Tas yang Aku Bawa ke Sekolah

Cerpen : Ello Putra Alfino*)

Di sudut meja belajar yang selalu tampak berantakan, tetapi terasa hangat, ada satu benda yang tak pernah absen menemaniku setiap pagi. Bukan mainan kesayanganku, bukan pula buku harian yang kusimpan di bawah bantal, melainkan sebuah tas ransel berwarna biru dongker yang kini mulai memudar di bagian sudut-sudutnya.

Tas itu bukan tas mahal bermerek yang dipajang di etalase toko perlengkapan sekolah, juga bukan model terbaru yang banyak digunakan teman-temanku.

Namun, bagiku, tas ini jauh lebih berharga daripada sekadar barang. Ia adalah teman setia, penjaga rahasia, saksi bisu perjalanan belajarku, sekaligus bagian yang tak terpisahkan dari keseharianku.

Ello Putra Alfino. (foto; ist)

Aku masih ingat saat pertama kali tas itu menjadi milikku. Tepat setahun yang lalu, menjelang tahun ajaran baru, Ayah membelikannya sebagai hadiah sederhana.

Sambil tersenyum, Ayah berkata, “Gunakan baik-baik, Nak. Tas ini akan menemanimu menimba ilmu dan membawamu menemukan banyak hal baru di sekolah.”

Sejak saat itu, kata-kata Ayah selalu terngiang setiap kali aku menyentuh permukaan tas yang terasa agak kasar, tetapi sangat kuat. Jahitannya rapi, resletingnya masih berfungsi dengan baik meski kadang sedikit macet saat isi tas terlalu penuh. Tali bahunya lebar sehingga nyaman dipakai meskipun harus menanggung beban buku sepanjang hari. Di sisi kanan dan kirinya terdapat kantong kecil untuk menyimpan botol minum dan payung lipat, karena cuaca di Bukittinggi sering berubah tanpa diduga.

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, aku selalu merapikan isi tas. Mungkin bagi orang lain kegiatan itu terasa membosankan, tetapi bagiku justru menjadi awal untuk menyusun rencana hari itu. Aku membuka resletingnya lebar-lebar, lalu memasukkan buku pelajaran sesuai jadwal, buku tulis, dan tugas yang telah kuselesaikan semalam.

BACA JUGA :  Masih Ada Hari Ini

Di kantong kecil bagian dalam tersimpan kotak pensil yang berisi pulpen, pensil, penghapus yang mulai menipis, penggaris yang sedikit retak di ujungnya, kartu pelajar, serta uang saku yang kusimpan agar tidak tercecer. Sementara di bagian paling bawah biasanya terselip tisu, topi sekolah, atau secarik catatan tugas yang kutulis terburu-buru.

Tas ini tidak hanya menyimpan perlengkapan sekolah, tetapi juga berbagai kenangan. Di dalamnya pernah kuselipkan foto keluargaku agar saat rasa rindu datang di sekolah, aku bisa melihatnya sejenak dan kembali bersemangat. Kadang ada pula benda-benda sederhana yang kusimpan karena memiliki cerita, seperti daun kering yang bentuknya unik, batu kecil dari halaman sekolah, atau kartu ucapan ulang tahun dari sahabatku, Sari.

Selama berada di sekolah, tas itu selalu berada di dekatku. Ia tergantung di sandaran kursi atau terletak rapi di samping meja. Saat jam istirahat, aku memang meninggalkannya di kelas, tetapi sebelum pergi aku selalu memastikan resletingnya telah tertutup rapat.

Suatu hari, ketika hujan turun sangat deras saat jam pulang sekolah, aku berlari menuju gerbang sambil memeluk tas erat-erat. Aku terpeleset di jalan yang licin hingga terjatuh. Lututku lecet dan seragamku basah kuyup.

BACA JUGA :  Masih Ada Hari Ini

Namun, saat kubuka tas itu di rumah, semua buku dan tugasku tetap kering. Saat itulah aku semakin menyadari bahwa tas sederhana ini seolah selalu menjagaku, menyimpan semua yang berharga agar tetap aman.

Ada kalanya tas ini terasa sangat berat hingga meninggalkan bekas di bahuku, terutama saat jadwal pelajaran padat atau musim ujian tiba. Namun, beban itu tidak pernah membuatku mengeluh. Justru setiap buku yang kubawa terasa seperti langkah kecil untuk mendekatkan diri pada cita-citaku.

Tentu saja, tas ini juga pernah mengalami masa-masa sulit. Ia pernah terjatuh ketika aku terburu-buru mengejar bel masuk sekolah hingga bagian bawahnya penuh debu. Pernah pula tersenggol teman saat jam istirahat sehingga seluruh isinya berhamburan di lantai kantin.

Dengan wajah memerah karena malu, aku memungut buku dan alat tulis satu per satu. Sejak saat itu aku belajar untuk lebih berhati-hati menjaga barang-barang milikku.

Di mata teman-temanku, tas ini mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagiku, ia seolah memiliki jiwa. Ia diam mendengarkan keluh kesahku saat tugas menumpuk, menemani kesendirianku ketika duduk sendiri saat istirahat, dan seakan ikut merasakan kegembiraanku ketika memperoleh nilai yang memuaskan.

Karena itulah aku selalu berusaha merawatnya. Setiap akhir pekan aku mengeluarkan seluruh isi tas, membuang kertas-kertas yang sudah tidak diperlukan, membersihkan bagian luarnya dengan kain lembap, lalu memeriksa apakah ada jahitan yang mulai longgar agar segera diperbaiki.

Sore hari sepulang sekolah, aku selalu meletakkan tas itu di meja belajar. Beban di pundakku memang hilang, tetapi cerita hari itu seolah masih tersimpan di dalamnya bersama buku-buku dan alat tulisku. Kadang aku membayangkan, jika tas ini dapat berbicara, tentu ia memiliki begitu banyak kisah tentang ruang kelas, guru-guru yang sabar, teman-teman yang penuh canda, hingga perjalanan pulang pergi yang kulewati setiap hari.

BACA JUGA :  Masih Ada Hari Ini

Aku tahu, suatu saat nanti tas ini akan usang dan digantikan oleh tas yang baru. Namun, tas biru dongker ini tidak akan pernah kubuang begitu saja. Aku akan menyimpannya di sudut lemari sebagai kenang-kenangan masa sekolahku. Ia akan selalu mengingatkanku bahwa perjalanan meraih cita-cita dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dijalani dengan sungguh-sungguh.

Bagiku, tas yang kubawa ke sekolah bukan sekadar tempat menyimpan buku dan alat tulis. Ia adalah lambang perjuangan, harapan, dan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Setiap kali memanggulnya, aku merasa membawa doa dan harapan mereka di pundakku. Karena itu, aku akan terus belajar, berusaha, dan melangkah maju menuju masa depan dengan penuh semangat. []

Ello Putra Alfino adalah siswa kelas VII.3 SMP Negeri 2 Bukittinggi yang berdomisili di Tangah Jua, Gunung Durian No. 70. Ia memiliki hobi bermain futsal dan bercita-cita menjadi seorang polisi. Melalui semangat belajar, berolahraga, dan berkarya, Ello berharap dapat meraih cita-citanya serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *