Tingkatkan Kesadaran Remaja Terhadap Pencegahan DBD, Tim Pengabdian Poltekkes Kemenkes Padang Gelar Edukasi dan Pendampingan Pemantauan Vektor di SMA Negeri 15 Padang

Poltekkes Kemenkes Padang melakukan pengabdian masyarakat dengan menggelar Edukasi dan Pendampingan Pemantauan Vektor di SMA Negeri 15 Padang yang dipimpin tim dosen terdiri Dr. Aidil Onasis, SKM., M.Kes., Evino Sugriarta, SKM., M.Kes., dan Dr. Wijayantono, SKM., M.Kes., bersama mitra PKM Puskesmas Pauh yang dikoordinasi oleh Evi Susanti, STr. Kes, serta dukungan mahasiswa Andi Shahia Fitri Nabila, Annisa Ramadhani, dan Gesvahrel Hardi. (foto; ist)

PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes sp., ini dapat menyerang berbagai kelompok usia, termasuk remaja sekolah. Oleh karena itu, upaya pencegahan melalui peningkatan pengetahuan dan keterlibatan masyarakat menjadi langkah penting dalam memutus rantai penularan penyakit.

Sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung pengendalian DBD, tim dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Padang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pendampingan dalam Pemantauan Pengendalian Vektor Penular Penyakit Demam Berdarah bagi Siswa di Kota Padang melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi” pada Sabtu, 13 Juni 2026, di SMA Negeri 15 Kota Padang.

Kegiatan ini dipimpin oleh tim dosen yang terdiri atas Dr. Aidil Onasis, SKM., M.Kes., Evino Sugriarta, SKM., M.Kes., dan Dr. Wijayantono, SKM., M.Kes., dengan Mitra PKM Puskesmas Pauh yang dikoordinasi oleh Evi Susanti, STr. Kes serta dukungan mahasiswa Andi Shahia Fitri Nabila, Annisa Ramadhani, dan Gesvahrel Hardi. Kegiatan diikuti oleh siswa SMA Negeri 15 Padang yang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian edukasi dan praktik lapangan.

BACA JUGA :  Universitas Ekasakti Gelar Pengabdian Masyarakat di Nagari Manggopoh, Dorong Hilirisasi Kelapa hingga Pemasaran Digital

Sebelum penyampaian materi, para peserta terlebih dahulu mengikuti kuis interaktif menggunakan platform Kahoot. Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan awal siswa mengenai penyakit DBD, karakteristik nyamuk Aedes sp., serta berbagai upaya pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan rumah dan sekolah. Penggunaan Kahoot memberikan suasana belajar yang lebih menyenangkan sekaligus meningkatkan keterlibatan peserta selama kegiatan berlangsung.

Dalam sesi edukasi, tim pengabdian menyampaikan berbagai materi penting terkait pengendalian vektor DBD. Siswa diperkenalkan pada konsep Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penyimpanan air, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, serta melakukan berbagai tindakan pencegahan tambahan untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk.

Tidak hanya memahami teori, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai berbagai wadah yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, seperti bak mandi, ember, talang air, ban bekas, pot tanaman, tempat minum hewan peliharaan, hingga barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.

BACA JUGA :  Mahasiswa UIN Bukittinggi Raih Juara Ekspo KKN Nusantara Lewat Inovasi Ekoteologi

Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan siswa terhadap sumber-sumber perindukan nyamuk yang sering luput dari perhatian.

Salah satu sesi yang paling menarik adalah praktik pemantauan vektor. Dalam sesi ini, siswa memperoleh pendampingan mengenai teknik pengamatan dan koleksi jentik nyamuk serta pengenalan metode koleksi nyamuk dewasa yang umum digunakan dalam kegiatan surveilans vektor.

Melalui praktik langsung tersebut, peserta dapat memahami pentingnya pemantauan keberadaan jentik dan nyamuk dewasa sebagai indikator risiko penularan DBD di suatu wilayah.

Setelah seluruh materi dan praktik selesai dilaksanakan, peserta kembali mengikuti kuis menggunakan Kahoot sebagai evaluasi akhir. Kegiatan post-test ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa setelah menerima edukasi. Suasana kompetitif yang tercipta selama kuis berlangsung membuat peserta semakin bersemangat untuk menjawab pertanyaan dan mengingat kembali materi yang telah diberikan.

Kegiatan pengabdian ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa mengenai DBD, tetapi juga mendorong terbentuknya perilaku peduli lingkungan dan kebiasaan melakukan pemantauan sarang nyamuk secara mandiri. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, siswa diharapkan dapat menjadi pelopor kesehatan lingkungan serta agen perubahan yang mampu menyebarluaskan informasi pencegahan DBD kepada keluarga dan masyarakat sekitar.

BACA JUGA :  Universitas Adzkia Go International, Jajaki Kolaborasi Strategis dengan Prince of Songkla University Thailand

Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah, upaya pengendalian vektor DBD dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Edukasi sejak usia remaja menjadi investasi penting dalam membangun generasi yang sadar kesehatan dan aktif berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas dari penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. (rls)

Respon (3)

  1. “luar biasa kepada tim pengabdian Poltekkes Kemenkes Padang. saya meyakini bahwa perubahan perilaku masyarakat dimulai dari edukasi yang tepat dan berkelanjutan. Membekali siswa dengan pengetahuan serta keterampilan untuk mengenali tempat perindukan nyamuk dan memantau vektor merupakan investasi jangka panjang dalam upaya pengendalian DBD. Kegiatan seperti ini tidak hanya meningkatkan kesadaran remaja, tetapi juga mendorong mereka menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Semoga program pengabdian seperti ini terus berlanjut, memberikan dampak nyata, dan menjadi inspirasi bagi sekolah maupun daerah lainnya dalam mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan bebas DBD.”

  2. lebih diperbanyak lagi kegiatan kegiatan seperti ini, agar siswa juga dapat berperan aktif dalam meningkatkan derajst kesehatan masyarakat, terkhusus dalam menekan angka kejadian DBD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *