Menjemput Bahagia

Oleh: Nurul Jannah*)

“Kami sudah OTW ya dari Depok. Insya Allah sebentar lagi sampai Bogor…”

Pesan singkat itu datang ketika hari masih dipenuhi jadwal yang nyaris tanpa jeda.

Sejak pagi hingga pukul tiga sore, waktu seolah berlari tanpa memberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Rapat demi rapat, mengajar, menguji mahasiswa, menyelesaikan laporan, membalas berbagai pesan, hingga menyiapkan materi pelatihan silih berganti memenuhi hari.

Hari itu benar-benar padat. Tubuh mulai lelah, pikiran pun nyaris kehilangan tenaga.

Namun Allah selalu memiliki cara yang indah untuk mengganti penat.Bukan dengan menghadirkan waktu luang. Allah justru mengirimkan kebahagiaan melalui orang-orang yang datang membawa kehangatan.

Alhamdulillah. Sore itu, rumah sederhana di Bangbarung terasa berbeda. Lebih riuh. Lebih hangat. Lebih hidup.

Ibu Shintalya Azis, sahabat NJD dari Palembang, datang bersama dua putri tercintanya, Mbak Sheby dan Jehan.

“Alhamdulillah… akhirnya sampai juga.”

Saya langsung memeluk mereka.

“Selamat datang di Bogor…”

Senyum mereka, pelukan hangat, dan percakapan yang mengalir, menghapus seluruh kepenatan yang sejak pagi memenuhi hari.

Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi Mbak Sheby. Ia baru saja menuntaskan sidang akhir di Universitas Indonesia. Sebuah perjalanan panjang akhirnya tiba di garis akhir.

MasyaAllah. Selamat, Mbak Sheby.

Semoga Allah menjadikan setiap ilmu yang diperoleh sebagai ilmu yang berkah, bermanfaat, dan menjadi cahaya bagi banyak orang.

“Masih banyak yang harus dipelajari, Tante.”

Saya tersenyum. “Justru itulah ciri orang yang akan terus bertumbuh. Semoga Allah selalu membimbing setiap langkahmu.”


Tidak ada pesta mewah. Tidak ada dekorasi istimewa. Yang ada hanyalah rasa syukur yang memenuhi rumah. Dan syukur memang tidak pernah membutuhkan kemewahan untuk dirayakan.

Di meja ruang tamu, siomay legend sudah lebih dahulu menunggu. Tak lama kemudian hadir es kopyor yang dingin dan menyegarkan.

Obrolan pun mengalir tanpa jeda. Tentang perjalanan dari Palembang. Tentang perjuangan menyelesaikan kuliah. Tentang keluarga. Tentang mimpi. Tentang kehidupan.

Sesekali tawa pecah memenuhi ruangan. Begitu lepas. Begitu akrab. Begitu membahagiakan. Saat itulah saya menyadari, kadang kebahagiaan tidak pernah memberi kabar sebelum datang. Ia hadir begitu saja bersama orang-orang yang kita sayangi.


Menjelang sore kami memutuskan berjalan kaki. Hanya sekitar seratus meter dari rumah. Tujuannya sederhana. Bakso Seseupan. Bakso favorit keluarga Bu Shinta setiap kali berkunjung ke Bogor.

Baca juga:  ATR/BPN Dorong Kepastian Hukum Tanah Ulayat Lewat Sosialisasi di Buton Selatan

“Jalan kaki saja ya…”

“Setuju… sekalian menikmati Bogor.”

Dan Allah benar-benar menghadiahkan cuaca yang sempurna. Langit cukup benderang tanpa awan kelabu. Matahari sore bersinar hangat. Angin berembus lembut. Bahkan Kota Bogor yang terkenal dengan hujannya memilih cerah hingga malam menjelang.

Seolah-olah alam pun sedang ikut bergembira menyambut pertemuan kami.

Semangkuk bakso panas tersaji. Asapnya mengepul. Aroma kuahnya langsung mengundang selera.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, kami saling tersenyum.

Benarlah… makanan yang paling nikmat bukanlah makanan yang paling mahal. Makanan menjadi istimewa karena dinikmati bersama orang-orang yang membuat hati dipenuhi rasa syukur.

Petualangan kecil kami belum selesai. Kami melanjutkan langkah menuju kawasan pertokoan Venus di Ekalokasari Bogor.

Sayangnya, hari itu luar biasa ramai. Antrean mengular tak terhingga.

“Tidak apa-apa…”

“Yang penting jalan-jalannya.”

Akhirnya kami melakukan aktivitas yang hampir selalu berhasil membuat perempuan bahagia. Cuci mata. Melihat-lihat. Memilih-milih. Tersenyum. Mencoba. Membandingkan.

“Lucu ya…”

“Bagus sekali…”

“Eh… ini khas Bogor lhoh.”

Awalnya hanya ingin cuci mata saja Namun seperti kebanyakan perempuan, niat itu perlahan berubah. Tanpa terasa, beberapa oleh-oleh khas Bogor sudah berpindah ke dalam kantong belanja.

Kami pun tertawa bersama. Niat hari hanya cuci mata, ternyata pulangnya bawa oleh-oleh juga.

Menjelang Magrib kami mencari tempat yang nyaman untuk menunaikan salat. Langkah kaki akhirnya berhenti di salah satu legenda kuliner Bogor. Resto Bakery Tan Ek Tjoan. Begitu memasuki resto itu, kenangan masa mahasiswa langsung berhamburan memenuhi ingatan.

Saya tersenyum sendiri.

“Dulu…”

“Hanya bisa melihat roti-roti ini dari balik etalase.”

“Rasanya mewah sekali untuk kantong mahasiswa waktu itu.”

Semua tertawa.

“Kalau sekarang?”

“Alhamdulillah… sekarang Allah mengizinkan saya menikmatinya sambil mengenang masa-masa perjuangan itu.”

Malam itu meja kami dipenuhi berbagai hidangan. Nasi liwet yang harum. Nasi goreng seafood yang menggoda selera. Tahu walik istimewa. Tahu isi udang yang masih hangat. Es krim signature Tan Ek Tjoan.

Dan tentu saja, roti-roti jadul yang sejak dulu menjadi ikon Tan Ek Tjoan Bogor.

Setiap suapan tidak hanya menghadirkan rasa. Ia juga membangunkan kenangan tentang masa-masa ketika mimpi terasa begitu jauh, tetapi doa tidak pernah berhenti dipanjatkan. Dan kini, Allah mempertemukan kami kembali dalam keadaan yang jauh berbeda.

Baca juga:  Keresahan Orang Tua di Tengah SPMB 2026: Antara Transparansi Sistem, Validasi Data, dan Harapan Anak Bersekolah

Tak terasa azan Magrib berkumandang. Hari yang sejak pagi terasa begitu panjang, berubah menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan.

Saat waktunya berpamitan tiba, pelukan kembali menghangatkan perpisahan.

“InsyaAllah kita bertemu lagi ya…”

“Jangan lama-lama…”

Saya mengantar mereka hingga mobil perlahan menjauh. Senyum masih tersisa. Hati terasa penuh. Rumah kembali tenang. Namun kehangatan silaturahmi masih memenuhi setiap sudutnya.

Terima kasih, Ibu Shintalya Azis. Terima kasih, Mbak Sheby. Selamat atas selesainya sidang akhir di Universitas Indonesia. Semoga Allah menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai ilmu yang berkah, bermanfaat, dan mengantarkan pada banyak pintu kebaikan.

Terima kasih juga, Jehan, yang membuat suasana semakin hangat dengan senyum manisnya yang terus mengembang di sepanjang perjumpaan.

Mohon maaf apabila penyambutan kami masih sangat sederhana.

Semoga ketulusan mampu melengkapi segala kekurangan. Karena pada akhirnya, yang paling lama tinggal dalam ingatan bukanlah semangkuk bakso, sepiring siomay, segelas es kopyor, atau hidangan lezat yang tersaji di atas meja.

Melainkan tawa yang memenuhi rumah, pelukan yang menghangatkan pertemuan, doa-doa yang saling dipanjatkan, dan rasa syukur karena Allah masih mempertemukan hati-hati yang saling menyayangi.

Hari itu saya kembali belajar, kebahagiaan tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Kadang ia cukup hadir lewat langkah kaki yang sederhana, semeja makan yang hangat, langit Bogor yang cerah, dan orang-orang baik yang Allah kirimkan tepat pada saat kita paling membutuhkannya.

Sebab sesungguhnya, silaturahmi bukan hanya tentang saling berkunjung. Silaturahmi adalah cara Allah mengingatkan bahwa rezeki terbesar dalam hidup bukanlah apa yang kita miliki, melainkan siapa yang masih Dia pertemukan dengan kita.

Dan selama masih ada hati yang saling mendoakan, setiap pertemuan akan selalu menjadi jalan untuk menjemput bahagia😍.

Bogor, 1 Juli 2026

Penulis adalah Dosen IPB University Bogor, aktif menulis dan literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *