Oleh: Hendri Parjiga*
ADA masa ketika seorang atlet menjadi pusat perhatian. Namanya disebut, prestasinya diberitakan, fotonya terpampang, bahkan bonus dan penghargaan datang setelah kemenangan.
Namun, sorotan itu tidak selamanya menyala.
Cedera, usia, regenerasi dan perjalanan karier akan membawa atlet keluar dari arena kompetisi. Ketika tepuk tangan mulai reda, satu persoalan yang jauh lebih serius muncul: bagaimana kehidupan atlet setelah tidak lagi bertanding?
Pertanyaan inilah yang semestinya mulai ditempatkan di tengah kebijakan pembinaan olahraga Sumatera Barat.
Prestasi tetap penting. Medali tetap menjadi ukuran capaian yang nyata. Tetapi pembinaan olahraga tidak boleh berhenti ketika atlet turun dari podium.
Seorang atlet harus dibekali kemampuan untuk menata kehidupannya setelah masa kompetisi selesai.
Gagasan Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Sumatera Barat mengenai Koperasi Olahraga Sumbar yang dibicarakan bersama KONI Sumbar, Rabu (16/9/2026), layak dibaca dari perspektif tersebut.
Bukan semata-mata soal mendirikan koperasi.
Ini menyangkut bagaimana ekosistem olahraga dapat ikut menciptakan kemandirian ekonomi bagi atlet, pelatih, mantan atlet, pengurus dan pelaku olahraga lainnya.
Atlet Memiliki Modal yang Sering Terlupakan
Selama bertahun-tahun seorang atlet ditempa dengan disiplin.
Atlet belajar mengatur waktu, menjaga kebugaran, bekerja dalam tim, menghadapi tekanan dan mengejar target. Atlet juga membangun relasi yang luas selama berada dalam lingkungan olahraga.
Semua itu adalah modal.
Sayangnya, modal tersebut sering berhenti sebagai pengalaman pertandingan. Padahal, setelah karier kompetitif berakhir, pengalaman seorang atlet dapat dikembangkan menjadi berbagai aktivitas produktif.
Mantan atlet bisa masuk ke dunia usaha. Mereka dapat mengembangkan bisnis perlengkapan olahraga, jasa pelatihan, event olahraga, merchandise atau usaha lain yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Hal serupa berlaku bagi pelatih.
Bertahun-tahun mendampingi atlet membuat pelatih memiliki pengetahuan dan pengalaman yang bernilai. Keahlian tersebut dapat dikembangkan menjadi jasa kepelatihan, konsultasi, pendidikan olahraga hingga berbagai kegiatan ekonomi.
Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya potensi.
Pertanyaannya adalah apakah potensi tersebut telah memiliki wadah dan sistem yang mampu mengembangkannya.
Koperasi Harus Menjadi Mesin Ekonomi, Bukan Sekadar Lembaga
Di titik ini, gagasan Koperasi Olahraga Sumbar memiliki ruang untuk diuji.
Namun, koperasi tidak boleh berhenti pada akta pendirian, struktur kepengurusan dan seremoni peluncuran.
Ukuran keberhasilannya harus sederhana: apakah anggota memperoleh manfaat ekonomi?
Koperasi bisa diarahkan untuk memenuhi kebutuhan nyata dunia olahraga.
Pengadaan perlengkapan, kebutuhan event, merchandise, konsumsi, transportasi, dokumentasi dan berbagai jasa pendukung olahraga dapat dipetakan sebagai peluang usaha.
Unit usaha juga dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan anggota dan kemampuan pengelola.
Model seperti ini membutuhkan perhitungan bisnis yang matang. Ada pasar yang harus dipetakan. Ada modal yang harus dikelola. Ada teknologi yang bisa dimanfaatkan. Ada laporan keuangan yang harus terbuka.
Koperasi olahraga juga harus menjauh dari pola lama: ramai ketika didirikan, tetapi sepi kegiatan setelah pengurus berganti.
Jika ingin bertahan, koperasi harus hidup dari aktivitas ekonomi yang sehat.
Semangat Hatta dan Dunia Olahraga Bisa Bertemu
Sumatera Barat memiliki alasan historis untuk memberi perhatian lebih terhadap gagasan perkoperasian.
Mohammad Hatta, putra Minangkabau, dikenal luas sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Warisan pemikiran tersebut tidak harus berhenti sebagai simbol sejarah. Nilai kebersamaan, gotong royong dan kepentingan anggota dapat diterjemahkan dalam kebutuhan zaman sekarang.
Di sisi lain, olahraga juga memiliki semangat kolektif yang kuat.
Tidak ada prestasi besar yang lahir hanya dari kerja seorang atlet. Di belakangnya terdapat pelatih, keluarga, pengurus, tenaga pendukung, pemerintah, sponsor dan berbagai pihak lainnya.
Di sinilah olahraga dan koperasi memiliki titik temu.
Keduanya membutuhkan kepercayaan, disiplin, kerja sama dan pengelolaan yang bertanggung jawab.
Ketua Umum KONI Sumbar Hamdanus yang menyambut baik gagasan Dekopinwil Sumbar dapat menjadi pintu masuk untuk membangun pembicaraan yang lebih konkret.
Tetapi sambutan saja tidak cukup.
Gagasan tersebut perlu diterjemahkan menjadi rancangan yang dapat diuji dan diukur.
Jangan Sampai Atlet Hanya Dibutuhkan Saat Bertanding
Ada paradigma yang perlu dibenahi.
Atlet jangan dipandang hanya sebagai mesin pencetak medali. Pelatih jangan hanya dicari ketika kompetisi sudah dekat. Mantan atlet jangan dianggap selesai ketika tidak lagi masuk daftar peserta pertandingan.
Mereka adalah bagian dari ekosistem olahraga.
Karena itu, pembinaan harus memiliki dua jalur yang berjalan beriringan: prestasi dan kemandirian.
Atlet yang berprestasi perlu memiliki kesempatan mengembangkan kapasitas di luar arena. Pendidikan, kewirausahaan, literasi keuangan dan keterampilan kerja dapat menjadi bagian dari pembinaan jangka panjang.
Dengan begitu, prestasi olahraga tidak berhenti sebagai catatan sejarah.
Ia bisa menjadi modal untuk kehidupan berikutnya.
Jangan Bangun Koperasi Tanpa Peta Jalan
Jika Koperasi Olahraga Sumbar benar-benar hendak diwujudkan, tahap berikutnya harus lebih serius.
Perlu kajian kebutuhan anggota. Perlu pemetaan potensi usaha. Perlu model bisnis yang realistis. Perlu sistem administrasi dan keuangan yang terbuka. Perlu pemanfaatan teknologi digital. Dan yang tidak kalah penting, perlu pengawasan yang kuat.
Pengurus juga harus memahami dua dunia sekaligus: perkoperasian dan olahraga.
Koperasi tidak boleh berubah menjadi ruang kepentingan kelompok tertentu. Kepentingan anggota harus menjadi pusat pengelolaan.
Dekopinwil memiliki pengalaman di bidang koperasi. KONI memiliki jaringan insan olahraga. Pemerintah mempunyai instrumen kebijakan. Dunia usaha memiliki pasar dan sumber daya.
Keempat kekuatan tersebut bisa dipertemukan dalam sebuah ekosistem yang saling menguatkan.
Ukuran Prestasi Harus Diperpanjang
Sudah waktunya ukuran keberhasilan pembinaan atlet diperluas.
Medali tetap harus dikejar. Rekor tetap harus diburu. Prestasi daerah tetap harus diperjuangkan.
Tetapi ada ukuran lain yang tak kalah penting: berapa banyak atlet yang mampu membangun kehidupan mandiri setelah masa kompetisi mereka selesai?
Di situlah gagasan Koperasi Olahraga Sumbar menemukan makna yang lebih luas.
Jika dikelola serius, koperasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjembatani dunia olahraga dengan dunia ekonomi.
Sumatera Barat tidak cukup hanya melahirkan juara.
Daerah ini juga perlu menyiapkan atlet yang memiliki bekal untuk menghadapi kehidupan setelah arena pertandingan.
Sebab kemenangan sejati seorang atlet bukan hanya ketika ia berdiri di podium dengan medali di dada.
Ada kemenangan lain yang lebih panjang: ketika setelah karier olahraga usai, ia tetap mampu berdiri dengan kemampuan dan usaha sendiri. []
Penulis adalah Wartawan Utama, Pemimpin Redaksi FokusSumbar.Com & Pemimpin RedaksiFokusRiau.Com dan Kabid Humas KONI Sumbar*
