PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Tidak semua perjalanan anak muda dimulai dari panggung besar. Sebagian justru tumbuh dari hal-hal sederhana: keberanian untuk menulis, kemauan untuk berbicara, dan kesediaan untuk mengambil tanggung jawab. Dari proses itulah Faaiz Naufal Syahputra membangun perjalanannya, mempertemukan dunia literasi, pariwisata, kepemudaan, hingga kepemimpinan mahasiswa.
Faaiz Naufal Syahputra lahir di Kota Bekasi pada 16 Maret 2005. Ia memiliki darah Minangkabau dari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat , latar budaya yang menjadi salah satu bagian dari identitas dirinya.
Kini, Faaiz merupakan mahasiswa Program Studi S1 Pariwisata Universitas Negeri Padang (UNP). Di tengah aktivitas akademiknya, ia aktif mengembangkan diri melalui dunia kepenulisan, literasi, public speaking, organisasi mahasiswa, serta berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata dan kepemudaan.
Perjalanan tersebut tidak terbentuk dalam waktu singkat. Sebelum dikenal melalui aktivitas organisasi dan kepemimpinan mahasiswa, Faaiz lebih dahulu menemukan ruang ekspresinya melalui tulisan.
Berawal dari Keberanian Menulis
Dunia literasi menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Faaiz. Sejak masih duduk di bangku sekolah, ia mulai mengenal puisi dan esai. Menulis kemudian berkembang menjadi ruang baginya untuk menyampaikan gagasan dan melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dukungan orang tua, guru dan lingkungan di sekitarnya turut mendorong Faaiz untuk terus mengembangkan kemampuan tersebut. Dari proses itu, ia menghasilkan berbagai karya, mulai dari puisi hingga tulisan yang mengangkat tema sosial, budaya, pendidikan, dan pariwisata.
Perjalanannya dalam dunia kepenulisan kemudian membawanya memperoleh predikat “Penulis Nasional” melalui program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional yang diselenggarakan GMB-Indonesia pada 2020. Ia juga terlibat dalam sejumlah karya antologi esai dan program Akademisi Menulis Buku.
Bagi Faaiz, menulis bukan hanya tentang menghasilkan sebuah karya. Tulisan menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pemikiran sekaligus melatih keberanian untuk bersuara.
Sejumlah karyanya kemudian dipublikasikan melalui media massa. Salah satunya tulisan mengenai Ekowisata Desa Matotonan di Pulau Siberut , yang membahas potensi alam, budaya, masyarakat, serta tantangan pengembangan ekowisata.
Dari sini, ketertarikannya terhadap dunia literasi mulai bertemu dengan bidang yang kemudian dipilihnya di perguruan tinggi.
Pariwisata sebagai Cara Melihat Dunia
Memilih bidang Pariwisata di Universitas Negeri Padang membuat ruang berpikir Faaiz semakin berkembang.
Baginya, pariwisata tidak semata-mata berkaitan dengan perjalanan dan destinasi. Di dalamnya terdapat persoalan masyarakat, kebudayaan, lingkungan, ekonomi lokal, hingga bagaimana sebuah kawasan dapat dikembangkan tanpa kehilangan karakter dan keberlanjutannya.
Ketertarikan tersebut terlihat dari gagasannya mengenai ekowisata dan pariwisata berkelanjutan. Tulisan mengenai Desa Matotonan menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan yang diperoleh dalam bidang pariwisata kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan yang dapat diakses masyarakat.
Perpaduan antara literasi dan pariwisata perlahan membentuk perspektif Faaiz bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu mengomunikasikan gagasan kepada masyarakat.
Dari Menulis ke Berbicara
Perjalanan Faaiz kemudian berkembang dari tulisan menuju ruang berbicara.
Pada April 2026, ia menjadi pemateri dalam kegiatan literasi di SMKN 1 Payakumbuh. Dalam kegiatan tersebut, Faaiz mendorong para pelajar untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berani menyampaikan gagasan yang mereka miliki.
Menurutnya, generasi muda memiliki banyak ide dan potensi. Tantangannya adalah bagaimana mereka berani mengembangkan dan menyuarakan gagasan tersebut secara positif.
Pengalaman menjadi pemateri memberikan ruang baru bagi Faaiz. Jika sebelumnya gagasan disampaikan melalui tulisan, kini ia berhadapan langsung dengan pelajar dan belajar bagaimana sebuah pesan dapat diterima oleh orang lain.
Menulis dan berbicara akhirnya menjadi dua kemampuan yang saling melengkapi dalam perjalanan pengembangan dirinya.
Ketika Literasi Bertemu Kepemimpinan
Aktivitas organisasi menjadi ruang berikutnya yang memperluas pengalaman Faaiz.
Di lingkungan kampus, ia tidak hanya menjalani aktivitas akademik, tetapi juga mengambil tanggung jawab dalam organisasi kemahasiswaan. Pada 2026, Faaiz tercatat sebagai Ketua Umum BPM FPP KM UNP .
Posisi tersebut membawanya pada pengalaman yang berbeda. Kepemimpinan bukan hanya tentang menyampaikan gagasan, tetapi juga tentang mendengarkan aspirasi, membangun komunikasi, mengambil keputusan, bekerja bersama, dan mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.
Salah satu pengalaman yang memperluas perspektifnya adalah keterlibatan dalam Indonesia–Malaysia International Student Representative Forum 2026 , yang mempertemukan BPM FPP KM UNP dengan Jawatankuasa Perwakilan Pelajar Politeknik Muadzam Shah, Malaysia.
Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai organisasi kemahasiswaan, fungsi representasi mahasiswa, mekanisme kerja, serta pola penyampaian aspirasi.
Bagi Faaiz, pengalaman lintas negara tersebut bukan hanya mengenai pertemuan antarmahasiswa. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi kesempatan untuk belajar memahami cara mahasiswa dari lingkungan berbeda menjalankan organisasi dan membangun kolaborasi.
Pengabdian Tidak Harus Dimulai dari Hal Besar
Jika melihat perjalanan Faaiz secara keseluruhan, terdapat satu benang merah yang menghubungkan berbagai aktivitas yang dilakukannya.
Literasi mengajarkannya untuk berpikir dan menyampaikan gagasan.
Pariwisata memperluas pandangannya terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan.
Public speaking mengajarkannya untuk berkomunikasi dan berbagi pengetahuan .
Organisasi mengajarkannya mengenai tanggung jawab dan kepemimpinan .
Sementara pengalaman di forum internasional mempertemukannya dengan perspektif dan pengalaman baru .
Berbagai ruang tersebut kemudian menjadi bagian dari proses Faaiz dalam menemukan bentuk kontribusi yang ingin dilakukannya sebagai anak muda.
Menjadi Muda dengan Gagasan
Di tengah generasi yang tumbuh dalam derasnya arus informasi, Faaiz memilih untuk tidak hanya menjadi penonton.
Ia menulis ketika memiliki gagasan.
Ia berbicara ketika memiliki sesuatu yang perlu disampaikan.
Ia belajar ketika bertemu dengan pengalaman baru.
Dan ketika diberikan kepercayaan untuk memimpin, ia mencoba menjadikannya sebagai ruang untuk belajar sekaligus memberikan kontribusi.
Perjalanan Faaiz juga menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari sebuah jabatan. Kepemimpinan dapat tumbuh dari keberanian mengambil tanggung jawab, kemampuan mendengarkan orang lain, serta kemauan untuk terus belajar.
Pada akhirnya, kisah Faaiz Naufal Syahputra bukan semata tentang seorang mahasiswa yang aktif menulis, berbicara, atau berorganisasi.
Lebih dari itu, kisah tersebut menggambarkan proses seorang anak muda dalam menemukan ruang pengabdiannya sendiri.
Dari pena, ia belajar menyampaikan pikiran.
Dari literasi, ia belajar memahami suara.
Dari pariwisata, ia belajar melihat hubungan manusia, budaya, dan lingkungan.
Dari organisasi, ia belajar tentang tanggung jawab.
Dan dari berbagai perjumpaan, ia belajar bahwa kontribusi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Sebab bagi generasi muda, perubahan dapat dimulai dari keberanian sederhana: berani berpikir, berani berkarya, berani berbicara, dan berani mengambil tanggung jawab. (**)






