Novel Mini : Nurul Jannah*)
“Ada cinta yang tidak sempat menjadi rumah, karena lebih dulu dijadikan alat oleh zaman.”
Kabut Fort de Kock, 1926
Kabut selalu turun lebih dulu daripada senja di Fort de Kock.
Ia datang pelan, menyelimuti jalan batu, atap rumah gadang, dapur umum, dan tubuh-tubuh pekerja yang pulang dengan mata kosong.
Dari jauh, kota itu tampak tenang. Teratur. Hampir indah. Namun Nani tahu, keindahan kadang hanya cara paling rapi untuk menyembunyikan luka.
Di dapur umum, ia mengocok teh talua setiap hari. Telur, gula, teh panas, buih putih. Orang-orang menyebutnya minuman penguat. Nani menyebutnya minuman pelipur lara. Cara paling halus menelan tangis.
Para pekerja datang dengan tubuh berdebu, napas pendek, dan tangan yang mulai kehilangan tenaga. Mereka membangun menara jam yang kelak akan disebut megah. Namun hari itu, di mata Nani, menara itu belum menjadi kebanggaan.
Ia masih tampak seperti bangunan yang tumbuh dari lapar orang kecil.
Siang itu, Arga datang membawa telur kampung dari pasar.
“Untuk campuran menara,” katanya pelan.
Nani menatap keranjang itu lama.
“Menara itu minum telur kita seperti minum darah.”
Arga tidak tertawa.
Ia hanya menatap Nani dengan mata yang menyimpan banyak hal: letih, takut, dan rasa yang terlalu berbahaya untuk disebut cinta.
Gula yang Diselipkan
Cinta mereka tidak lahir dari kata-kata besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil.
Arga selalu menyelipkan sedikit gula lebih banyak untuk teh talua Nani.
Nani selalu menyimpan sepotong pinyaram untuk Arga. Tidak ada janji. Tidak ada pengakuan. Hanya dua orang muda yang saling menjaga di dunia yang terlalu keras untuk memberi ruang bagi kelembutan.
“Ni,” kata Arga suatu malam, suaranya lebih pelan dari asap dapur, “kalau suatu hari aku tidak datang, kau jangan lupa makan.”
Nani menatapnya tajam.
“Jangan bicara seperti orang yang sudah tahu cara mati.”
Arga tersenyum tipis.
“Di kota ini, Ni, orang tidak perlu tahu cara mati. Cukup salah bicara, lalu hilang.”
Malam itu Nani membuatkan satu gelas teh talua untuk Arga.
Bukan untuk pekerja.
Bukan untuk pejabat.
Bukan untuk menara.
Untuk Arga.
Dan ketika Arga memegang gelas itu, Nani melihat seorang lelaki yang ingin pulang, tetapi tidak tahu apakah dunia masih menyisakan jalan.
Nama yang Dihapus
Suatu malam, Arga datang membawa kertas-kertas kecil.
“Nani, simpan ini.”
“Apa ini?”
“Nama.”
Nani membuka lipatan itu. Di sana tertulis nama-nama pekerja: yang jatuh dari perancah, yang dipukul mandor, yang hilang setelah dibawa pergi, yang tidak pernah kembali ke dapur untuk meminta jatah makan.
Tangan Nani gemetar.
“Untuk apa kau tulis semua ini?”
Arga menatap pintu.
“Agar kelak orang tidak hanya memotret menara. Agar mereka tahu ada tubuh-tubuh yang dibayar murah, ada nama yang dikubur, ada ibu yang menunggu anaknya pulang.”
Nani memegang kertas itu seperti memegang bara.
“Kalau ketahuan?”
Arga tersenyum getir.
“Kalau aku diam, aku sudah mati lebih dulu.”
Di luar, palu menghantam batu.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Belum ada menara jam. Namun waktu sudah belajar menghitung korban.
Pengkhianatan
Pagi berikutnya, Clark van Basten datang ke dapur dengan sepatu mengkilap dan wajah yang rapi.
Ia menatap Nani. Lalu menatap Arga.
“Dia informan,” kata Clark.
Dunia Nani seakan berhenti.
Nani menoleh ke arah Arga.
“Benar?”
Arga menunduk.
“Pernah.”
Satu kata itu cukup untuk merobohkan semua hal kecil yang selama ini Nani simpan. Gula tambahan, pinyaram, tatapan hangat, serta teh talua malam itu.
Semuanya mendadak tampak seperti jebakan.
“Jadi selama ini kau mendekat untuk memata-matai?”
“Ni, dengarkan aku.”
“Cinta macam apa yang lahir dari kebohongan?”
Arga menatapnya dengan mata yang penuh api dan abu.
“Cinta yang lahir dari dunia yang tidak memberi kita pilihan bersih.”
Nani menangis, tapi tidak bersuara.
Tangisnya jatuh ke dalam tubuhnya sendiri.
Teh Terakhir
Malam itu Arga ditangkap. Bukan karena ia informan.
Tetapi karena ia mulai menulis kebenaran.
Mandor menyeretnya dari dapur. Serdadu memegang kedua lengannya. Nani berusaha mendekat, tetapi Arga menggeleng.
“Jangan, Ni. Kalau kau ikut, catatan itu mati.”
Nani berdiri terpaku. Sebelum dibawa pergi, Arga sempat mendekatkan wajahnya.
“Adikku sudah mati sebulan lalu,” bisiknya.
“Mereka membuatku percaya bahwa kalau aku patuh, namanya akan dibersihkan. Aku bodoh, Ni. Aku terlalu ingin menyelamatkan yang sudah tidak bisa diselamatkan.”
Nani membeku. Arga tersenyum tipis. Wajahnya nampak sangat lelah.
“Lalu aku bertemu kau. Dan untuk pertama kali, aku ingin berhenti menjadi alat.”
Kabut menelan punggungnya.
Sejak malam itu, Nani tidak pernah lagi melihat Arga.
Keesokan paginya, Nani datang ke bawah menara. Ia membawa satu gelas teh talua.
Para pekerja berhenti. Mandor berteriak. Namun Nani tidak menoleh.
Ia berdiri di kaki fondasi menara, membuka lipatan kertas, lalu membaca nama-nama itu satu per satu.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat kepala-kepala yang selama ini tertunduk mulai terangkat.
“Nama mereka tidak boleh hilang,” katanya.
Mandor mendekat. Nani menuang teh talua itu ke tanah.
Perlahan.
Buihnya pecah di atas debu.
“Ini teh talua terakhir untuk kebisuan.”
Angin lewat. Kabut bergerak. Di kejauhan, palu kembali menghantam batu.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Belum ada menara jam. Namun Nani tahu, suatu hari nanti, ketika menara itu berdiri dan orang-orang datang memotret wajahnya, tidak semua akan mendengar hal yang sama.
Sebagian akan mendengar waktu.
Sebagian akan mendengar sejarah.
Dan Nani, ia akan selalu mendengar langkah Arga yang pergi ke dalam kabut tanpa pernah kembali.
Bertahun-tahun kemudian, menara itu berdiri tegak.
Orang-orang datang.
Berfoto.
Tertawa.
Menunjuk angka-angka jam yang tinggi. Tidak ada yang bertanya tentang dapur umum.
Tidak ada yang mencari nama pekerja. Tidak ada yang tahu pernah ada segelas teh talua dituangkan ke tanah, di kaki bangunan itu, oleh seorang perempuan yang mencintai lelaki yang salah. Atau mungkin mencintai lelaki yang terlalu benar untuk zaman yang keliru.
Nani sudah tua ketika terakhir kali lewat di sana.
Ia tidak menangis. Ia hanya berhenti sebentar, menatap puncak menara,
Jam berdentang.
Sekali.
Lalu angin bergerak pelan.
Di telinga orang-orang, itu hanya bunyi waktu. Di dada Nani, itu tetap suara Arga yang belum selesai meminta maaf.
Bogor, 28 April 2026🌹
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




