa bertanggung jawab atas jejak yang kita tinggalkan.

Menjaga pohon. Menjaga air. Tidak membakar sampah. Tidak menjadikan sungai sebagai tempat membuang apa yang tidak kita inginkan.

Dan yang terpenting, tidak membiarkan penderitaan manusia dan luka alam berubah menjadi angka yang kita geser begitu saja.


Besok pagi mungkin akan ada berita baru.

Banjir di tempat lain.

Api di hutan lain.

Udara buruk di kota lain.

Jari kita mungkin kembali ingin menggeser layar.

Berhentilah sebentar.

Lihat sekali lagi foto itu.

Di baliknya mungkin ada rumah yang kemarin masih dipenuhi tawa.

Ada anak yang ingin kembali bermain di luar.

Ada keluarga yang hanya berharap bisa bernapas tanpa rasa takut.

Geserlah layarnya jika memang diharuskan. Tetapi jangan ikut menggeser kepedulian dari hati kita.

Sebab bumi tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar yang mampu membaca grafik, menghitung emisi, merancang teknologi, dan menyusun kebijakan.

Bumi juga membutuhkan orang-orang yang hatinya masih terusik.

Yang masih sedih ketika sungai tercemar.

Yang masih gelisah ketika hutan terbakar.

Yang masih merasa bahwa udara bersih bukan kemewahan.

Yang masih percaya bahwa luka bumi adalah urusan kita bersama.


Barangkali pertanyaan terbesar zaman ini bukan lagi,

Baca Juga :  20 Atlet Padel Sumbar Berebut Enam Tiket ke Kejurnas Jakarta

“Seberapa parah bumi telah rusak?”

Melainkan,

“Berapa banyak lagi yang harus hilang sebelum hati kita kembali merasa peduli?”

Sebab, bencana paling sunyi bukanlah ketika hutan terbakar, sungai meluap, atau tanah mengering.

Melainkan ketika semuanya terjadi di depan mata; dan hati kita tidak lagi bergetar.

Ketika asap hanya menjadi berita.

Ketika banjir hanya menjadi gambar.

Ketika penderitaan hanya menjadi angka.

Dan ketika jari kita begitu mudah menggeser layar, seolah kehidupan di baliknya tidak pernah ada.

Maka saat bumi kembali mengetuk nurani melalui asap, banjir, panas, sungai yang menghitam, atau tanah yang retak; berhentilah sebentar.

Hanya untuk memastikan bahwa kita masih mampu merasa.

Sebab selama hati masih terusik, kepedulian belum mati.

Selama kepedulian belum mati, masih ada keberanian untuk berubah.

Dan sesungguhnya, yang paling membutuhkan pertolongan bukan hanya bumi yang terluka.

Bisa jadi, hati kitalah yang perlu diselamatkan; sebelum benar-benar kehilangan rasa.

Jangan sampai suatu hari bumi berteriak semakin keras, sementara kita semakin pandai menggeser layar. ❤️

Jakarta, 18 September 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *