Mengenang Jasa KMS

Oleh: Prof. Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.Si*)

Ada masa ketika anak-anak sekolah menyalurkan bakat menulis melalui mading sekolah. Jika tidak ada mading, diary menjadi tempat paling aman untuk menuangkan cerita, gagasan, kegelisahan, dan khayalan. Belum ada gawai, media sosial, apalagi tombol delete yang bisa dengan mudah menghapus kesalahan tulisan.

Pada masa itulah, sekitar dekade 1980-an hingga awal 1990-an, Koran Masuk Sekolah (KMS) suplemen Suratkabar Harian Singgalang yang terbit sekali sepekan setiap hari Selasa, selalu hadir dan memberikan warna tersendiri bagi anak-anak muda Sumatera Barat.

Bagi kami, KMS bukan sekadar koran yang ditunggu untuk membaca cerpen, karikatur, maupun tulisan anak-anak sekolah. KMS menjadi ruang belajar. Di sana, bakat menulis dan jurnalistik mendapat tempat untuk tumbuh.

KMS yang dikelola Harian Singgalang ketika itu menjadi semacam “sekolah” bagi anak-anak muda yang memiliki minat menulis. Para wartawan senior dengan tulus membimbing, memberi masukan, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya generasi penulis dan jurnalis muda Sumatera Barat.

Ternyata, dari ruang sederhana itu lahir banyak nama yang kemudian tumbuh menjadi penulis, jurnalis, akademisi, birokrat, politisi, guru, dan berbagai profesi lainnya.

Kenangan tentang KMS kembali hadir ketika saya berbincang dengan Eko Muhardi (EM) dalam sebuah pertemuan di UIN Bukittinggi beberapa hari lalu. Sebagai sesama “anak KMS”, kami seolah kembali ke masa ketika sebuah tulisan yang berhasil dimuat di koran menjadi kebanggaan yang luar biasa.

BACA JUGA :  Semarak HUT ke-81 RI, Wali Kota Solok Anjangsana ke Lapas dan RSUD Serambi Madinah

EM mengenang bagaimana KMS telah menyulut semangat jurnalistiknya. Kini ia menjadi Pemimpin Umum FOKUS Sumbar, namun semangat menulis yang tumbuh sejak menjadi bagian dari KMS masih terus dibawanya.

Bagi generasi kami, melihat nama sendiri tercetak di halaman koran memberikan kepuasan yang sulit dijelaskan. Bukan semata karena nama kita muncul di media, tetapi karena gagasan yang selama ini hanya berada dalam pikiran akhirnya menjelma menjadi sebuah karya dan dibaca orang lain.

KMS juga bukan hanya tempat berlaga dengan tulisan. Ia menjadi ruang perjumpaan anak-anak muda yang memiliki kegemaran yang sama. Kami belajar merangkai kata, membaca realitas, menyampaikan gagasan, mengasah keberanian, sekaligus membangun kepekaan terhadap lingkungan sosial.

Dari sana tumbuh jejaring persahabatan dan pertukaran pikiran. Penulis muda bertemu dengan penulis senior. Anak-anak sekolah mengenal dunia jurnalistik lebih dekat. Diam-diam, KMS telah menjadi komunitas kecil yang membuat banyak anak muda “kecanduan” menulis.

Saya sendiri mungkin hanya memberikan sedikit goresan di halaman KMS. Namun, jejak kecil itu telah menyulut semangat menulis yang luar biasa. KMS memapah saya untuk terus berani mengirimkan tulisan ke media sekaligus mempertemukan saya dengan banyak sahabat dalam dunia jurnalistik.

Di antara nama-nama yang saya kenang melalui KMS ada Eko Muhardi, Yusrizal KW, Syofiardi Bachyul JB, Yusnaldi, Himetri Yardi, Budi Putra, Efi Yandri, Rudi Rusli, Rinaldo, Yurnaldi, M.Isa Gautama, Maifil Eka Putra, Amrizal Rengganis, Desraniarty, Rini F. Jamrah, dan masih banyak lagi.

BACA JUGA :  Sekda Medison Saksikan Tumbang Chipping Peremajaan Sawit Rakyat III di KUD Lubuk Karya

Mohon maaf jika tidak semua nama dapat disebutkan. Yang pasti, banyak penulis hebat lahir dari ruang kecil bernama KMS.

Tak bisa pula dilupakan peran wartawan senior seperti Gusfen Khairul yang ikut membimbing generasi muda ketika itu. Begitu juga peran strategis Harian Singgalang dalam merangkul anak-anak muda untuk menulis dan mengenal jurnalistik.

Saya masih mengenang sosok H.Basril Djabar, pendiri Harian Singgalang, ketika menghadiri pertemuan penulis KMS di kantor Harian Singgalang di Jalan Veteran. Kehadirannya kala itu menjadi penyemangat bagi kami yang masih muda dan sedang belajar menulis.

Kini, para alumni KMS telah menjalani kehidupan dan profesinya masing-masing. Ada yang menjadi akademisi, jurnalis, birokrat, politisi, penulis, guru, dan berbagai profesi lainnya.

Namun, pengalaman menjadi bagian dari KMS tentu tidak hilang begitu saja. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam membangun keberanian berpendapat, memahami persoalan sosial, berinteraksi di ruang publik, serta membangun kepercayaan diri.

Dalam perspektif Pierre Bourdieu, pengalaman semacam ini dapat dilihat sebagai proses akumulasi cultural capital atau modal budaya yang ikut membentuk perjalanan seseorang.

BACA JUGA :  Irfan Hadi Faturrahman Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Koto Tangah, Iqra Chissa : Pengurus Terpilih Mesti Solid Besarkan Golkar

KMS mungkin hanya hadir dalam waktu yang relatif singkat. Tetapi jejaknya panjang. Ia meninggalkan kenangan, persahabatan, pengalaman, dan semangat literasi yang terus dibawa para alumninya.

Dan yang paling menarik, semangat itu ternyata tidak berhenti pada masa lalu. Jejaring dan tradisi menulis yang pernah tumbuh di KMS masih terus dirawat oleh sebagian alumninya, termasuk melalui ruang-ruang media yang kini mereka bangun.

Maka, ketika EM berulang kali mengenang KMS dalam perbincangan kami, saya pun kembali menyadari: KMS bukan hanya tentang koran dan tulisan anak sekolah. KMS adalah bagian dari sejarah kecil perjalanan anak-anak muda Sumatera Barat dalam menemukan dirinya sebagai penulis, jurnalis, pemikir, dan warga yang peka terhadap zamannya.

Selamat mengenang KMS.

Semoga jejak kecil yang pernah ditanamnya terus tumbuh menjadi pohon literasi yang memberi teduh bagi generasi berikutnya. []

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *