Oleh: Nurul Jannah*)
Ketika Mimpi-Mimpi Menemukan Rumahnya
Pagi itu, Bandung terasa berbeda.
Udara sejuk berembus pelan di antara pepohonan tua yang mengelilingi kawasan Asia Afrika. Matahari belum terlalu tinggi ketika satu per satu peserta mulai memasuki Hotel Savoy Homann, bangunan bersejarah yang telah menyaksikan begitu banyak peristiwa penting bangsa ini.
Namun hari itu, sejarah yang sedang ditulis bukan sejarah politik. Bukan pula sejarah para pemimpin negara.
Hari itu, sejarah sedang ditulis oleh dua puluh satu hati yang datang membawa mimpi, harapan dan keberanian untuk menata masa depannya kembali.
Mereka melangkah menuju sebuah ruangan bernama Jasmine Room.*
Ruangan itu tidak besar. Tidak pula mewah berlebihan.
Namun di ruangan itulah banyak mimpi diberi ruang untuk tumbuh, banyak hati menemukan keberanian baru, dan banyak kehidupan mulai menuliskan bab berikutnya.
Hari Sabtu, 30 Mei 2026. Hari itu bukan hanya pertemuan anggota komunitas. Hari itu adalah Milad ke-2 Nulis Jadi Duit (NJD).
Dua tahun perjalanan yang telah mempertemukan banyak kehidupan melalui tulisan.
Mereka datang dari berbagai kota. Mulai dari Jakarta, Bogor, Depok, Bandung, Tangerang Selatan, Banten hingga Garut.
Mereka juga datang dari berbagai profesi. Mulai dari dosen, pengusaha, praktisi pendidikan, pegiat sosial, mentor, talent mapping hingga praktisi hukum.
Latar belakang mereka berbeda, jalan hidup mereka berbeda, tapi pagi itu, mereka dipersatukan oleh satu hal yang sama; kecintaan pada belajar, menulis dan bertumbuh.
Pagi itu tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah.
Yang hadir bukan jabatan. Bukan profesi. Bukan juga gelar.
Yang hadir adalah mimpi.
***
Tepat pukul sembilan pagi, Teh Indari Mastuti, sang Founder yang selama dua tahun terakhir telah membersamai begitu banyak perjalanan anggota NJD., membuka acara.
Lalu melontarkan satu pertanyaan yang membuat ruangan mendadak hening.
“Jika Allah masih memberi umur sampai tahun 2036, kehidupan seperti apa yang ingin teman-teman jalani?”
Tidak ada yang langsung menjawab. Sebagian menatap jurnal di hadapannya. Sebagian menatap kosong ke depan. Sebagian lagi tersenyum kecil.
Dan beberapa lainnya mulai menundukkan kepala. Karena ternyata membayangkan sepuluh tahun ke depan jauh lebih sulit daripada mengenang sepuluh tahun yang telah berlalu.
Hari itu kami tidak sedang membuat daftar target. Kami sedang menulis arah kehidupan.
Peserta diajak melihat kembali perjalanan sepuluh tahun ke belakang.
Tentang mimpi yang berhasil dicapai.Tentang harapan yang pernah kandas.Tentang luka yang membentuk ketangguhan. Tentang kegagalan yang ternyata mengajarkan pelajaran paling berharga.
Lalu perlahan menatap sepuluh tahun yang akan datang.
Life Goals.
Spiritual Goals.
Relationship Goals.
Financial Goals.
Career Goals.
Legacy and Impact.
Satu per satu dituliskan.
Bukan dengan tergesa-gesa.
Melainkan dengan kejujuran yang lahir dari pengalaman hidup.
Di setiap buku peserta, peta mimpi mulai terisi.
Impian-impian dituliskan di buku besar, satu demi satu. Doa. Harapan. Cita-cita. Dan seluruh mimpi yang ingin diwujudkan sebelum tahun 2036.
Ada yang ingin menulis puluhan buku. Ada yang ingin mendirikan sekolah, Rumah Sakit, Panti Jompo. Ada yang ingin membangun gerakan sosial. Ada yang ingin memperbanyak amal jariyah. Ada yang ingin hidup lebih dekat kepada Allah. Ada yang ingin membahagiakan keluarga.
Dari semua yang tertulis, ada satu makna terdalam yang bisa ditarik, yaitu “Menjadi manusia yang lebih bermanfaat.”
Karena pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup akan bermuara pada satu pertanyaan: manfaat apa yang telah kita tinggalkan untuk orang lain?
Menjelang siang, suasana berubah lebih hangat. Talkshow dimulai. Dipandu langsung oleh Teh Indari.
Tiga narasumber berbagi perjalanan hidup. Ibu Ari sebagai Ketua Komunitas NJD, Ibu Munasri, sebagai pendakwah Global dan saya sendiri sebagai Dosen.
Tidak ada jarak antara pembicara dan peserta. Yang terjadi adalah percakapan yang mengalir dari hati ke hati. Tentang keberanian memulai. Tentang kegagalan. Tentang jatuh bangun. Tentang bagaimana mimpi sering datang ketika usia tidak lagi muda.
Teh Indari melontarkan satu kalimat sederhana, apa makna kata beyond bagi ibu-ibu?
Pertanyaan itu merujuk pada salah satu buku yang dilaunching sore harinya, Beyond The Profession.
Ruangan kembali hening.
Lalu Ketiga Narasumber menjelaskan, merespon yang benang merahnya sama.
“Bahwa kehidupan tidak berhenti pada profesi yang kita jalani”.
“Bahwa manusia jauh lebih luas daripada kartu nama yang disandangnya”.
“Dan bahwa selama Allah masih memberi kesempatan hidup hari ini, selalu ada ruang untuk bertumbuh, berkarya dan memberi manfaat.”
Kalimat itu terasa indah. Karena sesungguhnya, banyak hati merasa sedang dipeluk.
Selepas makan siang, energi baru memenuhi ruangan. Peserta dibagi menjadi empat kelompok.
Tugasnya tidak biasa. Bukan membuat tulisan. Bukan juga membuat buku. Melainkan merancang program nyata yang akan dijalankan selama satu tahun ke depan.
Diskusi berlangsung hangat.
Ide demi ide bermunculan.
Ada yang mengusulkan gerakan literasi. Ada yang merancang program pemberdayaan masyarakat. Ada yang menyusun kegiatan pendidikan. Ada yang menyiapkan program dakwah berbasis komunitas pesantren
Yang menarik, tidak ada yang berjalan sendiri.
Di meja-meja diskusi itu, pengalaman saling bertemu dan gagasan saling menyambung.
Perbedaan tidak menciptakan jarak, tetapi justru melahirkan kekuatan.
Semua bergerak menuju satu tujuan yang sama; memberikan manfaat yang lebih luas.
Menjelang sore, acara memasuki salah satu momen yang paling mengharukan. Soft Launching empat buku.
Satu per satu penulis dipanggil ke depan. Wajah-wajah bahagia tidak bisa disembunyikan.
Karena setiap buku selalu lahir dari perjuangan yang panjang. Dari waktu yang dicuri di sela kesibukan. Dari keraguan yang berhasil ditaklukkan. Dari air mata yang pernah jatuh selama proses penulisan.
Salah satu buku yang diluncurkan hari itu adalah Beyond The Profession.
Buku yang mengingatkan bahwa hidup tidak hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga tentang nilai yang kita perjuangkan dan jejak yang ingin kita tinggalkan.
Tanpa terasa, jarum jam mendekati pukul lima sore. Acara segera berakhir.
Namun jauh di dalam hati, semua memahami bahwa yang dibawa pulang hari itu bukan hanya rekaman kegiatan. Bukan hanya buku.Bukan pula jurnal yang telah terisi penuh.
Yang dibawa pulang adalah keberanian.
Keberanian untuk bermimpi lebih besar. Keberanian untuk melangkah lebih jauh. Keberanian untuk menulis masa depan dengan lebih jelas.
Hari itu bukan hanya perayaan ulang tahun komunitas. Hari itu adalah perayaan harapan. Perayaan persahabatan. Perayaan mimpi-mimpi yang menolak menyerah.
Dan di Jasmine Room, pada tanggal 30 Mei 2026, dua puluh satu hati kembali diingatkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari langkah raksasa.
Perubahan besar lahir dari keberanian kecil yang dilakukan setiap hari.
Keberanian untuk belajar. Keberanian untuk menulis. Keberanian untuk berbagi. Keberanian untuk bertumbuh.
Karena dari sanalah lahir buku-buku yang menginspirasi. Dari sanalah lahir persahabatan yang menguatkan.
Dari sanalah lahir karya-karya yang memberi manfaat.
Dan dari sanalah lahir kehidupan-kehidupan yang menemukan arah baru.
Milad ke-2 NJD akhirnya bukan hanya tentang usia sebuah komunitas.
Ia adalah kisah tentang mimpi-mimpi yang diberi ruang untuk tumbuh, lalu menemukan jalannya menuju kenyataan.
Dan ketika pintu Jasmine Room ditutup sore itu, setiap hati pulang membawa lebih dari sekadar kenangan. Mereka pulang membawa peta hidup sepuluh tahun ke depan; ditulis dengan tangan, dirancang dengan kesadaran, dan disertai doa yang diam-diam dipanjatkan ke langit.đź’–
Jakarta, 31 Mei 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




