BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM – Ruang kelas masa depan tidak sedang kekurangan kecerdasan buatan, melainkan sedang mempertaruhkan kemanusiaannya. Di tengah gelombang digitalisasi yang kian deras, institusi pendidikan kini dihadapkan pada ujian terbesar: menjaga agar teknologi tetap menjadi alat, bukan penentu arah peradaban.
Substansi tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional The 4th International Minang Literacy Festival (IMLF-4) / Festival Literasi Minangkabau ke-4 bertajuk “Opportunities and Challenge for Teachers in the AI Era” di Bukittinggi, Sabtu (6/6/2026).
Diskusi global yang dinamis ini dipandu oleh Dr. Irwandi, akademisi UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi sekaligus penggiat literasi falsafah Minangkabau. Melalui kepemimpinan diskusinya, Dr. Irwandi berhasil merajut berbagai pemikiran kritis lintas negara menjadi sebuah konklusi utuh yang terbagi ke dalam lima dimensi krusial.
Jurnalis dan penulis asal Perth, Australia, Mai White, mengawali bedah gagasan dengan reminding posisi purba teknologi. Dalam makalahnya, Integrating AI into Learning: Strategies and Challenge, ia menegaskan AI sejatinya hanyalah alat bantu.
Namun, efektivitas alat ini menuntut hadirnya dimensi kebijakan pemerintah yang konkret guna memastikan aksesibilitas teknologi. Tanpa pemerataan fasilitas, kehadiran AI justru berpotensi memperlebar jurang ketimpangan sosial di tengah masyarakat.
Tantangan sosial tersebut dipertegas oleh Prof. Lisa Kuitert dari Universitas Amsterdam melalui kacamata historis. Berbicara tentang evolusi literasi dari era kolonial hingga Generasi Z, Kuitert mengingatkan bahaya budaya instan digital.
“Meski kini zaman digital, generasi Z tetap harus didorong untuk mendatangi perpustakaan, membaca, dan menulis secara konvensional,” katanya. Refleksi ini menunjukkan bahwa ketajaman berpikir hanya dapat dirawat melalui ketekunan literasi fisik.
Keterbatasan mekanis AI dikuliti lebih mendalam dari sudut pandang kultural oleh Lucilla Trapazono, penulis dan penerjemah asal Swiss.
Menurut dia, teknologi secerdas apa pun hanya mampu menerjemahkan teks kata demi kata secara matematis. AI tidak memiliki kedalaman rasa untuk menangkap metafora, emosi, ataupun memahami nuansa kebudayaan yang melatari bahasa manusia.
Keterbatasan bahasa mesin itu bertaut erat dengan proyeksi masa depan yang disampaikan Dr. Ganjar Harimansyah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Ia memetakan peran guru dalam merawat bahasa manusia di era kecerdasan buatan. Sejauh mana pun AI menguasai data, komunikasi antarmanusia yang persuasif, empatik, dan kontekstual tetap menjadi domain mutlak yang tidak termaafkan jika hilang dari ruang kelas.
Sebagai puncak konklusi yang mengunci seluruh jalannya seminar, Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani membedah dimensi psikologis yang menjadi benteng terakhir dunia pendidikan, yakni resiliensi mental guru. Di tengah kecemasan global akan hilangnya berbagai profesi, Silfia meniupkan optimisme peneguh jiwa.
“Guru jangan pernah merasa terpinggirkan oleh kehadiran AI. Mesin itu tidak memiliki rasa dan tidak akan pernah mampu membina akhlak anak didik,” ujarnya lugas.
Keterkaitan multidimensi ini diamini oleh Sekretaris Panitia IMLF-4, Armaidi Tanjung. Ia menekankan bahwa rekomendasi dari forum ini harus mewujud dalam gerakan literasi yang membumi.
“Seminar ini bukan sekadar panggung akademik, melainkan alarm bagi kita semua. Tantangan lima dimensi yang dirumuskan di sini harus dijawab dengan kesiapan konkret di lapangan agar guru-guru kita tidak gagap, namun juga tidak kehilangan jati diri di hadapan mesin pintar,” kata Armaidi.
Seminar internasional ini akhirnya berhasil merumuskan cetak biru peta jalan pendidikan masa depan. Menghadapi era AI, dunia guru harus diperkuat melalui lima jangkar utama: dimensi kebijakan pemerintah, dimensi kompetensi guru, dimensi sosial, dimensi budaya, serta dimensi psikologis. Pada akhirnya, IMLF-4 menegaskan satu pesan penting: di puncak tertinggi modernitas teknologis, esensi sejati pendidikan tetaplah sentuhan batin antar-manusia. (rls)




