Indah pada Waktunya

Oleh : Nurul Jannah*)

Pernahkah merasa hidup berjalan terlalu lambat?

Usia terus bertambah. Satu per satu teman mulai membeli rumah. Ada yang kariernya melesat. Ada yang berhasil membangun usaha. Ada yang menggendong buah hati dengan senyum bahagia.

Sementara langkah sendiri terasa masih berada di tempat yang sama.

Tanpa disadari, hati mulai dipenuhi tanya.

“Ya Allah… apakah aku tertinggal?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun sering kali mampu mengusir tidur, menguras tenaga, bahkan merampas rasa syukur. Karena mata terlalu sibuk melihat perjalanan orang lain.

Suatu sore, sahabatku Alya datang ke rumah. Biasanya ia datang dengan tawa yang riuh. Namun, hari itu berbeda. Matanya sembab. Senyumnya seperti dipaksakan.

“Ada apa?” tanyaku.

Ia mengembuskan napas panjang.

“Aku lelah.”

“Lelah bekerja?”

Ia menggeleng.

“Lelah menunggu.”

Aku terdiam. Menunggu memang tidak pernah mudah. Menunggu kabar baik. Menunggu doa dijawab. Menunggu rezeki datang. Menunggu hati kembali tenang.

Beberapa saat kemudian ia meneruskan,

“Usiaku terus bertambah.”

“Teman-teman sudah punya rumah.”

“Banyak yang kariernya luar biasa.”

“Sebagian sudah membawa anak-anaknya berlibur.”

“Aku masih begini.”

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Menurutmu… Allah lupa padaku kah?”

Aku menggeleng.

“Tentu saja tidak.”

“Lalu kenapa terasa lama sekali?”

Aku tidak langsung menjawab.

Sore itu aku mengajak dia duduk di teras belakang rumah. Kami membiarkan angin sore menyapa ramah keberadaan kami. Di halaman teras belakang rumah, tumbuh dua pohon besar. Pohon jambu dan mangga.

Pohon jambu sedang dipenuhi buah. Sementara pohon mangga baru mengeluarkan bunga-bunga kecil.

Aku menunjuk ke arah keduanya.

“Lihat dua pohon itu, Al.”

“Iya.”

“Kenapa pohon jambu sudah berbuah?”

Baca juga:  Wawako Mulyadi Resmi Tutup Kejuaraan Sepatu Roda Tingkat Nasional Pariaman Open 2026

“Karena memang musimnya.”

“Lalu kenapa pohon mangga belum?”

“Belum waktunya.”

Aku tersenyum.

“Kalau hari ini kita memetik mangga itu, bagaimana rasanya?”

Alya memandang pohon itu.

“Masih mentah.”

“Rasanya?”

“Asam.”

Aku tersenyum.

“Nah, begitu pula doa.”
“Kalau dipetik sebelum waktunya, belum tentu menghadirkan kebaikan.”

Alya terdiam.
Aku kembali berkata,

“Apakah itu berarti pohon mangga gagal?”

Alya menggeleng.

“Tidak.”

“Ia hanya sedang menunggu musimnya.”

Aku tersenyum.

“Allah tidak pernah meminta pohon mangga berbuah secepat pohon jambu.”

“Lalu mengapa kita memaksa hidup mengikuti musim milik orang lain?”

Alya terdiam.

Aku melanjutkan,

“Begitu pula hidup kita.”

Alya menatapku lebih tajam.

“Boleh jadi aku terlalu sering membandingkan hidupku.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kita semua pernah melakukannya. Termasuk aku.”


Sejak kecil, kita terbiasa berlomba. Siapa paling cepat berjalan. Siapa paling cepat membaca. Siapa paling tinggi nilainya.

Tanpa sadar, kebiasaan itu ikut tumbuh hingga dewasa. Siapa lebih dulu menikah. Siapa lebih dulu mapan. Siapa lebih dulu sukses.

Padahal Allah tidak pernah menciptakan hidup untuk diperlombakan.

Allah menciptakan setiap insan dengan jalan yang berbeda. Ada yang dipanen pada usia muda. Ada yang baru berbunga setelah kepala dipenuhi uban. Ada yang baru menemukan panggilan hidup ketika banyak orang mulai beristirahat.

Bukankah matahari dan bulan sama-sama menerangi bumi?

Namun keduanya tidak pernah muncul pada jam yang sama.

Tidak saling mendahului. Tidak saling iri. Masing-masing bersinar pada waktu yang telah ditetapkan.

Aku teringat perjalanan hidupku sendiri. Ada doa yang bertahun-tahun belum dijawab. Ada harapan yang berkali-kali tertunda. Ada pintu yang berulang kali tertutup.

Baca juga:  Ruang Bertumbuh

Pernah pada satu malam aku bertanya dalam doa, “Ya Allah… kapan?”

Malam itu langit tetap sunyi. Hari berganti. Bulan berlalu. Jawaban yang kutunggu belum juga datang.

Yang hadir justru proses. Belajar lagi. Memperbaiki diri. Menguatkan hati. Menerima penolakan. Bangkit kembali.

Lalu belajar lagi. Saat itu rasanya melelahkan. Namun bertahun-tahun kemudian aku baru memahami.

Andaikan pintu itu dibuka lebih awal, barangkali aku belum siap memasukinya. Andaikan doa langsung dikabulkan, mungkin aku belum mampu menjaganya.

Ternyata Allah tidak sedang menunda. Allah sedang mempersiapkan. Perbedaan keduanya sangat tipis. Namun maknanya begitu dalam.

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, telepon dari Alya berdering.

Suaranya terdengar ceria.

“Aku diterima.”

“Alhamdulillah.”

“Di tempat yang selama ini kuimpikan.”

Aku ikut tersenyum. Ia berkata lagi,

“Nurul…”

“Iya?”

“Aku baru mengerti.”

“Tentang apa?”

Selama beberapa detik ia terdiam. Lalu, “Selama ini aku marah kepada waktu. Padahal Allah sedang mempersiapkan diriku agar layak menerima waktu terbaik.”

Aku memejamkan mata. Tenggorokanku tercekat. Kalimat itu begitu sederhana. Namun terasa menenangkan. Terasa seperti jawaban atas begitu banyak kegelisahan.

Betapa sering yang dianggap keterlambatan ternyata merupakan perlindungan. Betapa sering pintu yang belum terbuka justru menyelamatkan dari jalan yang belum siap dilalui.

Allah melihat ujung perjalanan ketika kita baru memandang tikungan pertama. Allah mengetahui masa depan ketika kita masih sibuk menghitung hari. Maka, ketika Allah meminta kita menunggu, jangan buru-buru menganggap-Nya diam.

Boleh jadi Dia sedang menyusun kisah paling indah yang belum sanggup kita bayangkan.

Jika hari ini doa belum dikabulkan, jika pekerjaan impian belum datang, jika pasangan hidup belum dipertemukan, jika usaha belum memperlihatkan hasil, jangan terburu-buru berkata,

Baca juga:  Satu Event Satu Nagari, Pemko Payakumbuh Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari "Manjopuk Sumando" sebagai Wisata Edukasi Budaya

“Ya Allah, mengapa begitu lama?”

Karena boleh jadi, yang terasa lama di mata manusia adalah waktu terbaik menurut Allah.

Buah yang dipetik sebelum matang tidak menghadirkan rasa manis. Bunga yang dipaksa mekar akan cepat gugur. Padi yang dipanen terlalu dini tidak akan mengenyangkan.

Begitu pula kehidupan. Ada musim yang tidak boleh dipercepat. Ada pintu yang tidak boleh dibuka terlalu awal. Ada doa yang justru menjadi indah karena datang pada saat yang paling tepat.

Suatu hari nanti, ketika menoleh ke belakang, mungkin kita akan tersenyum sambil berbisik,

“Ya Allah… kini aku mengerti. Engkau tidak pernah terlambat. Engkau hanya sedang menyelamatkanku dari waktu yang belum tepat.”

Dan pada hari itu, hati akhirnya memahami bahwa penantian bukanlah hukuman. Penantian adalah ruang tempat Allah menguatkan iman, melatih kesabaran, meluruskan niat, dan mempersiapkan anugerah yang kelak akan diterima dengan penuh syukur.

Karena yang tampak lambat menurut hitungan manusia, sering kali merupakan jalan paling indah menurut rencana Allah. Maka, tetaplah berjalan. Tetaplah berdoa. Tetaplah percaya. Sebab pada akhirnya, semua akan indah pada waktunya.

Bogor, 4 Juli 2026

Penulis adalah Dosen IPB University Bogor, aktif menulis dan literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *