Tikus di Lambung Perahu

Oleh : Shintalya Azis*)

Perusahaan itu berdiri kokoh selama puluhan tahun. Dari luar, semuanya tampak mengagumkan. Gedungnya megah, laporan operasional lancar, dan penghargaan berjejer di dinding lobi.

Namun tidak semua keretakan selalu tampak dari permukaan. Ibarat sebuah perahu besar yang tidak takut pada ombak, tetapi justru karam karena kebocoran yang dibiarkan.

Ketika satu per satu keputusan aneh mulai bermunculan. Seorang kerabat petinggi diangkat menjadi kepala divisi, meskipun kerjanya belum seberapa. Seorang sahabat lama komisaris dipercaya memimpin proyek bernilai miliaran rupiah tanpa melalui proses seleksi yang layak. Mereka lebih pandai membangun kedekatan daripada membangun kompetensi.

Baca juga:  Inside me: Ketika Rumah Menjadi Awal Godaan

Dalam rapat, tak ada lagi keberanian menyampaikan pendapat yang berbeda. Orang-orang yang kritis perlahan dipinggirkan. Yang tersisa hanyalah mereka yang dibungkam sehingga mengangguk manis.

Akibatnya mulai terasa. Pengadaan dilakukan tergesa-gesa. Risiko diabaikan. Laporan dimanipulasi agar terlihat baik-baik saja. Vendor dipilih bukan karena kualitas, melainkan karena kedekatan dan rekomendasi seseorang.

“Yang penting masih sesuai prosedur. Tidak masalah.”
“Yang penting orang kita.”

Kalimat-kalimat itu terdengar semakin biasa, seolah tidak lagi mengandung bahaya.

Tsukushi menarik napas panjang.
Ia teringat ucapan gurunya bertahun-tahun lalu.
“Bangunan besar jarang runtuh karena angin pertama. Ia roboh karena fondasinya yang dibuat rapuh.”

Baca juga:  Obituari: Muhammad Ibrahim Ilyas, Penyair yang Telah Menemukan Jalan Pulang

Beberapa bulan kemudian, proyek utama gagal. Kerugian membengkak. Kepercayaan mitra menghilang. Para pemimpin sibuk mencari kambing hitam.
Mereka menyalahkan kondisi ekonomi.
Menyalahkan pesaing.
Menyalahkan keadaan.
Padahal penyebabnya sudah lama hidup bersama mereka.
Bukan badai di luar.
Melainkan tikus-tikus yang diam-diam menggerogoti lambung perahu dari dalam.

Kini Tsukushi benar-benar memahami maknanya. Organisasi tidak selalu dihancurkan oleh musuh yang datang dari luar. Lebih sering runtuh karena membiarkan kolusi sebagai suatu jalan keluar sehingga menjadi kebiasaan dalam suatu solusi.

Korupsi diterima sebagai bagian dari budaya, hal yang biasa bagian dari tata krama.

Saat jabatan diberikan bukan kepada yang paling mampu, melainkan kepada yang paling dekat, keputusan pun kehilangan kualitasnya. Integritas perlahan menghilang.

Baca juga:  Pojok Baca Rakyat, Inisiatif Mahasiswa KKN UIN Bukittinggi Menumbuhkan Budaya Literasi di Jorong Puduang

Ketika kebocoran kecil terus diabaikan, sebesar apa pun perahu itu dibangun, pada akhirnya ia akan tenggelam oleh air yang dibiarkan masuk dari dalam dirinya sendiri.(*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day32 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *