BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM – Di balik wajah kota yang terus berbenah dan geliat pembangunan yang kian terasa, masih ada sudut-sudut permukiman yang menyimpan cerita berbeda. Di RT 07/RW 01 Kelurahan Campago Ipuh, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS), warga setiap hari harus berdamai dengan jalan lingkungan yang rusak, licin, dan dipenuhi genangan air.
Bagi sebagian orang, jalan mungkin hanya sekadar sarana penghubung. Namun bagi warga Campago Ipuh, jalan itu adalah nadi kehidupan. Jalur yang menghubungkan rumah dengan sekolah, tempat kerja, pasar, hingga fasilitas umum lainnya. Sayangnya, kondisi jalan yang ada kini justru menghadirkan rasa waswas setiap kali dilalui.
Saat hujan turun, genangan air menutupi badan jalan. Lumut yang tumbuh di permukaan membuat jalan menjadi licin dan rawan kecelakaan. Anak-anak sekolah yang melintas setiap pagi, pengendara sepeda motor, hingga warga lanjut usia menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi kondisi tersebut.
“Kerusakan jalan semakin parah dan belum tersentuh perbaikan, meskipun keluhan telah berulang kali disampaikan oleh masyarakat dan pengguna jalan,” ungkap Hendri, salah seorang warga yang merasakan langsung dampak persoalan itu.
Masalah yang dihadapi ternyata bukan hanya soal jalan rusak. Di balik genangan yang muncul, terdapat persoalan drainase yang selama ini belum tertangani secara optimal. Sedimentasi pada saluran air membuat aliran tidak lancar sehingga air mudah meluap ke kawasan permukiman.
Kondisi itu menjadi semakin rumit karena wilayah tersebut juga berfungsi sebagai jalur aliran air dari daerah yang lebih tinggi. Bahkan ketika hujan tidak mengguyur Kota Bukittinggi, kiriman air dari wilayah Kabupaten Agam tetap dapat mengalir ke kawasan tersebut dan memicu genangan.
Sedikitnya 52 kepala keluarga harus merasakan dampaknya setiap kali air meluap. Bukan hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan dan kesehatan lingkungan.
Melihat kondisi itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Bukittinggi, Yundri Refno Putra, bersama Kepala Dinas Perkim Isra Yonza, lurah serta jajaran terkait turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi yang sebenarnya.
Peninjauan tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan yang selama ini dikeluhkan warga mulai mendapat perhatian serius. Yundri menegaskan, perbaikan jalan dan pengerukan sedimentasi riol harus menjadi langkah prioritas agar persoalan tidak terus berulang.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak hanya berbicara tentang proyek besar yang terlihat megah, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar masyarakat yang sehari-hari bergantung pada akses lingkungan yang aman dan layak.
“Komisi III akan mengarahkan pengawasan dan dukungan terhadap program unggulan pemerintah di sektor infrastruktur, penanganan banjir, dan sistem drainase,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar perbaikan segera dilakukan, meskipun dimulai dari pekerjaan berskala kecil sembari menunggu program yang lebih besar melalui APBD maupun pemeliharaan rutin.
Pesan itu sederhana namun penting, yakni jangan menunggu kerusakan semakin parah untuk bertindak.
Kini, harapan warga Campago Ipuh bertumpu pada tindak lanjut nyata. Sebab bagi mereka, jalan lingkungan bukan sekadar bentangan beton atau aspal yang menghubungkan satu titik ke titik lainnya. Jalan adalah akses menuju pendidikan, sumber penghidupan, pelayanan publik, dan ruang tumbuh bagi masyarakat.
Di tengah upaya menjadikan Bukittinggi sebagai kota yang maju dan nyaman, suara dari gang-gang permukiman seperti di Campago Ipuh menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati dimulai dari kebutuhan paling mendasar masyarakat. Dan terkadang, ukuran keberhasilan sebuah kota dapat dilihat dari satu hal sederhana: apakah warganya bisa pulang dan pergi dengan aman di jalan lingkungan mereka sendiri. (alexjr)




