Cerpen : Nurul Jannah*)
“Yang membuat Ema Rukayah tetap merasa hidup bukan lagi dirinya sendiri, melainkan cucu lelakinya yang masih memanggilnya ‘Nenek’ di rumah.”
Pagi itu langit Bandung masih pucat.
Kabut tipis belum sepenuhnya hilang ketika seorang perempuan tua mulai mendorong gerobak kecilnya ke depan sekolah dasar negeri di ujung jalan.
Namanya Ema Rukayah.
Usianya hampir tujuh puluh tahun. Punggungnya mulai membungkuk. Langkahnya memang masih tampak tegap, meski sesekali terlihat tertatih pelan. Tangannya gemetar setiap kali memegang uang receh.
Namun setiap pagi, ia selalu hadir. Datang ke Sekolah dengan baskom berisi aneka gorengan. Mulai dari bakwan, pisang goreng, cireng, hingga tempe tepung yang mulai dingin terkena udara pagi.
Anak-anak sekolah sudah hafal wajahnya.
“Emaa… beli seribuuu…”
“Ema, nanti dulu yaaaa, masuk kelas dulu…”
“Ema, minta bonus satu dong….”
“Ema, tempenya dibikin lebih tipis ya, biar renyah…”
Apa pun sapaan yang diterima, Ema Rukayah selalu tersenyum.
Senyum kecil yang tampak biasa saja, tetapi sebenarnya dipakai untuk menutupi hidup yang sudah terlalu sering melukainya.
Dari luar, hidupnya terlihat ringan.
Padahal sebenarnya, takdir sudah berkali-kali menjatuhkannya.
Di rumah kontrakan kecil yang dindingnya mulai lembap dimakan hujan, Ema tinggal bersama cucu laki-lakinya: Raka Gumilar.
Usianya baru sembilan tahun. Tubuhnya kurus. Kulitnya agak gelap karena sering bermain di bawah matahari. Namun matanya teduh.
Raka anak penurut, tidak banyak meminta. Tidak banyak merengek.
Ia jarang meminta mainan.
Jarang memaksa dibelikan apapun. Mungkin karena ia terlalu cepat mengerti bahwa hidup neneknya tidak mudah.
Orang tua Raka sudah lama berpisah. Ayahnya pergi entah ke mana. Tidak pernah lagi memberi kabar.
Sementara ibunya, Nining, bekerja menjadi TKI di Hongkong sejak lebih dari lima tahun lalu.
Awalnya Nining berjanji akan pulang dua tahun lagi.
Lalu berubah menjadi tiga tahun.
Lalu:
“Sebentar lagi ya, Nak…”
Namun waktu terus berjalan.
Dan “sebentar lagi” itu tidak pernah benar-benar datang.
Setiap malam sebelum tidur, Raka sering bertanya ke neneknya.
“Nek… Mama masih ingat Raka nggak sih?”
Ema Rukayah selalu terdiam sebentar, sebelum menjawab.
“Inget, Nak… ibu kamu kerja buat Raka.”
Namun jauh di dalam hatinya, Ema sendiri mulai takut. Takut kalau cucunya perlahan lupa bagaimana rasanya dipeluk ibunya sendiri.
Pagi itu, saat sedang menjajakan gorengan, seorang anak kecil membeli bakwan seribu rupiah.
Lalu bertanya polos: “Ema nggak capek jualan terus?”
Tangan Ema yang sedang menghitung uang receh berhenti sebentar.
Ia tersenyum kecil.
Namun matanya tampak mulai basah.
“Capek, Nak…”
Ia menelan napas pelan.
“Tapi cucu Ema harus tetap sekolah.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, udara pagi mendadak terasa lebih berat. Karena kadang, kalimat paling menyakitkan justru datang dari orang-orang yang hidupnya paling sederhana.
Tidak banyak orang tahu bagaimana hidup Ema sebenarnya.
Setiap pukul tiga dini hari, ia sudah bangun.
Mengaduk tepung.
Mengiris kol.
Menumbuk bawang.
Menyalakan kompor kecil yang kadang apinya mati sendiri.
Lalu menggoreng satu per satu dengan minyak yang dipakai berulang agar cukup sampai besok.
Kadang tangannya terkena cipratan minyak panas. Kadang dadanya sesak karena terlalu lelah. Kadang lututnya nyeri saat berdiri terlalu lama.
Namun Ema Rukayah tidak pernah berhenti.
Karena setiap kali ingin menyerah, ia selalu ingat satu hal; Raka masih butuh sekolah.
Sepulang jualan, Ema sering melihat Raka tidur sambil memeluk foto ibunya.
Foto lama yang warnanya mulai pudar.
Di foto itu, Nining masih muda. Masih tersenyum lebar. Masih belum terlihat setua dan selelah sekarang.
Kadang Raka mencium foto itu diam-diam.
Kadang ia mengajak bicara foto itu, “Kalau Raka juara kelas… Mama pulang kan?”
Dan setiap kali mendengar pertanyaan seperti itu, dada Ema terasa diremas keras. Karena ada rindu tertentu yang terlalu besar untuk dijelaskan kepada anak kecil.
Suatu sore, hujan turun deras. Gorengan Ema masih banyak tersisa.
Sepanjang jalan pulang, gerobaknya terasa semakin berat.
Bukan karena besinya.
Tetapi karena hidup memang sering terasa berat bagi orang-orang kecil yang tidak punya tempat mengadu, selain kepada Tuhan.
Sesampainya di rumah, Raka menyambutnya di depan pintu.
“Ema… tadi Raka dapat hadiah. Raka ranking satu.”
Mata anak itu berbinar penuh bangga.
Ema tersenyum lebar.
Benar-benar lebar.
Lalu memeluk cucunya erat sekali.
Namun diam-diam air matanya jatuh membasahi rambut Raka.
Karena ia sadar, anak sekecil itu sedang tumbuh terlalu cepat bersama kehilangan.
Malam itu, listrik mati. Rumah kecil mereka hanya diterangi lampu minyak.
Raka tidur di pangkuan Ema sambil memegang buku sekolahnya.
Dan di tengah suara hujan yang jatuh pelan di atap seng, Ema memandangi wajah cucunya.
Lalu berbisik lirih:
“Ya Allah… jangan dulu ambil saya. Sebelum cucu saya benar-benar bisa berdiri sendiri…”
Kalimat itu sederhana.
Namun mungkin,
begitulah doa paling sunyi dari banyak orang tua dan kakek-nenek.
Mereka tidak takut miskin.
Tidak takut lelah.
Tidak takut sakit.
Mereka hanya takut meninggalkan seseorang yang masih sangat membutuhkan mereka untuk bertahan hidup.
Keesokan paginya, Ema kembali mendorong gerobaknya ke depan sekolah.
Langkahnya tetap pelan.
Tangannya tetap gemetar.
Punggungnya tetap membungkuk.
Namun matanya masih menyimpan satu alasan untuk terus hidup.
Karena kadang manusia tetap berjalan bukan karena hidupnya bahagia.
Melainkan karena ada seseorang yang tidak boleh ia kecewakan.
Dan bagi Ema Rukayah,
orang itu adalah Raka Gumilar.
Cucu kecil yang membuatnya tetap kuat melawan usia, kesepian, dan hidup yang tidak pernah benar-benar mudah.
“Kadang yang paling menyakitkan bukan kemiskinan. Tetapi ketika seorang anak tumbuh besar, sambil terus menunggu pelukan ibunya yang tak kunjung pulang.”💞
Jakarta, 18 Mei 2026💕
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




